Kajeng Kliwon Pamelas Tali: Momentum Runtuhnya Kebodohan dalam Ajaran Hindu
ilustrasi gambar banten/ balikonten
DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Umat Hindu di Bali mengenal hari suci Kajeng Kliwon Pamelas Tali sebagai momentum krusial yang hadir setiap enam bulan sekali. Hari ini merupakan bagian tak terpisahkan dari siklus wuku, khususnya wuku Watugunung yang menempati urutan ke-30 atau terakhir dalam kalender Bali. Masyarakat sering menyebut fenomena ini sebagai Kajeng Kliwon Watugunung Runtuh.
Jro Mangku Ketut Maliarsa menjelaskan bahwa posisi Kajeng Kliwon Pamelas Tali memiliki kedudukan istimewa di antara dua jenis Kajeng Kliwon lainnya, yakni Enyitan dan Uwudan. Penetapan hari suci ini berakar kuat pada mitologi kematian tokoh I Watu Gunung di tangan Bhatara Wisnu.
Jejak Mitologi I Watu Gunung
Berdasarkan narasi dalam Lontar Medang Kamulan, I Watu Gunung adalah putra dari Raja Kundala Dwipa, Dang Hyang Kula Giri, bersama permaisurinya, Dewi Sinta. Kelahiran tokoh ini diwarnai peristiwa dramatis saat sang dewi menyusul suaminya yang sedang bertapa. Di tengah perjalanan, ia melahirkan seorang putra yang jatuh di atas batu besar. Peristiwa inilah yang mendasari pemberian nama I Watu Gunung oleh Bhatara Brahma.
I Watu Gunung tumbuh menjadi sosok yang memiliki kesaktian luar biasa berkat anugerah Bhatara Brahma. Namun, kekuatan tersebut justru memicu sifat angkuh dan ambisius. Ia menaklukkan berbagai kerajaan, termasuk kerajaan ayahnya sendiri, hingga secara tidak sadar memperistri ibunya, Dewi Sinta.
Kebenaran identitas I Watu Gunung terungkap saat Dewi Sinta mencari kutu di kepala suaminya dan menemukan bekas luka lama. Luka tersebut berasal dari pukulan sendok nasi yang dilakukan Dewi Sinta di masa lalu ketika sang anak merengek meminta makan saat nasi belum matang. Menyadari kekeliruan besar yang terjadi, Dewi Sinta menyusun siasat untuk mengakhiri situasi tersebut dengan meminta I Watu Gunung mencari madu milik istri Bhatara Wisnu, Dewi Laksmi.
Makna Spiritual dan Relevansi dengan Hari Saraswati
Secara esensial, Kajeng Kliwon Pamelas Tali mengandung makna mendalam mengenai upaya memutuskan ikatan kebodohan. Kebodohan dalam ajaran Hindu dipandang sebagai akar dari segala bentuk penderitaan manusia. Oleh karena itu, hari suci ini memiliki keterkaitan erat dengan rangkaian hari suci lainnya seperti candung watang, mepaid-paidan, hingga puncaknya pada hari suci Saraswati.
Satu minggu menjelang hari suci Saraswati, umat diingatkan untuk melakukan persiapan batin guna memuja keagungan ilmu pengetahuan. Eksistensi Watugunung Runtuh menjadi pengingat bagi umat manusia agar terus menuntut ilmu dan menjauhi sifat sombong. Jro Mangku Ketut Maliarsa menegaskan bahwa manusia harus mengadopsi filosofi ilmu padi, yakni semakin berisi maka akan semakin merunduk.
Ritual dan Tradisi Penetralisir Energi Negatif
Dalam tradisi Bali, Kajeng Kliwon juga dianggap sebagai hari yang memiliki energi “tenget” atau sakral sekaligus wingit. Pada hari ini, umat Hindu memohon keselamatan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa sekaligus melakukan ritual untuk menjaga keseimbangan alam semesta.
Prosesi ritual melibatkan upaya menetralisir energi negatif melalui persembahan kepada para bhuta kala. Masyarakat menghaturkan sesajen di berbagai titik, mulai dari halaman tempat suci (natar sanggah), halaman rumah (natah paumahan), hingga di pintu gerbang (lebuh).
Beberapa sarana upakara yang digunakan meliputi:
- Sanggah cucuk yang dipasang di lebuh.
- Tumpeng brumbun lima tanding dengan alas daun pisang.
- Olahan tradisional seperti rumbah gile, kakomoh, lawar kacang, dan calon agung.
- Minuman tuak serta arak yang ditempatkan dalam bumbung bambu.
Seluruh persembahan ini ditujukan kepada Sang Kala Dengen dengan harapan agar segala bentuk gangguan negatif dapat diredam, sehingga tercipta harmoni dan kedamaian bagi penghuni rumah serta lingkungan sekitar.
***
