Pajak Kehidupan, Tentang Apa yang Harus Kita Bayar dalam Hidup
Arti Mimpi Melihat Jam Berhenti Berdetak/ pixabay/balikonten
DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Dalam kehidupan sehari-hari, pajak sering dipahami sebagai kewajiban yang harus dibayar. Namun tanpa disadari, kehidupan juga memiliki “pajaknya” sendiri.
- Bukan dalam bentuk uang,
- tetapi dalam bentuk proses.
Setiap hal yang diinginkan, sering kali datang bersama sesuatu yang harus dijalani.
- Ingin berhasil, harus melalui tekanan.
- Ingin bahagia, harus melewati proses memahami.
- Ingin tenang, harus belajar melepaskan.
Wira Natagumi, Founder & Analis Utama Balikonten.com sekaligus Wakil Ketua PHDI Bali, melihat bahwa konsep ini sebenarnya tidak asing dalam ajaran Hindu.
“Dalam hidup, tidak ada yang benar-benar gratis. Semua ada prosesnya. Itu yang bisa kita sebut sebagai ‘pajak kehidupan’,” jelasnya.
Dalam ajaran Hindu, konsep ini berkaitan dengan karma phala—hasil dari setiap tindakan yang dilakukan.
Apa yang dijalani hari ini, tidak lepas dari proses sebelumnya.
Dan apa yang diinginkan, juga memiliki konsekuensi yang harus diterima. Hal ini juga tercermin dalam sloka Bhagavad Gita:
Karmanye vadhikaraste ma phalesu kadacana
manusia berhak atas usaha, tetapi tidak selalu atas hasilnya.
Dalam kehidupan modern, banyak orang hanya melihat hasil.
Ingin cepat berhasil.
Ingin segera mendapatkan.
Ingin semuanya terasa mudah.
Namun ketika proses datang, justru dianggap sebagai beban. Padahal dalam perspektif ini, proses bukan hambatan. Tetapi bagian dari “pajak” yang harus dibayar.
Dalam tradisi Bali, konsep ini juga terlihat dalam berbagai praktik kehidupan. Seperti ngayah, yang dilakukan tanpa pamrih.
Atau berbagai upacara yang membutuhkan waktu, tenaga, dan kesabaran. Sekilas terlihat sebagai kewajiban.
Namun di dalamnya, ada latihan untuk menerima bahwa tidak semua hal harus dihitung secara materi.
“Orang Bali terbiasa ‘membayar’ dengan waktu dan tenaga. Tapi dari situ juga muncul rasa cukup dan ketenangan,” ujar Wira.
***


