Tradisi Ini Hanya Ditemukan Ketika Galungan Kuningan di Bali
Ilustrasi umat mengucapkan salam panganjali umat Om Swastyastu/ Balikonten
DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Hari Raya Galungan selalu membawa atmosfer yang magis dan penuh rasa syukur di Tanah Bali. Bagi umat Hindu, momen sakral ini merupakan perayaan agung atas kemenangan kebaikan (Dharma) melawan kejahatan (Adharma).
Seluruh jagat tampak bersolek, memperlihatkan kekayaan budaya lewat runtutan tgaradisi yang diwariskan turun-temurun dari para leluhur.
Keindahan perayaan ini tercermin nyata dari wajah-wajah penuh senyum warga yang mengenakan pakaian adat, aroma harum dupa yang merebak di udara, serta deretan dekorasi alami yang menghiasi sepanjang jalan.
Perayaan ini sekaligus menjadi pengingat bagi manusia untuk selalu menjaga keselarasan hubungan dengan Sang Pencipta, sesama, dan alam semesta.
Berikut adalah rangkaian kegiatan serta tradisi Hari Raya Galungan yang sarat akan makna mendalam:
Pesona Penjor di Depan Rumah
Pemandangan Bali saat Galungan identik dengan penjor, yaitu tiang bambu melengkung tinggi yang dihias dengan janur dan berbagai hasil bumi. Warga merangkai dan memasang penjor ini sehari sebelum hari puncak, tepatnya pada hari Penampahan Galungan.
Kehadiran penjor di depan pekarangan rumah merupakan wujud nyata dari rasa terima kasih dan syukur yang mendalam atas kemakmuran serta berkah melimpah yang dianugerahkan oleh Sang Hyang Widhi Wasa.
Kehangatan Tradisi Ngejot
Galungan juga menjadi momentum emas untuk memperkuat ikatan sosial masyarakat melalui tradisi Ngejot. Pada hari yang baik ini, warga saling mengantarkan dan membagikan hidangan tradisional khas Bali seperti lawar dan jaje uli kepada sanak saudara serta para tetangga.
Langkah nyata ini berhasil mempererat tali silaturahmi, menumbuhkan rasa kebersamaan yang tulus, sekaligus merawat toleransi di tengah kehidupan bermasyarakat.
Khidmat dalam Persembahyangan Bersama
Puncak religiusitas perayaan ini ditandai dengan persembahyangan bersama. Umat Hindu berbondong-bondong menuju pura keluarga atau merajan, hingga melanjutkannya ke pura desa.
Dengan mengenakan pakaian adat Bali yang rapi dan anggun, mereka dengan khusyuk menghaturkan sesajen, termasuk canang sari, sebagai bentuk bakti, penghormatan, dan komunikasi spiritual kepada para leluhur serta manifestasi Tuhan.
Kemeriahan Ngelawang Barong
Suasana desa semakin hidup dengan adanya tradisi Ngelawang Barong. Tradisi ini menampilkan arak-arakan barong atau sosok macan yang menari keliling desa dengan iringan gamelan yang bertalu-talu.
Warga setempat sangat memercayai bahwa ritual keliling desa ini mampu menyebarkan aura positif ke segala penjuru, mengusir keberadaan roh-roh jahat yang mengganggu, sekaligus berfungsi sebagai penolak bala bagi lingkungan sekitar.
Anggunnya Parade Mapeed
Salah satu visual paling memukau dalam rangkaian perayaan ini adalah Mapeed. Tradisi ini berupa pawai atau arak-arakan warga yang berjalan kaki dengan sangat rapi menuju pura. Daya tarik utama berada pada barisan para wanita yang berjalan anggun mengenakan pakaian adat Bali, sembari menjunjung banten atau sesajen berukuran besar di atas kepala mereka. Keindahan Mapeed memancarkan keserasian antara seni, budaya, dan ketulusan hati dalam berbakti.
***
