RSUP Ngoerah Buka Suara Soal Meninggalnya Ewang Setyo Budi: Tegaskan Penanganan Sesuai Prosedur Medis
RSUP Ngoerah Buka Suara Soal Meninggalnya Ewang Setyo Budi Tegaskan Penanganan Sesuai Prosedur Medis/ balikonten
Niat hati menjalani pengobatan untuk mengatasi gangguan sulit menelan justru berakhir duka bagi keluarga Ewang Setyo Budi. Pria yang menjadi tulang punggung keluarga tersebut dinyatakan meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah (sebelumnya RSUP Sanglah) Denpasar, Kamis (15/10/2026), usai mengalami komplikasi serius hingga berujung pada gagal ginjal akut.
Kepergian Ewang menyisakan duka mendalam sekaligus kekecewaan bagi pihak keluarga. Almarhum pergi dengan meninggalkan dua orang anak yang masih kecil, termasuk anak bungsunya yang baru berusia delapan hari.
Dikutip dari media bali.pikiran-rakyat.com, pihak keluarga menuturkan, sebelum dirawat, kondisi Ewang terbilang relatif stabil dan masih dapat menjalani aktivitas sehari-hari. Menurut sang istri, suaminya memang memiliki kelainan pada saluran cerna yang membuat mekanisme katup antara kerongkongan dan lambung tidak bekerja normal, sehingga membutuhkan asupan air minum cukup banyak saat mencerna makanan.
Menanggapi hal tersebut, Direktur Medik dan Keperawatan RSUP Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah, Dr. dr. I Made Darmajaya, Sp.B., Sp.BA., Subsp. D.A.(K), MARS, FIAPS, memberikan klarifikasi resmi mengenai kronologi dan penanganan medis terhadap almarhum.
“Tentu saya mewakili Civitas Hospitalia Rumah Sakit Ngoerah menyampaikan duka cita yang sebesar-besarnya pada keluarga dari almarhum Bapak Ewang. Kami mohon maaf bila ada hal-hal yang mungkin dirasa kurang berkenan, tetapi kami sudah berusaha memberikan yang terbaik,” ujar Dr. Darmajaya dalam keterangannya di Denpasar, pada Kamis (15/10) lalu.
Dr. Darmajaya meluruskan bahwa pasien sejatinya belum masuk ke tahap pembedahan (operasi), melainkan baru menjalani prosedur pemeriksaan diagnostik. Dari hasil evaluasi medis, diagnosis pasti yang diidap almarhum adalah Akalasia Esofagus Primer, yaitu kondisi pengerasan atau kelumpuhan katup di area bawah kerongkongan sebelum masuk ke lambung.
Ia menjelaskan bahwa tindakan endoskopi dengan pembiusan total (general anesthesia) di kamar operasi merupakan prosedur standar untuk penanganan kasus tersebut. Namun, komplikasi langka terjadi pada tahapan pra-medikasi sebelum pembiusan penuh dilakukan.
“Ternyata beliau belum dilakukan pembiusan, baru dikasih obat pra-medikasi lalu muntah. Kondisi ini dinamakan aspirasi. Dalam kondisi pasien yang sudah diberi obat pelemas otot, jika muntah, sebagian muntahan dapat masuk ke saluran napas dan mengisi jaringan paru-paru. Inilah yang terjadi,” terang Dr. Darmajaya.
Terjadinya aspirasi tersebut memicu penurunan kadar oksigen (saturasi) secara drastis. Tim medis dengan cepat melakukan intubasi untuk mengamankan jalan napas. Kendati saturasi oksigen berhasil dinaikkan kembali, kondisi tubuh yang sempat mengalami kekurangan oksigen (hipoksia) dalam rentang waktu tertentu berdampak serius pada organ tubuh lainnya.
Sebagai langkah penanganan lanjutan, tim dokter RSUP Ngoerah sempat melakukan tindakan bronkoskopi untuk mencuci dan membersihkan jaringan paru-paru dari sisa makana yang masuk. Namun, efek hipoksia yang terjadi berisiko memicu komplikasi sistemik atau multiple organ failure, termasuk gangguan fungsi ginjal.
“Secara teori almarhum sebetulnya belum masuk ke tindakan operasi, memang baru direncanakan. Namun, proses pra-pembiusan ini menghadapi kasus langka yang menimbulkan risiko aspirasi. Kami sudah menangani sesuai dengan standar dan berupaya maksimal,” tambah Dr. Darmajaya.
Pihak RSUP Ngoerah menegaskan bahwa seluruh pasien, baik peserta BPJS Kesehatan maupun pasien umum, mendapatkan penanganan dengan standar fasilitas dan jajaran dokter spesialis yang sama tanpa diskriminasi.
“Sebagai rumah sakit rujukan tertinggi, memang tidak ada garansi 100 persen semuanya akan berjalan baik. Namun, kami punya komitmen berupaya yang terbaik. Kami hanya bisa memberikan pertolongan sebatas maksimal yang kita bisa berikan,” pungkasnya.
***