23/01/2026

Siwaratri dan Kisah Lubdaka: Jalan Kesadaran Diri dalam Tradisi Hindu

Inilah mantra atau doa yang digunakan untuk melaksanakan Siwaratri pada Tilem Kapitu.

Dewa Siwa ilustrasi oleh arpitade3/ Pixabay/ Balikonten

DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Hari Raya Siwaratri kembali dirayakan oleh umat Hindu di Bali sebagai salah satu hari suci yang sarat makna spiritual. Perayaan ini jatuh setahun sekali dan diperingati sebagai momen penting untuk melakukan perenungan diri, pengendalian hawa nafsu, serta evaluasi atas perbuatan yang telah dijalani dalam kehidupan.

Lebih dari sekadar ritual keagamaan, Siwaratri menjadi ruang kontemplasi bagi umat Hindu untuk menumbuhkan kesadaran diri dan mendekatkan diri kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi-Nya sebagai Dewa Siwa.

Makna Siwaratri tidak dapat dilepaskan dari kisah Lubdaka, sebuah cerita klasik yang diwariskan dalam tradisi sastra Hindu dan kerap dijadikan landasan filosofis dalam memahami hakikat perayaan ini. Melalui kisah tersebut, Siwaratri dimaknai sebagai jalan spiritual yang terbuka bagi siapa saja, tanpa memandang latar belakang kehidupan masa lalu.

Kisah Lubdaka: Simbol Pertobatan dan Kesadaran

Lubdaka diceritakan sebagai seorang kepala keluarga yang menghidupi keluarganya dengan berburu binatang di hutan. Profesi tersebut membuatnya kerap melakukan perbuatan yang secara moral dipandang sebagai dosa. Namun, kehidupan Lubdaka berubah ketika suatu hari ia mengalami peristiwa yang menjadi titik balik kesadarannya.

Pada suatu malam, Lubdaka berburu hingga larut malam dan tidak memperoleh hasil. Ketika hari mulai gelap, ia memutuskan bertahan di atas pohon bila yang tumbuh di tepi telaga untuk menghindari bahaya binatang buas. Agar tidak tertidur, ia memetik daun-daun bila dan menjatuhkannya ke bawah tanpa menyadari bahwa di bawah pohon tersebut terdapat Lingga Siwa.

Tanpa disengaja, Lubdaka menjalani rangkaian laku spiritual Siwaratri yaitu, Jagra (melek atau tidak tidur), Upawasa (tidak makan dan minum) dan Monabrata (diam tidak melakukan aktivitas). Dalam kesendirian dan ketakutan itu, ia juga merenungkan perbuatan-perbuatan buruk yang pernah dilakukannya dan bertekad untuk mengubah jalan hidupnya.

Kesadaran inilah yang menjadi inti kisah Lubdaka. Ia tidak melakukan ritual dengan tujuan mendapatkan pahala, melainkan mengalami kebangkitan batin yang lahir dari penyesalan dan niat tulus untuk berubah. Kisah ini mengajarkan bahwa ketulusan hati memiliki kekuatan besar dalam perjalanan spiritual manusia.

Pelaksanaan Siwaratri di Bali

Di Bali, pelaksanaan Hari Raya Siwaratri dilakukan dengan berbagai bentuk laku spiritual yang umumnya mengacu pada ajaran pengendalian diri. Rangkaian perayaan biasanya diawali dengan persembahyangan pada pagi hari, dilanjutkan dengan pelaksanaan brata yang disesuaikan dengan kemampuan masing-masing umat.

Beberapa umat menjalani Monabrata, yakni tidak berbicara sepanjang hari sebagai latihan pengendalian ucapan. Ada pula yang melakukan Upawasa atau puasa, serta Jagra, yaitu tidak tidur semalaman. Rangkaian ini berlangsung selama 24 jam, dimulai sejak pagi hingga pagi keesokan harinya.

Makna utama dari jagra atau berjaga bukan semata-mata menahan kantuk, melainkan melatih kesadaran agar manusia senantiasa eling dan waspada terhadap pikiran, perkataan, dan perbuatan. Dalam keadaan terjaga, umat diharapkan mampu melakukan mulat sarira, yaitu introspeksi diri secara jujur dan mendalam.

Siwaratri sebagai Jalan Kesadaran Diri

Dalam ajaran Hindu, Siwaratri dipahami sebagai momentum spiritual untuk menyelaraskan diri dengan hakikat kehidupan. Kisah Lubdaka menegaskan bahwa kesadaran diri dapat tumbuh dari pengalaman hidup yang sederhana, bahkan dari kesalahan dan keterbatasan manusia.

Melalui perayaan Siwaratri, umat Hindu diajak untuk tidak hanya menjalankan ritual secara lahiriah, tetapi juga menumbuhkan kesadaran batin yang berkelanjutan. Introspeksi, pengendalian diri, dan niat untuk memperbaiki hidup menjadi nilai utama yang relevan dalam kehidupan modern.

Dengan demikian, Siwaratri bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan pengingat bahwa setiap manusia memiliki kesempatan untuk berubah, bertumbuh, dan mendekatkan diri kepada Tuhan melalui ketulusan dan kesadaran diri yang sejati.

***

 

IKUTI KAMI DI GOOGLE NEWS UNTUK INFORMASI LEBIH UPDATE