03/11/2026

Makna Spiritual Hari Suci Purnama Kapitu bagi Umat Hindu di Bali

doa dan mantram hindu yang digunakan saat purnama tilem

ilustrasi banten/badungkab.go.id/balikonten

DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Hari Suci Purnama Kapitu menempati posisi penting dalam kalender Bali. Purnama ini jatuh pada sasih kapitu atau bulan ketujuh penanggalan Bali dan diperingati setiap fase bulan penuh (sukla paksa).

Bagi umat Hindu di Bali, Purnama Kapitu dimaknai sebagai momentum penyucian diri lahir dan batin sekaligus penguatan kesadaran spiritual.

Dalam lontar Sundarigama disebutkan bahwa Purnama merupakan payogan Sang Hyang Candra. Ajaran tersebut menegaskan adanya hari penyucian bagi Sang Hyang Rwa Bhineda, yakni Dewa Matahari (Sang Hyang Surya) dan Dewa Bulan (Sang Hyang Candra), yang berlangsung pada tilem dan purnama.

Mwah hana pareresiknira sang hyang rwa bhineda, makadi sang hyang surya candra, yatika nengken purnama mwang tilem, ring purnama sang hyang ulan mayoga, yan ring tilem sang hyang surya mayoga.

Petikan lontar tersebut menjelaskan bahwa pada hari Purnama, Sang Hyang Wulan atau Candra melaksanakan yoga, sedangkan pada tilem Sang Hyang Surya yang melakukannya. Purnama dan tilem dipandang sebagai waktu suci yang menandai keseimbangan kosmis alam semesta.

Masih dalam lontar Sundarigama, umat dianjurkan menenangkan pikiran, mempersembahkan wangi-wangian, canang nyasa, serta melaksanakan pemujaan di sanggah dan parahyangan. Umat juga disarankan memohon tirtha sebagai sarana penyucian diri lahir dan batin.

Samana ika sang purohita, tkeng janma pada sakawanganya, wnang mahening ajnana, aturakna wangi-wangi, canang nyasa maring sarwa dewa…

Ajaran tersebut menjadi dasar praktik keagamaan umat Hindu Bali setiap Hari Suci Purnama, termasuk Purnama Kapitu.

Hari Penyucian Diri dan Dana Punia

Purnama Kapitu diyakini sebagai hari penyucian lahir dan batin. Persembahan berupa canang wangi-wangian dan canang yasa dipersembahkan sebagai wujud bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta manifestasi-Nya. Upacara ini dimaknai sebagai upaya membersihkan pengaruh negatif secara fisik maupun spiritual.

Selain pemujaan, Purnama Kapitu juga dikenal sebagai hari yang baik untuk melaksanakan dana punia. Kitab Sarasamuscaya sloka 170 menjelaskan bahwa sedekah bersumber dari pikiran yang bersih dan bebas dari iri hati.

Amatsaryam buddhiḥ prahur dānam dharmaś ca saṁyamaḥ…

Ajaran tersebut menegaskan bahwa dana yang dilandasi ketulusan, pengendalian diri, dan konsistensi dalam kebajikan akan menghadirkan keselamatan serta pahala kebajikan.

Nilai serupa juga tertuang dalam Bhagawad Gita XVII.25 yang menjelaskan bahwa yadnya, tapa brata, dan dana punia dilaksanakan tanpa mengharapkan hasil oleh mereka yang menapaki jalan moksa.

Sedekah dan Keseimbangan Persembahan

Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Kertha Bhuana dari Griya Batur Giri Murti, Glogor, Denpasar, menyampaikan bahwa Purnama sering menjadi waktu yang tepat untuk bersedekah. Kondisi batin manusia yang cenderung tenang dan bahagia saat bulan purnama dinilai mendukung lahirnya niat tulus untuk berbagi kepada sesama.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan persembahan. Persembahan kepada Bhuta Kala dilakukan melalui segehan, sementara persembahan kepada Tuhan diwujudkan dengan bunga dan doa. Keseimbangan ini mencerminkan harmoni antara unsur sekala dan niskala dalam kehidupan umat Hindu Bali.

Kesadaran Kosmis Purnama Sasih Kapitu

Makna spiritual Purnama Sasih Kapitu berkaitan erat dengan kesadaran kosmis, yaitu kesatuan antara Bhuana Agung dan Bhuana Alit. Konsep ini sejalan dengan ajaran Tri Hita Karana yang menekankan harmoni hubungan manusia dengan Tuhan, alam, dan sesama.

Ajaran tersebut sejalan dengan sloka Upanishad:

Yathā piṇḍe tathā brahmāṇḍe.

Maknanya, apa yang ada dalam diri manusia sejatinya juga ada di alam semesta.

Purnama Kapitu juga dipahami sebagai waktu ideal untuk penyucian diri (pavitram dan śuddhi). Praktik melukat dan tirthayatra pada sasih ini diyakini membantu membersihkan sarwa pāpa dan kleśa atau kotoran pikiran. Hal ini ditegaskan dalam Manusmṛti 5.109.

Apavitraḥ pavitro vā sarvāvasthāṁ gato ’pi vā…

Sloka tersebut mengajarkan bahwa siapa pun yang mengingat Tuhan dengan ketulusan akan mencapai kesucian lahir dan batin.

Bulan purnama juga melambangkan kejernihan kesadaran jiwa. Dalam Rig Veda 10.90.13 disebutkan:

Chandramā manaso jātaḥ.

Artinya, bulan lahir dari pikiran Tuhan. Oleh karena itu, meditasi pada malam Purnama dipandang mendukung terciptanya ketenangan dan kejernihan batin.

Pengamalan Nilai Purnama Kapitu

Nilai-nilai spiritual Hari Suci Purnama Kapitu dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari melalui meditasi, yoga, melukat, dan tirthayatra. Refleksi diri, sikap saling memaafkan, serta pelaksanaan swadharma secara tulus menjadi wujud pengamalan ajaran Hindu.

Bagi umat Hindu di Bali, Purnama Kapitu menjadi pengingat akan perjalanan hidup manusia yang senantiasa menuntut keseimbangan antara kehidupan duniawi dan spiritual. Melalui bhakti, penyucian diri, serta kepedulian sosial, nilai Purnama Kapitu sejalan dengan ajaran Tat Twam Asi yang menegaskan kesatuan seluruh makhluk hidup dalam harmoni alam semesta.

***

Pewarta: Redaksi

Editor: Redaksi

COPYRIGHT © balikonten.com 2026