07/11/2026

Wamenkes Ungkap Strategi Percepatan Dokter Spesialis untuk Atasi Kesenjangan Wilayah Timur Indonesia

Wamenkes Ungkap Strategi Percepatan Dokter Spesialis untuk Atasi Kesenjangan Wilayah Timur Indonesia

Wamenkes Ungkap Strategi Percepatan Dokter Spesialis untuk Atasi Kesenjangan Wilayah Timur Indonesia/ balikonten

DENPASAR< BALIKONTEN.COM – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengambil langkah cepat guna mengatasi tantangan krusial ketimpangan distribusi sumber daya manusia (SDM) kesehatan di tengah masifnya pembangunan infrastruktur rumah sakit.

Melalui program pembukaan Rumah Sakit Pendidikan Penyelenggara Utama (RSPPU), pemerintah fokus mencetak dokter spesialis dari daerah-daerah yang selama ini mengalami kekurangan tenaga medis.

Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Benjamin Paulus Octavianus, menjelaskan hal tersebut saat menghadiri acara Ngoerah Fit and Fun Screening di Amphitheater Living World Denpasar, Jumat (6/11/2026). Ia mengakui bahwa tantangan utama kesehatan nasional saat ini bukan lagi ketersediaan fasilitas fisik, melainkan pemerataan layanan dokter spesialis, khususnya di wilayah Indonesia Timur.

“Di Indonesia masalahnya pemerataan pelayanan. Dokter-dokter begitu banyak di Jawa, di Bali cukup, ke NTB kurang,” ungkap Benjamin.

Guna menjawab persoalan tersebut, pemerintah meluncurkan program pendidikan dokter spesialis gratis dengan menyasar putra-putri daerah dari wilayah yang minim dokter spesialis, seperti NTB, NTT, Maluku, hingga Bengkulu. Seluruh peserta didik mendapatkan pembebasan biaya kuliah serta dukungan uang bulanan selama masa studi.

“Orang yang kita ambil tidak ada satupun dari Pulau Jawa. Kita menyuruhkan putra-putri NTB, NTT, Maluku, Bengkulu, daerah yang enggak ada dokter spesialisnya, kita sekolahkan, tidak bayar, baru kita tempatkan,” jelasnya.

Sistem penempatan ini dirancang terintegrasi sejak awal masa pendidikan. Para peserta didik diwajibkan menandatangani komitmen penempatan di kabupaten asal mereka, sehingga begitu masa studi rampung, mereka langsung disebar untuk mengisi kekosongan formasi di rumah sakit daerah yang baru dibangun.

Program percepatan ini menunjukkan tren peningkatan signifikan. Jika tahun lalu pemerintah baru memiliki enam pusat pendidikan spesialis, tahun ini jumlahnya melonjak menjadi 25 institusi dan ditargetkan terus bertambah pada tahun-tahun berikutnya. Melalui strategi komprehensif ini, pemerintah optimistis kualitas pelayanan kesehatan nasional akan semakin merata dan optimal pada rentang tahun 2028 hingga 2030.

***

Pewarta: Sukma Wilatri

Editor: Redaksi

COPYRIGHT © balikonten.com 2026