03/11/2026

Tidak Hanya Banyu Pinaruh, Ini Rangkaian Rahinan Saraswati

memaknai Hari Raya Saraswati

Hari Raya Saraswati/ balikonten

ORTIBALI.COM – Umat Hindu secara luas merayakan Hari Raya Saraswati sebagai momentum turunnya ilmu pengetahuan. Perayaan ini jatuh pada Saniscara Umanis Watugunung.

Sebagian besar masyarakat umumnya hanya mengenal rangkaian populer seperti Banyu Pinaruh yang dilaksanakan sehari setelahnya, serta Hari Pagerwesi pada beberapa hari berikutnya.

Namun, terdapat fase krusial yang berlangsung seminggu sebelum puncak perayaan yang sarat akan makna mendalam namun jarang menjadi sorotan publik.

Rangkaian tersembunyi ini berakar dari narasi dalam Lontar Medang Kemulan. Kisah tersebut menceritakan kekalahan Prabu Watugunung saat berhadapan dengan Dewa Wisnu. Meskipun pada hari-hari ini masyarakat tidak melakukan ritual fisik yang mencolok, setiap harinya merepresentasikan proses pembersihan mental yang wajib dilalui sebelum seseorang layak menerima anugerah pengetahuan.

Fase Penghancuran Ego dan Ketidaksadaran

Prosesi dimulai pada hari Minggu, Redite Kliwon Watugunung, yang dikenal dengan istilah Watugunung Runtuh. Hari ini menandai gugurnya Sang Prabu dalam peperangan. Secara esensial, peristiwa ini adalah simbolisasi dari hancurnya sifat keras kepala dan ego pribadi. Ilmu pengetahuan tidak akan bisa meresap ke dalam jiwa yang masih tertutup oleh keangkuhan. Manusia harus meruntuhkan “kepala batu” mereka agar menjadi bijaksana.

Memasuki hari Senin, tahapan berlanjut pada Sandung Watang. Istilah ini merujuk pada sosok mayat atau maya, yang melambangkan kondisi ketidaksadaran. Dalam proses menuntut ilmu, unsur ketidaktahuan atau delusi ini menjadi penghalang utama yang harus disingkirkan.

Keesokan harinya, Selasa, disebut sebagai Paid-Paidan. Pada tahap ini, seseorang akan mengalami gejolak batin antara niat belajar dan rasa malas. Ini adalah ujian nyata di mana unsur maya berusaha menggagalkan niat manusia untuk maju. Pertarungan antara keinginan untuk berkembang dan godaan untuk berhenti menjadi esensi dari fase ini.

Kebangkitan Kesadaran dan Penghormatan Guru

Titik balik terjadi pada hari Rabu yang disebut Buda Urip. Di sinilah sosok Watugunung diceritakan hidup kembali. Momen ini merepresentasikan bangkitnya kesadaran buddhi atau kecerdasan dalam diri manusia. Setelah kesadaran itu bangun, hari Kamis atau Pategtegan menjadi waktu untuk perenungan batin yang mendalam. Tujuannya adalah mencapai ketetapan hati sehingga ilmu yang akan diterima memiliki fondasi yang kuat dan tidak goyah.

Sebelum mencapai puncak, hari Jumat dirayakan sebagai Pangredanan. Pada fase ini, fokus beralih pada penghormatan kepada guru. Dikisahkan Watugunung menyembah Dewa Siwa sebagai Bhatara Guru. Sikap rendah hati dan hormat kepada pendidik adalah syarat mutlak dalam etika menuntut ilmu dalam tradisi Hindu.

Puncak Pengetahuan dan Pembersihan Jiwa

Seluruh rangkaian filosofis tersebut bermuara pada Hari Raya Saraswati. Setelah melalui proses penghancuran ego hingga penghormatan guru, barulah umat dianggap siap menerima ilmu pengetahuan.

Sebagai penutup, hari Minggu berikutnya atau Banyu Pinaruh menjadi momen penyucian diri. Ritual melukat pada hari tersebut diibaratkan sebagai prosesi wisuda bagi jiwa yang telah berhasil menyerap pengetahuan baru. Pembersihan dengan air suci ini menandai kesiapan manusia untuk menjalani kehidupan dengan perspektif yang lebih terang dan bijaksana.

***

Pewarta: Redaksi

Editor: Redaksi

COPYRIGHT © balikonten.com 2026