Upacara Memeras, Simbol Pelepasan Terakhir dan Bakti Keluarga kepada Leluhur
Upacara Memeras, Simbol Pelepasan Terakhir dan Bakti Keluarga kepada Leluhur/ balikonten
DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Dalam setiap prosesi Ngaben di Bali, terdapat satu tahapan yang kerap mengundang haru keluarga, yakni upacara memeras.
Bagi masyarakat Hindu Bali, tahapan ini bukan sekadar bagian dari ritual, melainkan simbol perpisahan terakhir antara keluarga dengan mendiang sebelum prosesi pembakaran jenazah dilaksanakan.
Sulinggih Ida Rsi Agung Bhagawan Dharma Putra Adyana menjelaskan, upacara memeras merupakan rangkaian Pitra Yadnya yang melibatkan keluarga (anak dan cucu). Upacara memeras juga menandai bahwa kewajiban keluarga terhadap leluhur telah dijalankan dengan tulus.
Secara filosofi, memeras dimaknai sebagai pelepasan unsur-unsur jasmani yang selama hidup menyatu dengan atma (roh). Dalam ajaran Hindu, tubuh manusia tersusun dari Panca Maha Bhuta — pertiwi (tanah), apah (air), teja (api), bayu (udara), dan akasa (ether). Melalui upacara ini, unsur-unsur tersebut dikembalikan ke alam semesta.
“Ritual ini menjadi simbol bahwa keluarga telah merelakan kepergiannya. Bukan memutus hubungan kasih, tetapi mengantarkan atma agar perjalanannya menuju alam pitra menjadi lebih ringan,” Ida Sulinggih menjelaskan.
Dalam prosesi tersebut, keluarga biasanya mengelilingi upakara tertentu sembari memanjatkan doa. Prosesi ini dipercaya sebagai kesempatan terakhir secara sekala untuk melepas kepergian orang yang dicintai.
“Di sinilah keluarga benar-benar melakukan pelepasan. Ngaben bukan hanya ritual, tetapi proses psikologis dan spiritual keluarga,” tandasnya.
Memeras bukan sekadar tradisi turun-temurun, tetapi memiliki makna spiritual mendalam: mengantar, merelakan, dan memuliakan perjalanan jiwa kembali kepada Sang Pencipta.
***
