Kasus Main Hakim Sendiri di Baturiti, Gubernur Koster Minta Masyarakat Kedepankan Kemanusiaan
Gubernur Koster Apresiasi Wisatawan Dunia, Ajak Perkuat Pelestarian Bali Lewat Pungutan Wisatawan Asing/ balikonten
DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Gubernur Bali Wayan Koster menyoroti kasus pengeroyokan di Baturiti, Kabupaten Tabanan, yang menyebabkan seorang pria berinisial KD meninggal dunia. Hal tersebut disampaikan Koster dalam konferensi pers usai Rapat Koordinasi bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi Bali di Gedung Kertha Sabha, Jaya Sabha, Denpasar, Selasa (28/7/2026). Rapat tersebut turut dihadiri Kapolda Bali Irjen Pol Daniel Adityajaya dan seluruh jajaran Forkopimda Provinsi Bali.
Kasus pengeroyokan tersebut terjadi pada Jumat (24/7/2026) dini hari di Banjar Dinas Juwuk Legi, Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Tabanan. Korban KD dilaporkan meninggal dunia setelah diduga dikeroyok warga yang mengamankannya karena diduga mencuri ayam.
Gubernur Koster menegaskan bahwa tindakan main hakim sendiri tidak boleh terjadi, apa pun latar belakang persoalannya. Ia meminta masyarakat mengedepankan kemanusiaan dan menyerahkan penanganan dugaan tindak pidana kepada aparat penegak hukum.
“Seperti yang di Baturiti, itu sudah diproses oleh Pak Kapolda. Ada lima orang yang sudah diproses,” ujar Koster.
Sebagai upaya pencegahan, Koster berencana berkoordinasi dengan kepala desa dan desa adat untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat agar penguatan keamanan dan ketertiban dimulai dari lingkungan desa.
“Saya akan berbicara dengan kepala desa dan desa adat untuk memberi pemahaman kepada warganya untuk tidak lagi melakukan tindakan serupa,” katanya.
Ketika ditanya mengenai upaya pemerintah dalam mencegah munculnya kembali persoalan serupa, terutama yang dikaitkan dengan kondisi ekonomi masyarakat di Desa Sidetapa, Koster menegaskan bahwa persoalan tersebut tidak bisa hanya dibebankan kepada satu wilayah. Menurutnya, terdapat sejumlah desa yang menghadapi persoalan sosial dan ekonomi sehingga penyelesaiannya membutuhkan sinergi antara Pemerintah Provinsi Bali, pemerintah kabupaten/kota, hingga pemerintahan desa.
“Kalau soal ekonomi tidak hanya Sidetapa, tetapi semua. Upaya pemerintah tentu di sini sudah melakukan koordinasi dengan kabupaten/kota, harus menyelesaikan ini dengan upaya bersama. Kalau kaitannya dengan bantuan, ini sudah ditangani,” jelasnya.
Penanganan persoalan keamanan di tingkat lokal ini dinilai tidak cukup hanya melalui pendekatan hukum, tetapi pemerintah juga perlu memperkuat pemberdayaan masyarakat dan penanganan persoalan sosial-ekonomi agar potensi konflik dan kriminalitas dapat ditekan dari tingkat paling bawah.
“Kita semua harus menjaga situasi di masing-masing desa, tidak perlu terlalu reaktif. Walaupun melakukan tindakan pencurian, kemanusiaan harus kita utamakan,” tegas Koster.
Sementara itu, Kapolda Bali Irjen Pol Daniel Adityajaya memastikan kasus pengeroyokan di Baturiti masih terus ditangani kepolisian. Dalam perkembangan penyidikan, kepolisian telah menetapkan lima orang sebagai tersangka. Polisi juga masih mengumpulkan alat bukti, memeriksa sejumlah saksi, serta melakukan proses ekshumasi terhadap jenazah korban untuk membantu memastikan penyebab kematian dan mengungkap secara utuh rangkaian peristiwa tersebut.
“Sekarang sudah di tangani polisi, sudah lima orang diamankan polisi dan bisa berkembang. Jadi kita mencari dan mengumpulkan bukti untuk membuktikan bahwa perbuatan pengeroyokan yang menyebabkan meninggal dunia itu,” ujar Daniel.
Kasus ini sekaligus menjadi pengingat bahwa dugaan tindak pidana harus diselesaikan melalui jalur hukum. Pemerintah Provinsi Bali bersama Forkopimda mendorong masyarakat untuk menjaga keamanan dan ketertiban di lingkungan masing-masing, memperkuat koordinasi di tingkat desa dan desa adat, serta mengedepankan pendekatan kemanusiaan. Bagi pemerintah daerah, menjaga Bali tetap aman dan kondusif dilakukan melalui penegakan hukum maupun pencegahan konflik sejak dini lewat penguatan masyarakat, komunikasi yang baik, dan penyelesaian persoalan sosial secara bersama-sama.
***


