Keseruan Jantra Tradisi Bali di PKB XLVIII, Badung Dominasi Lomba Hari Pertama

DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Semangat melestarikan warisan budaya leluhur bergelora di Lapangan Timur Monumen Perjuangan Rakyat Bali, Renon, Denpasar, pada Kamis (2/7). Ratusan pelajar SMP dari berbagai kabupaten/kota se-Bali tampak antusias memadati arena untuk mengikuti lomba olahraga tradisional dalam ajang Jantra Tradisi Bali, yang menjadi bagian dari rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026.
Kepala Bidang Tradisi Warisan Budaya Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, I Putu Sutaryana, menjelaskan bahwa Jantra Tradisi Bali tahun ini mengusung semangat tema PKB XLVIII, yaitu Atma Kerthi: Jiwa Sidha Parisudha, yang dimaknai sebagai upaya memurnikan jiwa melalui pelestarian budaya.
“Permainan tradisional bukan sekadar olahraga, tetapi juga membentuk karakter, melatih keseimbangan, keberanian, disiplin, hingga kerja sama. Melalui Jantra Tradisi Bali kami ingin generasi muda kembali mengenal dan mencintai warisan budaya yang mulai ditinggalkan,” ujarnya.
Menurut Sutaryana, dipilihnya cabang Matajog dan Terompah merupakan bagian dari langkah nyata untuk menghidupkan kembali permainan tradisional yang kini semakin jarang dimainkan oleh masyarakat modern. Pelestarian budaya, lanjutnya, tidak hanya bertumpu pada seni pertunjukan, melainkan juga dengan menghidupkan kembali permainan rakyat dalam kehidupan sehari-hari.
Para peserta yang bertanding merupakan hasil seleksi ketat dari sembilan kabupaten/kota di Bali, dengan kekuatan sekitar 50 peserta di setiap nomor pertandingan. Kendati demikian, belum semua daerah mampu berpartisipasi penuh di seluruh cabang perlombaan.
“Dari sembilan kabupaten/kota, ada beberapa yang belum bisa mengirimkan peserta di seluruh nomor lomba. Kendala utamanya memang anggaran,” kata Sutaryana.
Pada hari pertama perlombaan, Kabupaten Badung mendominasi dengan meraih Juara I pada nomor Terompah Putri dan Matajog Putra. Kota Denpasar menjadi juara kedua di kedua nomor tersebut, sedangkan Kabupaten Buleleng meraih Juara III Terompah Putri dan Kabupaten Tabanan menempati posisi ketiga Matajog Putra.
Selain perlombaan yang kompetitif, Jantra Tradisi Bali juga menyuguhkan demonstrasi permainan rakyat Kelik-Kelikan dari Desa Sulahan, Kecamatan Susut, Kabupaten Bangli. Permainan ini dipentaskan secara apik oleh Komunitas Sanggar Seni Suradiva Tampaksiring lewat sajian seni meplalianan (bermain) dan bobondresan (lawakan) anak-anak yang mengangkat legenda lahirnya permainan tersebut.
Pembina Komunitas Sanggar Seni Suradiva, I Ketut Gede Agus Adi Saputra, memaparkan bahwa pertunjukan ini bertujuan menggali kembali sejarah permainan Kelik-Kelikan. Permainan ini lahir dari kisah perjuangan masyarakat Desa Sulahan di masa lampau saat menghadapi bencana kekeringan dan harus berebut sumber air dengan kawanan burung kekelik.
“Melalui pementasan ini kami ingin mengenalkan kembali permainan rakyat yang sarat nilai sejarah dan budaya kepada generasi muda,” ujarnya.
***


