03/11/2026

Rangkaian Rerainan Juni 2026: Panduan Lengkap Hari Suci Hindu Menuju Galungan dan Kuningan

doa dan mantram hindu yang digunakan saat purnama tilem

ilustrasi banten/badungkab.go.id/balikonten

DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Umat Hindu di Bali bersiap menyambut bulan suci yang padat dengan aktivitas spiritual pada Juni 2026. Bulan ini menjadi momen krusial karena bertepatan dengan perayaan besar, yaitu Hari Raya Galungan dan Hari Raya Kuningan. Rangkaian hari suci atau rerainan sepanjang bulan ini menjadi penuntun bagi umat untuk melakukan pembersihan diri secara lahir dan batin, sekaligus memperkuat benteng spiritual.

Berikut adalah kalender lengkap ritual dan makna filosofis dari setiap rerainan yang berlangsung selama Juni 2026.

Awal Persiapan dan Pembersihan Diri

  • 2 Juni 2026 – Anggar Kasih Julungwangi Hari suci ini juga populer dengan nama Anggar Kasih Penguduhan. Fokus utama ritual hari ini adalah memulai pembersihan fisik dan spiritual pada setiap parhyangan atau tempat suci. Aktivitas ini menjadi langkah awal dalam menyambut kedatangan Hari Raya Galungan.
  • 11 Juni 2026 – Sugihan Jawa Dikenal juga sebagai hari Parerebon. Berdasarkan keyakinan umat, momen ini menandai turunnya semua Bhatara ke dunia. Umat Hindu menghaturkan pengeresikan (sarana pembersihan) dan canang raka di area merajan atau paibon sebagai bentuk penghormatan.
  • 12 Juni 2026 – Kajeng Kliwon Uwudan Hari ini merupakan waktu transisi energi alam semesta yang memiliki kekuatan spiritual spiritual tinggi, menuntut umat untuk meningkatkan mawas diri melalui doa-doa keselamatan.
  • 12 Juni 2026 – Sugihan Bali Bertepatan dengan Kajeng Kliwon, Sugihan Bali menjadi momen bagi manusia untuk memohon kesucian dan pembersihan lahir batin ke hadapan semua Bhatara. Prosesi ritual melibatkan penghantaran pengeresikan beserta seluruh rangkaian sarana upacaranya di merajan atau paibon.

Memasuki Rangkaian Inti Galungan

  • 14 Juni 2026 – Hari Penyekeban Umat Hindu memasuki fase kritis yang membutuhkan kewaspadaan tinggi. Hari Penyekeban mewajibkan umat untuk menguatkan iman dan menjaga diri agar tidak goyah oleh pengaruh Sang Bhuta Galungan. Secara filosofis, penyekeban berarti sebuah upaya nyata untuk menguasai dan mengendalikan diri dari nafsu negatif.
  • 14 Juni 2026 – Tilem Hari jatuhnya bulan mati yang menjadi momen tepat untuk melakukan meditasi, pembersihan sisa-sisa kotoran batin, dan memohon peleburan kekotoran diri kepada Tuhan.
  • 15 Juni 2026 – Penyajaan Galungan Proses pemantapan diri berlanjut pada hari ini. Umat harus tetap berhati-hati serta senantiasa mawas diri karena adanya dinamika spiritual negatif dari pengaruh Sang Bhuta Dunggulan.
  • 16 Juni 2026 – Penampahan Galungan Sehari sebelum hari raya, situasi spiritual dipengaruhi oleh Sang Bhuta Amengkurat. Umat Hindu melaksanakan upacara biakala (mabiakala) di halaman rumah tepat setelah matahari terbenam. Ritual ini bertujuan agar keluarga terhindar dari pengaruh buruk Kala Tiganing Galungan. Pada hari ini pula, masyarakat mendirikan penjor lengkap dengan seluruh hiasannya yang megah di depan rumah.

