Strategi Winie Kaori Perluas Akses Pasar UMKM dan Wujudkan Ekonomi Hijau di Bali
Tembus Hotel Bintang Lima, HIPPI Bali Pertemukan UMKM Beras Lokal dengan Asosiasi GM/ balikonten
MANGUPURA, BALIKONTEN.COM – Ketua DPC Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) Kota Denpasar, Ni Kadek Winie Kaori Intan Mahkota atau yang akrab disapa Winie Kaori, mendorong penguatan jaringan usaha dan perluasan akses pasar bagi produk-produk lokal. Langkah strategis ini ditegaskan dalam Rapat Kerja Daerah (Rakerda) II sekaligus peringatan HUT ke-3 DPD HIPPI Bali yang digelar di Kartika Plaza Hotel, Kuta, Badung, Sabtu (19/9/2026).
Mengusung tema “Menguatkan Komitmen Mewujudkan Bali sebagai Pusat Ekonomi Hijau”, Rakerda II ini diarahkan bukan sekadar menjadi evaluasi program tahunan atau ajang seremoni belaka. Forum ini dirancang sebagai landasan strategis untuk memperluas pasar Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), mengembangkan potensi pertanian lokal, serta membangun kolaborasi nyata antara pengusaha lokal dan pemangku kepentingan.
Winie Kaori yang juga selalu Ketua Panitia Rakerda II HIPPI Bali menegaskan pentingnya komitmen keberlanjutan dan persiapan matang yang telah dilakukan dua minggu sebelum acara agar menghasilkan karya nyata.
“Banyak organisasi yang menganaktirikan adanya Rakerda, tetapi Rakerda yang berkomitmen untuk bisa berkelanjutan, di sinilah kita belajar. Bagaimana menentukan sebuah tema sekaligus berhubungan dengan jangka panjang dari karya dan kerja nyata yang dilakukan. Melalui Rakerda ini diharapkan mampu membuka networking seluas-luasnya,” ujar Winie Kaori.
Terkait pilar ekonomi hijau, Winie menekankan bahwa konsep tersebut harus diterjemahkan ke dalam langkah konkret di lingkungan usaha, seperti pemilahan sampah, penerapan reduce, reuse, recycle (3R), penggunaan panel surya, hingga efisiensi operasional.
“Ekonomi hijau bukan hanya wacana semesta, tetapi merupakan langkah kecil kita. Kalau tidak diingatkan dari sekarang, kita tidak menunggu lagi yang namanya bencana. Kita tidak melihat jauh kepada orang-orangnya, tetapi melihat diri kita sendiri, apa yang sudah kita lakukan untuk lingkungan dan alam semesta di sekitar kita,” tegasnya.
Selain fokus pada keberlanjutan lingkungan, Rakerda II menjadi wadah akselerasi bisnis dengan memfasilitasi pertemuan langsung antara penjual (seller) dan pembeli (buyer). Salah satu bentuk kolaborasi konkret yang dihadirkan adalah mempertemukan pelaku UMKM beras lokal secara langsung dengan Ketua Asosiasi General Manager (GM) Hotel Indonesia Provinsi Bali.
“Kalau usaha beras ini langsung datang ke hotel bintang lima, mungkin hanya diterima oleh purchasing manager dan belum tentu disetujui oleh GM-nya. Hari ini kita hadirkan ketua asosiasinya supaya UMKM yang tergabung dalam HIPPI Bali bisa terkoneksi langsung dan mempercepat transaksi,” jelas Winie.
Ia menambahkan bahwa manfaat berorganisasi terletak pada kemampuannya mempertemukan berbagai sektor—mulai dari agrikultur, sovenir, hingga coffee shop—sehingga kolaborasi dapat terjalin di ratusan hingga ribuan titik.
Sinergi dan jaringan yang terbangun dalam Rakerda II ini diproyeksikan memberikan dampak berkelanjutan dalam jangka pendek, menengah, hingga panjang bagi ekosistem bisnis di Bali. Berbagai gagasan serta rekomendasi strategis yang lahir dari forum ini selanjutnya akan dibawa ke tingkat nasional pada Rapat Kerja Nasional (Rakernas) HIPPI yang dijadwalkan berlangsung pada Oktober mendatang.
***