23/01/2026

Makna Sakral Tilem Kanem dalam Tradisi Hindu Bali: Pemujaan kepada Dewa Siwa dan Penyucian Diri

doa dan mantram hindu yang digunakan saat purnama tilem

ilustrasi banten/badungkab.go.id/balikonten

DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Tilem Kanem jatuh pada bulan keenam menurut kalender Bali atau sasih kanem. Hari suci ini sering dikaitkan dengan fenomena alam, karena saat bulan mati seperti Tilem, posisi matahari, bulan, dan bumi bisa sejajar sehingga memungkinkan terjadinya gerhana matahari.

Umat Hindu di Bali merayakan Tilem Kanem dengan pemujaan khusus pada malam hari. Ritual ini dilakukan tengah malam melalui yoga atau meditasi hening. Tujuannya membersihkan segala noda, dosa, dan kekotoran batin, sehingga pahalanya berupa penyucian diri secara mendalam.

Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana, Putu Eka Guna Yasa, menjelaskan bahwa pemujaan pada kegelapan atau Tilem secara tegas ditujukan kepada Dewa Siwa. Dalam teks Jnyana Sidantha disebutkan, di dalam matahari terdapat kesucian, di dalam kesucian ada Siwa, dan di dalam Siwa terdapat kegelapan yang paling gelap. Inilah alasan mengapa Tilem mendapat pemuliaan istimewa.

Putu Eka Guna Yasa juga menyebutkan keberadaan Pura Penileman di wilayah Bangli. Di pura ini, setiap Tilem umat melakukan pemujaan kepada Siwa. “Ada masyarakat yang meminta pengidep pati atau esensi taksu, yang jelas mengarah kepada Siwa. Bukti arkeologisnya berupa arca Dewa Gana, putra Siwa,” ujarnya.

Dalam tradisi Hindu Bali, yang dimuliakan bukan hanya cahaya terang seperti pada Purnama, melainkan juga kegelapan paling pekat pada Tilem. Pendekatan ini mencerminkan keseimbangan rwa bhineda, antara terang dan gelap.

Sementara itu, dalam buku Sekarura karya IBM Dharma Palguna pada halaman 9, disebutkan bahwa para Guru Kehidupan sekaligus Guru Kematian mengajarkan umat untuk menghormati kegelapan, sama seperti menghormati cahaya terang. Hormat terhadap Tilem atau bulan mati setara dengan hormat terhadap Purnama.

Lebih lanjut pada halaman 10, buku tersebut membela konsep kegelapan dengan ajakan dari Mpu Tan Akung. Kegelapan tidak perlu dihindari atau diusir dengan cahaya buatan. Umat justru diajak memasukinya, menyusupinya, meleburkan diri di dalamnya, atau memasukkan kegelapan itu ke dalam batin sendiri.

Pada hari Tilem, umat Hindu di Bali wajib membersihkan segala dosa, noda, dan kekotoran dari dalam diri. Petunjuk ini juga tertuang dalam lontar Sundarigama:

Mwang tka ning tilem, wenang mupuga lara roga wighna ring sarira, turakna wangi-wangi ring sanggar parhyangan, mwang ring luhur ing aturu, pujakna ring sanggar parhyangan, mwang ring luhur ing aturu, pujakna ring widyadari widyadara, sabhagyan pwa yanana wehana sasayut widyadari 1, minta nugraha ri kawyajnana ning saraja karya, ngastriyana ring pantaraning ratri, yoga meneng, phalanya lukat papa pataka letuh ning sarira.

Artinya: Pada saat Tilem, wajib menghilangkan segala bentuk dosa, noda, dan kekotoran dalam diri. Dengan menghaturkan wangi-wangian di sanggar atau di parahyangan, dan di atas tempat tidur, yang dipersembahkan kepada widyadari dan widyadara. Akan lebih baik jika mempersembahkan 1 buah sesayut widyadari untuk memohon anugerah agar terampil dalam melaksanakan segala aktivitas. Pemujaan dilakukan tengah malam dengan melakukan yoga, atau hening. Pahalanya adalah segala noda dan dosa yang ada dalam diri teruwat.

Tradisi Tilem Kanem mengajarkan umat Hindu Bali untuk merangkul kegelapan sebagai bagian dari kesucian Siwa. Ritual ini tidak hanya membersihkan batin, tapi juga menjaga harmoni antara terang dan gelap dalam kehidupan spiritual sehari-hari. Di tengah kalender Bali yang kaya makna, Tilem Kanem menjadi pengingat akan pentingnya introspeksi dan pemujaan kepada Dewa Siwa.

***

 

IKUTI KAMI DI GOOGLE NEWS UNTUK INFORMASI LEBIH UPDATE