Menjaga Kualitas dan Berinovasi, Strategi Wadon Bali Bertahan di Tengah Dinamika Pasar
Putu Mawar Sri Ayu/ instagram/ balikonten
DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Perkembangan industri kreatif dan aksesoris tradisional di Bali menyajikan peluang sekaligus tantangan bisnis yang dinamis. Hal ini dirasakan langsung oleh Wadon Bali yang dirintis Ni Putu Mawar Sri Ayu sejak beberapa tahun lalu.
Memulai penjualan online sebelum akhirnya resmi membuka toko fisik sekitar tahun 2020 lalu, perjalanan bisnis perempuan yang Akrab disapa Jero Mawar ini diwarnai oleh aksi penjiplakan produk hingga persepsi keliru dari sebagian pelaku usaha salon (make-up artist).
Langkah pembukaan toko fisik dilakukan sebagai strategi menegaskan legalitas serta kualitas produk di tengah maraknya tiruan di pasar daring. Selain mengandalkan mutu bahan, diferensiasi usaha dibangun melalui tagline : service selamanya, perbaikan sanggul gratis bagi pelanggan.
“Kenapa saya buka toko? Soalnya kan banyak tuh penjiplak. Jadi kalau kita buka toko kan orang bisa melihat secara langsung. Dari segi tampilan mungkin terlihat sama, tapi untuk kualitas kan berbeda, apalagi kita ngasih servis selamanya gratis. Kita tetap mempertahankan kualitas, kita enggak tergiur banting harga kayak penjiplak,” ungkap Jero Mawar.

Terkait isu yang sempat berkembang bahwa hadirnya sanggul praktis dapat mematikan usaha salon lokal, pihak Wadon Bali menegaskan bahwa hadirnya produk inovatif ini justru membuka peluang kolaborasi.
“Sebenarnya dengan adanya Wadon Bali mereka berpikir mematikan usaha salon, padahal itu enggak, kita itu bisa bekerjasama,” ujarnya.
Meski produk sanggul hanya digunakan setiap ada upacara agama, Jero Mawar tetap optimis dengan usaha yang dijalani. Terlebih di Bali, kegiatan adat maupun upacara tidak pernah ada habisnya.
“Di Bali sebenarnya hari raya enggak putus-putus ya, kalau enggak rainan ada karya-karyanya banyak. Jadi perempuan Bali apalagi yang sudah menikah pasti pelu sanggul,” ujarnya.
Meski nama Wadon Bali kini telah dikenal masyarakat luas, banyak suka duka yang dialami Jero Mawar dalam mengembangkan bisnisnya.
Ditengah peningkatan beban pajak, hingga biaya administrasi aplikasi digital,
komitmennyauntuk tidak melakukan efisiensi berupa pemutusan hubungan kerja (PHK) tetap dipertahankan.
“Dukanya ya kayak sekarang pajak naik, admin aplikasi naik, ya saya tetap berusaha memberikan gaji yang sesuai dan saya enggak ada namanya efisiensi karyawan,” tambahnya
Selain terus berinovasi dan berbenah, Jero Mawar tidak merasa melihat usaha yang sama sebagai saingan bisnis. Namun sebagai pemantik untuk meningkatkan kualitas produk yang dihasilkan.
“Untuk generasi muda yang ingin membuka usaha, buatlah bisnis yang benar-benar bermanfaat, jangan FOMO. Terpenting tetap jaga kualitas produk yang kalian jual” pungkas Jero Mawar.
***


