02/11/2026

Dorong Transisi Energi Bali, Rai Warsa Ingatkan Proyek PLTS Jangan Sekadar Jadi Showcase

Dorong Transisi Energi Bali, Rai Warsa Ingatkan Proyek PLTS Jangan Sekadar Jadi Showcase

Anggota Komisi III DPRD Bali, I Made Rai Warsa, S.Sos. (Sumber: ist/ balikonten)

DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Rencana Pemerintah melakukan transisi energi menuju sumber energi bersih di Bali mendapat perhatian khusus dari Anggota Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bali, I Made Rai Warsa, S.Sos.

Ia mengingatkan, pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), khususnya di Jembrana dan Buleleng, harus memberikan dampak nyata terhadap kemandirian dan ketahanan energi Bali, bukan sekadar menjadi proyek percontohan saja atau showcase alias seremonial.

Saat ditemui wartawan Bali Konten seusai Rapat Paripurna, Rai Warsa menjelaskan, arah kebijakan energi bersih merupakan langkah yang perlu didorong. Terlebih, Bali sebagai daerah pariwisata sangat bergantung pada citra lingkungan yang bersih serta ketersediaan energi yang stabil.

Ia juga sempat menyinggung soal pengalaman terganggunya pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Gas beberapa waktu lalu, kata dia, harus menjadi pembelajaran agar persoalan serupa tidak kembali terulang.

“Kan sudah ground breaking itu (PLTS Jembrana, red), itu bagus. Karena Bali sekarang, khususnya terkait BBM dan gas, sudah disampaikan juga sama Pak Gubernur. Memang seperti itu. Kejadian kemarin itu harus terakhir. Itu harus terakhir. Kita harus mandiri energi, ujarnya, Jumat (30/10/2026).

Lebih lanjut ia juga menilai, gangguan pasokan BBM sebelumnya yang terjadi di Bali, menjadi momentum untuk segera mempercepat langkah efisiensi sekaligus mengurangi ketergantungan Bali terhadap energi fosil, utamanya soal listrik.

“Bagi saya, itu force majeure. Untuk efisiensi energi, arah-arahnya memang harus ke sana, Bali ke depannya,” ungkapnya.

Selain itu, Rai Warsa juga menyoroti pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang sebelumnya telah menjadi bagian dari inisiatif Pemerintah Pusat dan Daerah, menurutnya, pembangunan energi surya harus diikuti perencanaan yang matang, termasuk memastikan kapasitas produksi, penyimpanan energi, serta distribusinya benar-benar mampu menopang kebutuhan masyarakat dan sektor pariwisata Bali.

“Lanjut lah, proyek PLTS di Jembrana dan Buleleng jangan berhenti pada seremoni peresmian (Ground Breaking, red) saja, tetapi ini harus berjalan. Menjadi bagian dari strategi jangka panjang mewujudkan Bali yang lebih mandiri dan efisien dalam pemenuhan energi,” tambahnya.

Sorotan lainnya adalah bagaimana memastikan penambahan kapasitas PLTS benar-benar diikuti pengurangan penggunaan pembangkit berbahan bakar fosil.

Menurutnya, transisi energi tidak cukup hanya dengan membangun pembangkit baru, sementara ketergantungan terhadap BBM masih dipertahankan.

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun tim redaksi, program PLTS Bali ditargetkan mencapai 1.000 MWp atau 1 GWp. Salah satu proyek utamanya berada di Gilimanuk, Jembrana, dengan kapasitas 300 MWp yang terintegrasi BESS sebesar 1.000 MWh. Proyek ini diproyeksikan mampu menghemat penggunaan BBM hingga 151 ribu kilo liter per tahun.

Mengakhiri sesi wawancaranya, Rai Warsa berharap pengembangan energi bersih di Bali tidak hanya menjadi proyek mercusuar, tetapi mampu menjawab persoalan mendasar ketahanan energi daerah.

***

Pewarta: Agung Rai Tri Krisna Putra

Editor: Redaksi

COPYRIGHT © balikonten.com 2026