Simbolisasi warna kuning pada Hari Raya Kuningan

Mengintip Tradisi Unik Hari Raya Kuningan: Mesuryak dan Mekotek yang Penuh Makna/ balikonten
DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Hari Raya Kuningan merupakan salah satu perayaan penting dalam tradisi umat Hindu, khususnya di Bali, yang dirayakan sebagai bagian dari rangkaian Hari Raya Galungan.
Perayaan ini memiliki makna spiritual mendalam, mengenang kebesaran Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam wujud Sang Hyang Parama Wisesa, yaitu roh-roh suci atau pahlawan dharma yang berjasa membentuk akhlak mulia manusia.
Salah satu ciri khas yang menonjol dalam Hari Raya Kuningan adalah penggunaan warna kuning, yang tidak hanya menjadi elemen visual, tetapi juga sarat dengan simbolisme spiritual dan budaya.
Makna Warna Kuning dalam Hari Raya Kuningan
Warna kuning dalam Hari Raya Kuningan melambangkan kebahagiaan, keberhasilan, dan kesejahteraan. Warna ini diwujudkan melalui penggunaan nasi kuning dalam berbagai sesajen atau persembahan yang dipersembahkan kepada leluhur. Nasi kuning dibuat dengan pewarna alami dari kunyit, sebuah bahan tradisional yang telah lama digunakan dalam ritual keagamaan Hindu karena nilai simbolis dan kesuciannya. Kunyit, selain memberikan warna kuning cerah, juga dipercaya memiliki sifat perlindungan spiritual.
Warna kuning mencerminkan sinar matahari, yang dalam ajaran Hindu diasosiasikan dengan kehidupan, energi, dan keberkahan. Dalam konteks Hari Raya Kuningan, warna ini menjadi pengingat akan kemenangan dharma (kebenaran) atas adharma (kejahatan), sebagaimana yang dirayakan dalam rangkaian Galungan dan Kuningan. Kuning juga melambangkan optimisme dan harapan, mengajak umat untuk merayakan kehidupan dengan penuh syukur dan semangat positif.
Tradisi dan Persiapan Hari Raya Kuningan
Hari Raya Kuningan diperingati setiap Saniscara Kliwon Wuku Kuningan, 10 hari setelah Hari Raya Galungan. Sehari sebelumnya, dikenal sebagai Penampahan Kuningan, umat Hindu menyiapkan berbagai persembahan, termasuk sesajen berupa nasi kuning. Penampahan Kuningan, yang jatuh pada Sukra Wage Wuku Kuningan, menjadi momen untuk mempersiapkan segala kebutuhan ritual, termasuk penyembelihan hewan ternak dan pembuatan sesajen untuk sembahyang pada hari berikutnya.
Selain nasi kuning, Hari Raya Kuningan juga identik dengan pemasangan tamiang, kolem, dan endong. Tamiang melambangkan senjata Dewa Wisnu, kolem sebagai simbol senjata Dewa Mahadewa, dan endong sebagai representasi kantong perbekalan yang digunakan para Dewata dan leluhur dalam perjuangan melawan adharma. Tamiang dan kolem dipasang di berbagai tempat suci seperti palinggih, bale, dan pelangkiran, sementara endong hanya dipasang di palinggih dan pelangkiran. Penggunaan warna kuning pada sesajen semakin memperkuat makna spiritual dan estetika dari ornamen-ornamen ini.
Makna Disiplin Waktu dalam Sembahyang
Salah satu keunikan Hari Raya Kuningan adalah aturan waktu pelaksanaan sembahyang, yang harus selesai sebelum tengah hari (tengai tepet). Menurut kepercayaan Hindu, sembahyang yang dilakukan setelah tengah hari hanya akan diterima oleh Bhuta Kala, karena para Dewata dan leluhur dipercaya telah kembali ke Khayangan pada waktu tersebut. Aturan ini sebenarnya mengandung nilai disiplin waktu, mengajarkan umat untuk menghargai waktu dalam menjalankan kewajiban spiritual mereka.
Warna Kuning sebagai Simbol Kebudayaan dan Spiritualitas
Penggunaan warna kuning dalam Hari Raya Kuningan tidak hanya terbatas pada sesajen, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai budaya dan spiritual yang mendalam. Warna ini menjadi pengingat akan pentingnya menjaga keseimbangan antara dunia material dan spiritual, serta menghormati leluhur yang telah berjasa. Kuning, sebagai simbol kebahagiaan dan kesejahteraan, juga mengajak umat Hindu untuk terus memupuk optimisme dan semangat dalam menjalani kehidupan sesuai dengan ajaran dharma.
Dengan kehadiran warna kuning yang begitu dominan, Hari Raya Kuningan tidak hanya menjadi perayaan keagamaan, tetapi juga wujud nyata dari kekayaan budaya Hindu Bali. Tradisi ini terus dilestarikan oleh umat Hindu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan pengingat akan nilai-nilai luhur yang menjadi pedoman hidup.
***

