Patung Charlie Chaplin Dinilai Perkuat Identitas Heritage Denpasar
Patung Charlie Chaplin Dinilai Perkuat Identitas Heritage Denpasar/ balikonten
DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Pemerintah Kota Denpasar merencanakan pembangunan patung komedian legendaris dunia, Charlie Chaplin, di kawasan Inna Bali Heritage Hotel, Jalan Veteran, Denpasar. Langkah ini dinilai strategis untuk menguatkan identitas kawasan heritage sekaligus menambah daya tarik sejarah Kota Denpasar.
Inna Bali Heritage Hotel memiliki keterkaitan historis langsung dengan tokoh dunia tersebut. Charlie Chaplin dicatat pernah berkunjung dan menginap di hotel tertua di Bali tersebut, bahkan sempat membuat film dokumenter tentang Tari Ketjak (Kecak).
Pengamat Tata Ruang dan Budaya Bali, Prof. Putu Rumawan Salain, menilai gagasan tersebut sangat tepat dan cemerlang karena berdasar pada nilai sejarah yang kuat.
“Penempatan patung Charlie Chaplin sangat relevan apabila berada di area Inna Bali Heritage Hotel, karena memiliki keterkaitan langsung dengan sejarah kunjungan tokoh dunia tersebut ke Bali,” ujar Prof. Rumawan.
Ia menjelaskan bahwa lokasi hotel ini berada dalam jalur Z-Zone—kawasan heritage yang membentang dari Puri Pemecutan, Jalan Gajah Mada, hingga Catur Muka.
Mengenai teknis pembangunan, Prof. Rumawan menekankan tiga aspek utama yang harus diperhatikan agar patung tidak berkesan berlebihan atau “norak”.
Pertama, Patung disarankan ditaruh di area publik yang mudah terlihat, seperti di depan lobby dekat coffee shop, di kawasan Inna Bali Heritage Hotel.
Kedua, Ukuran patung hendaknya proporsional dan tidak menyaingi struktur bangunan di sekitarnya. Cukup berupa patung dada (pedimen) dari kepala hingga bahu atau dada.
Ketiga, Patung sebaiknya dilengkapi dengan kode QR (barcode/kris) yang dapat dipindai pengunjung melalui ponsel untuk membaca sejarah dan kontribusi sang tokoh bagi Bali.
Selain Charlie Chaplin, tokoh dunia lain seperti Perdana Menteri India pertama, Jawaharlal Nehru, juga tercatat pernah menginap di hotel ini. Prof. Rumawan mengusulkan agar di depan lobby dibuatkan deretan patung tokoh-tokoh bersejarah tersebut.
Ia menambahkan, penokohan ini justru memperkuat outstanding universal value kawasan Denpasar di tingkat internasional. Lebih lanjut, Prof. Rumawan mendorong agar Inna Bali Heritage Hotel segera ditetapkan sebagai situs cagar budaya dan dikembangkan menjadi living museum. Museum hidup ini nantinya tidak hanya menampilkan patung, tetapi juga mural di dinding yang menceritakan peristiwa penting, termasuk kongres-kongres bersejarah pada masa peralihan kemerdekaan.
Pembangunan patung ini juga melengkapi jajaran penataan kawasan heritage Denpasar lainnya, seperti patung di kawasan Satria, Gajah Mada Barat, area Pecinan, patung kuda di dekat bank, Tugu jam peninggalan Waturenggong di Timur Laut Catur Muka, Monumen Puputan Badung, hingga Museum Bali.
“Potensi Denpasar sangat luar biasa. Penataan ini akan membuat kawasan heritage menjadi lebih mulia, indah, dan menarik perhatian wisatawan tanpa merusak keharmonisan suasana yang sudah ada,” tutup Prof. Rumawan.
***

