Kuliner Jajanan Tradisional Bali: Cita Rasa Warisan Pulau Dewata, Jangan Lupa Mencoba!
Jajanan tradisional Bali, atau yang sering disebut jaje Bali, adalah jajanan tradisional khas Bali.

kuliner halal di Denpasar yang wajib di kunjungi/ triadvisor/ balikonten
DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Bali, yang kerap dijuluki Pulau Dewata, bukan hanya memanjakan mata dengan panorama alamnya yang memesona atau budayanya yang kaya.
Pulau ini juga menyuguhkan petualangan kuliner yang tak kalah menggoda, terutama melalui jajanan tradisionalnya yang sarat akan cita rasa dan makna budaya. Jajanan tradisional Bali, atau yang sering disebut jaje Bali, adalah jajanan tradisional khas Bali.
Dari pasar tradisional hingga pinggir jalan, cemilan-cemilan ini menawarkan perpaduan rasa manis, gurih, dan kenyal yang mampu memikat lidah siapa saja, baik warga lokal maupun wisatawan.
1. Jaje Laklak
Salah satu jajanan tradisional Bali yang paling laris dan banyak peminatnya adalah jaje laklak. Sekilas bentuknya seperti serabi Jawa, tapi kue ini memiliki kekhasan tersendiri. Terbuat dari tepung beras, santan, dan air daun suji atau pandan untuk warna hijau alami, laklak dimasak menggunakan cetakan tanah liat di atas tungku kayu bakar. Proses tradisional ini memberikan aroma khas yang sulit ditolak. Setelah matang, laklak disajikan dengan siraman gula merah cair dan taburan kelapa parut, menciptakan harmoni rasa manis dan gurih yang lembut di dalam, namun renyah di luar.
Laklak bukan sekadar camilan, kue ini sering hadir dalam upacara adat Hindu di Bali, seperti pernikahan atau potong gigi, sebagai simbol kebersamaan dan kelezatan sederhana. Kamu bisa menemukan laklak di pasar tradisional seperti Pasar Ubud atau Pasar Badung, atau di warung-warung kecil di kawasan Sanur. Harganya pun ramah di kantong, biasanya hanya sekitar Rp5.000 hingga Rp10.000 per porsi, menjadikannya camilan sempurna untuk dinikmati sambil menyeruput kopi Bali di sore hari.
2. Klepon Bali
Siapa yang tak kenal klepon? Jajanan tradisional Bali ini adalah bola-bola ketan hijau yang diisi dengan gula merah cair, lalu ditaburi kelapa parut. Berbeda dengan klepon di daerah lain, klepon Bali memiliki tekstur yang lebih kenyal dan sering kali berbentuk sedikit lonjong. Proses pembuatannya menggunakan pewarna alami dari daun pandan atau suji, memberikan aroma harum yang menggoda. Satu gigitan, dan gula merah cair di dalamnya akan lumer di mulut, menciptakan sensasi manis yang sempurna.
Klepon Bali mudah ditemukan di pasar tradisional seperti Pasar Sukawati atau di pinggir jalan, terutama pada pagi hari. Jajanan ini sering disajikan sebagai hidangan pembuka dalam upacara keagamaan, menambah makna spiritual pada kelezatannya. Untuk menikmati klepon secara autentik, cobalah memakannya utuh agar gula merahnya tidak tumpah. Harga klepon biasanya sangat terjangkau, sekitar Rp2.000 hingga Rp5.000 per buah, menjadikannya pilihan camilan yang hemat namun nikmat.
3. Sumping Waluh
Jika kamu penggemar jajanan yang lembut dan legit, sumping waluh wajib masuk daftar. Jajanan ini terbuat dari tepung beras, santan, dan labu kuning yang diiris tipis atau diparut, lalu dibungkus dalam daun pisang dan dikukus. Aroma labu kuning yang harum berpadu dengan manisnya gula merah dan gurihnya kelapa parut, menciptakan cita rasa yang sederhana namun mengesankan. Tekstur sumping yang lumer di mulut membuatnya sering disebut sebagai comfort food ala Bali.
Sumping waluh sering ditemukan di pasar tradisional pada pagi hari, tetapi sayangnya, jajanan ini tidak tahan lama hanya bertahan sehari karena bahan-bahannya alami. Itulah mengapa sumping lebih cocok dinikmati langsung di tempat ketimbang dibawa sebagai oleh-oleh. Kamu bisa menemukannya di Pasar Sindhu atau warung-warung kecil di Denpasar dengan harga mulai dari Rp3.000 per buah. Nikmati sumping waluh bersama teh hangat untuk pengalaman kuliner yang hangat dan nostalgik.
