03/11/2026

Sukra Wage Wuku Wayang, Umat Hindu Wajib Memasang Seselat, Ini Fungsinya

tumpek wayang merupakan rahinan suci bagi umat hindu

Ilustrasi Wayang Kulit Bali/ Gede Apgandhi Pranata/ Bulelengpost

DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Setiap 210 hari, umat Hindu di Bali merayakan Tumpek Wayang, sebuah perayaan yang jatuh pada Saniscara Kliwon Wuku Wayang sesuai kalender Bali. Salah satu ritual yang tak terpisahkan dari momen ini adalah tradisi memasang seselat, praktik spiritual yang kaya makna dan mengakar dalam budaya Bali.

Apa Itu Seselat dan Maknanya?

Seselat, atau dikenal juga sebagai sasuwek, merupakan elemen penting dalam tradisi Tumpek Wayang. Seselat biasanya ditempatkan di sudut-sudut rumah, seperti pagar, pelinggih, atau sanggah kemulan. Ritual ini diyakini mampu melindungi rumah dari energi negatif sekaligus menyucikan lingkungan tempat tinggal, menciptakan harmoni spiritual bagi penghuninya.

Terbuat dari potongan pandan berduri atau tanaman berduri lainnya yang diolesi kapur sirih, seselat dipasang untuk membentuk perisai spiritual. Tradisi ini bukan sekadar ritual, tetapi juga simbol keseimbangan antara manusia, alam, dan kekuatan spiritual, yang menjadi inti dari kearifan lokal Bali.

Hubungan Tumpek Wayang dengan Dewa Kumara

Tumpek Wayang memiliki kaitan erat dengan kisah Dewa Kumara, yang konon hampir dimangsa Batara Kala karena lahir pada Wuku Wayang. Oleh karena itu, anak-anak yang lahir pada periode ini dianjurkan menjalani upacara sapuh leger atau mebayuh oton saat Tumpek Wayang. Upacara ruwatan ini dilakukan di griya atau tempat suci untuk menghilangkan pengaruh negatif dan memastikan keselamatan anak, menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan spiritual.

Mengapa Hari Sebelum Tumpek Wayang Penting?

Menurut Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng, sehari sebelum Tumpek Wayang, yang disebut Sukra Wayang atau hari ala paksa, dianggap sebagai waktu ketika energi negatif meningkat. Hari ini dikenal sebagai momen cemer, yang berarti penuh dengan kekotoran spiritual. Untuk menangkal pengaruh buruk tersebut, tradisi memasang seselat menjadi langkah penting dalam menjaga keharmonisan lingkungan.

Proses Ritual Memasang Seselat

Ritual memasang seselat dilakukan melalui beberapa tahapan yang penuh makna:

  1. Persiapan: Bahan seperti pandan berduri dan kapur sirih disiapkan dengan penuh kekhidmatan sebagai wujud penghormatan terhadap tradisi Bali.

  2. Pemasangan: Seselat diikat dengan benang tridatu, simbol perlindungan suci, lalu dipasang di berbagai titik strategis rumah, seperti sumur, pelinggih, dan pintu masuk.

  3. Pengambilan: Pada hari Tumpek Wayang, seselat yang telah dipasang sebelumnya dikumpulkan kembali.

  4. Penempatan: Seselat diletakkan di lebuh (pintu masuk) atau dalam sidi/niru, wadah berlubang yang berfungsi sebagai penyaring energi negatif.

Pelestarian Budaya dan Harmoni Spiritual

Tradisi seselat bukan hanya ritual spiritual, tetapi juga wujud nyata pelestarian budaya Bali. Praktik ini mengajarkan pentingnya menjaga harmoni antara manusia dan alam semesta, sekaligus mempertahankan kearifan lokal yang telah diwariskan turun-temurun. Melalui Tumpek Wayang dan ritual seselat, masyarakat Bali terus menjaga identitas budaya mereka sambil memperkuat ikatan spiritual dengan lingkungan.

***

Pewarta: Redaksi

Editor: Redaksi

COPYRIGHT © balikonten.com 2026