Puncak Kemenangan Dharma

  • 17 Juni 2026 – Hari Raya Galungan Inilah hari kemenangan dharma (kebaikan) melawan adharma (kebatilan), sekaligus momentum peringatan atas terciptanya alam semesta beserta isinya. Umat Hindu menghaturkan persembahan ke hadapan Sang Hyang Widhi Wasa beserta dewa manifestasi-Nya sebagai wujud rasa syukur atas rahmat kehidupan. Sementara itu, penjor yang berdiri tegak di depan setiap rumah merupakan bentuk persembahan suci yang ditujukan kepada Bhatara Mahadewa yang bersemayam di Gunung Agung.
  • 18 Juni 2026 – Manis Galungan Suasana sukacita Galungan berlanjut. Umat melaksanakan upacara nganyarin atau prosesi penyucian di merajan atau sanggah kemulan. Upacara ini secara khusus ditujukan ke hadapan Hyang Kawitan dan para leluhur keluarga.

Ritual Pasca-Galungan dan Penghormatan Leluhur

  • 20 Juni 2026 – Pemaridan Guru Hari ini menandai kembalinya para Dewa menuju Sunyaloka. Saat kembali, Beliau melimpahkan anugerah berupa kesejahteraan dan panjang umur bagi umat manusia. Masyarakat melaksanakan upacara keselamatan dan bersembahyang bersama untuk menyampaikan rasa terima kasih mendalam serta memohon anugerah keselamatan.
  • 21 Juni 2026 – Ulihan Umat Hindu menghaturkan canang raka beserta sarana pelengkap lainnya ke hadapan Bhatara-Bhatari. Prosesi ini mengiringi kembalinya Beliau menuju singgasana atau Kahyangan masing-masing setelah memberkati bumi.
  • 22 Juni 2026 – Pemacekan Agung Fokus utama hari ini adalah pemujaan terhadap Sang Hyang Widhi atau Sang Hyang Prameswara melalui persembahan upacara untuk memohon keselamatan hidup. Ketika waktu sandikala (sore hari) tiba, umat menghaturkan upacara segehan di halaman serta di depan pintu gerbang pekarangan rumah. Tujuannya adalah agar Sang Kala Tiga Galungan beserta seluruh pengiringnya kembali ke alamnya dan memberikan keselamatan bagi penghuni rumah.
  • 24 Juni 2026 – Buda Paing Kuningan Hari suci yang bertepatan dengan pujawali atau hari pembayuan bagi Bhatara Wisnu, manifestasi Tuhan yang berfungsi sebagai pemelihara alam semesta.

Menuju Puncak Hari Raya Kuningan

29 Juni 2026 – Purnama Bulan Juni ditutup dengan hari suci Purnama. Ini adalah momen terang bulan yang sangat baik bagi umat untuk melakukan pembersihan batin, memohon berkah kedamaian, dan menyempurnakan seluruh rangkaian ritual yang telah berjalan sepanjang bulan.

26 Juni 2026 – Penampahan Kuningan Hari persiapan terakhir sebelum puncak Kuningan. Masyarakat sibuk membuat sarana upakara khusus berupa sesaji kuning dan perlengkapan ritual lainnya yang khas untuk keesokan harinya.

27 Juni 2026 – Kajeng Kliwon Enyitan Hari keramat yang mempertemukan kekuatan siklus energi alam, mempertegas kesucian atmosfer spiritual menjelang perayaan Kuningan.

27 Juni 2026 – Hari Raya Kuningan Umat Hindu menghaturkan sesaji dan persembahan suci menyambut turunnya kembali Sang Hyang Widhi yang diiringi oleh para Dewata serta Pitara (leluhur) untuk memberkati dunia beserta isinya. Rangkaian upacara Kuningan memiliki batas waktu yang ketat, yaitu hanya dilangsungkan sampai pukul 12.00 siang (tajeg surya). Setelah waktu tersebut, para Dewata dan leluhur diyakini telah kembali ke Suralaya.

Demikian informasi terbaru tentang daftar rahinan Hindu selama bulan Juni 2026 berdasarkan Kalender Bali digital.

***

Pewarta: Redaksi

Editor: Redaksi

COPYRIGHT © balikonten.com 2026