4. Jaje Cerorot
Pernah melihat kue mungil berbentuk kerucut yang dibuat dari daun janur? Itulah jaje cerorot, jajanan tradisional Bali yang tak hanya lezat tetapi juga menarik secara visual. Terbuat dari tepung beras, santan, dan gula merah, cerorot memiliki tekstur kenyal dengan rasa manis yang khas. Bentuknya yang unik menyerupai terompet kecil membuatnya sering disukai anak-anak dan menjadi hidangan wajib dalam upacara adat, seperti pernikahan atau Galungan.
Cerorot biasanya dijual di pasar tradisional atau oleh pedagang kaki lima di Bali. Harganya sangat terjangkau, sekitar Rp2.000 hingga Rp5.000 per buah. Untuk pengalaman yang lebih beragam, coba datangi pasar malam seperti Pasar Kreneng di Denpasar. Di sana, kamu dapat menjumpai cerorot dan aneka jajanan tradisional lain sambil merasakan semarak suasana malam khas Bali.
5. Pisang Rai
Jajanan tradisional Bali lainnya yang tak boleh dilewatkan adalah pisang rai. Berbeda dengan pisang goreng atau nagasari, pisang rai dibuat dari pisang kepok yang dibalut adonan tepung beras beraroma pandan, kemudian direbus hingga matang. Setelah itu, pisang digulingkan di kelapa parut yang telah dikukus dengan sedikit garam, memberikan perpaduan rasa manis dan gurih yang seimbang.
Pisang rai sering dijual di pasar tradisional seperti Pasar Badung atau Pasar Ubud dengan harga sekitar Rp5.000 hingga Rp10.000 per porsi. Jajanan ini cocok dinikmati sebagai sarapan ringan atau camilan sore. Keunikan pisang rai terletak pada proses memasaknya yang sederhana namun menghasilkan tekstur lembut dan aroma yang menggugah selera.
Mengapa Jajanan Tradisional Bali Begitu Istimewa?
Jajanan tradisional Bali bukan sekadar makanan, tetapi juga cerminan budaya dan tradisi. Banyak dari jajanan ini digunakan dalam upacara adat, seperti Galungan atau pernikahan, sebagai simbol doa dan kebersamaan.
Bahan-bahan alami seperti tepung beras, ketan, gula merah, dan kelapa parut mencerminkan kearifan lokal dalam memanfaatkan hasil bumi. Selain itu, proses memasak yang masih tradisional, seperti menggunakan tungku kayu bakar atau daun pisang yang menambah nilai autentik pada setiap gigitan.
Di tengah gempuran kuliner modern, jajanan tradisional Bali tetap bertahan berkat cinta masyarakat lokal dan wisatawan terhadap cita rasa autentik. Pasar tradisional seperti Pasar Ubud, Pasar Sukawati, dan Pasar Badung menjadi surga bagi pencinta kuliner yang ingin menjelajahi jaje Bali.
Beberapa kafe dan restoran di Bali juga mulai memasukkan jajanan ini ke dalam menu mereka, sering kali dengan sentuhan modern seperti topping cokelat atau keju untuk menarik generasi muda.
Tips Menikmati Jajanan Tradisional Bali
Untuk pengalaman kuliner yang maksimal, berikut beberapa tips:
- Kunjungi Pasar Tradisional Pagi Hari: Banyak jajanan seperti sumping waluh dan klepon tersedia di pasar tradisional pada pagi hari. Datanglah lebih awal untuk mendapatkan yang paling segar.
- Coba Workshop Kuliner: Beberapa tempat di Bali menawarkan kelas memasak jajanan tradisional, seperti di Pasar Ubud atau desa-desa wisata. Ini cara seru untuk memahami proses pembuatannya.
- Nikmati dengan Minuman Lokal: Padukan jajanan seperti laklak atau pisang rai dengan kopi Bali atau teh hangat untuk pengalaman yang lebih lengkap.
- Hormati Tradisi: Jika membeli jajanan untuk upacara adat, tanyakan kepada penjual tentang makna dan cara penyajiannya agar lebih menghargai budaya lokal.
Jajanan tradisional Bali adalah pintu masuk untuk memahami kekayaan budaya Pulau Dewata. Dari jaje laklak yang renyah hingga sumping waluh yang lembut, setiap camilan menceritakan kisah tentang tradisi, kearifan lokal, dan kelezatan sederhana yang abadi.
Saat berkunjung ke Bali, jangan hanya terpaku pada pantai atau pura; luangkan waktu untuk berburu jajanan di pasar tradisional atau warung pinggir jalan. Dengan harga yang terjangkau dan rasa yang tak terlupakan, jaje Bali akan membuat perjalananmu semakin berkesan.
***

