Memaknai Galungan secara Teologis, Ekologis, dan Sosial Budaya
Barong Bangkung yang menjadi ikon saat tradisi ngelawang digelar/ Balikonten
DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Setiap Buda Kliwon Dungulan, atau tepatnya 210 hari sekali dalam kalender Bali, umat Hindu kembali merayakan Hari Suci Galungan. Perayaan yang jatuh pada hari ini tidak hanya dimaknai sebagai simbol kemenangan Dharma (kebaikan) melawan Adharma (keburukan), tetapi juga menyimpan filosofi mendalam yang menyentuh berbagai sendi kehidupan.
Sulinggih Ida Rsi Agung Bhagawan Dharma Putra Adnyana menyampaikan bahwa Hari Suci Galungan harus dimaknai secara menyeluruh, yakni melalui sudut pandang teologis, sosial budaya, hingga ekologis.
Dari aspek teologis, Ida Rsi Agung menjelaskan bahwa Galungan merupakan momentum bangkitnya pikiran-pikiran yang suci dan baik, sekaligus menjadi momen lenyapnya segala kegundahan serta kegalauan pikiran. Hal ini sejalan dengan apa yang tersurat dan tersirat dalam Lontar Sundarigama.
Dalam susastra tersebut, ditegaskan bahwa hakikat Galungan adalah saat di mana umat harus memusatkan dan mengkonsentrasikan pikiran untuk mencapai kesadaran dan pencerahan. Kesadaran inilah yang digunakan untuk menghilangkan segala macam kekacauan atau kekotoran jiwa, sebab segala sesuatu dalam hidup ini bermula dari pikiran.
”Dari sudut teologis, Hari Suci Galungan adalah munculnya pikiran-pikiran yang suci dan baik, serta lenyapnya segala kegundahan dan kegalauan pikiran,” ujar Ida Rsi Agung Bhagawan Dharma Putra Adnyana.
Sementara itu, jika ditinjau dari sisi sosial budaya, Galungan merupakan puncak dari seluruh aktivitas kebudayaan masyarakat yang bernapaskan ajaran agama Hindu. Berbagai upacara besar dihaturkan, dan beragam tradisi unik di berbagai daerah bermunculan secara semarak, mengiringi rangkaian hari raya ini hingga puncaknya pada Hari Raya Kuningan mendatang.
Tidak kalah penting, Galungan juga memiliki dimensi ekologis yang kuat. Perayaan ini mengajarkan umat Hindu untuk selalu hidup berdikari (berdiri di atas kaki sendiri).
”Secara ekologis, Galungan mendidik umat untuk mandiri. Artinya, sarana dan prasarana upacara sebisa mungkin disiapkan dan diolah sendiri dari hasil alam sekitar,” tambah Ida Rsi Agung.
Melalui perayaan Galungan ini, umat Hindu diharapkan tidak hanya terjebak pada ritual semata, melainkan mampu mengimplementasikan kesucian pikiran, keharmonisan sosial, dan kemandirian pangan serta alam dalam kehidupan sehari-hari.
***
