04/11/2026

NCPI-Unud Gandeng Australia Bidik Kesejahteraan Krama Bali Lewat Riset Lima Tahun

WhatsApp Image 2026-11-03 at 20.11.35

BADUNG, BALIKONTEN.COM – Selama ini Bali lebih banyak dikenal dunia melalui keindahan alam, budaya, dan industri pariwisatanya.

Namun, di balik popularitas tersebut, muncul tantangan besar: bagaimana kekayaan budaya dan kearifan lokal Bali tidak hanya menjadi komoditas pariwisata, tetapi juga sumber pengetahuan untuk membangun masa depan masyarakatnya.

Perspektif inilah yang coba didorong melalui pembentukan Bali Australia Spirit Alliance (BASA), sebuah forum kolaborasi antara Nawa Cita Pariwisata Indonesia (NCPI) Bali, Universitas Udayana (Unud), dan Western Sydney University (WSU), Australia.


Kesepakatan tersebut ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dan Memorandum of Implementation (MoI) di Ruang Bangsa, Rektorat Universitas Udayana, Jimbaran, Badung, Selasa (3/11/2026), yang dirangkaikan dengan kuliah umum.

Menariknya, kolaborasi ini tidak hanya berbicara tentang pertukaran akademisi atau pengembangan pendidikan internasional. BASA justru diarahkan untuk menggali kekuatan Bali melalui penelitian bersama yang menyentuh pariwisata, adat, desa, lingkungan, hingga kehidupan masyarakat.

Ketua DPW NCPI Provinsi Bali, Agus Maha Usadha, mengungkapkan kerja sama ini dirancang untuk jangka waktu lima tahun ke depan. Western Sydney University dan Universitas Udayana akan menjadi mitra utama dalam mengembangkan berbagai penelitian yang nantinya berpeluang melibatkan universitas lain.

“Jadi, kerja sama kita dalam pengembangan riset bersama antara Australia dan Bali melalui Western Sydney University dan tentu akan dikembangkan ke universitas-universitas lain ke depan,” ungkap Agus.

Menurutnya, NCPI Bali tidak ingin hanya menjadi bagian dari kegiatan seremonial penandatanganan kerja sama. Organisasi ini akan mengambil peran sebagai penghubung antara kebutuhan akademisi, pemerintah, organisasi, dan masyarakat.

Dalam implementasinya, Prof. Sunarta akan menjadi salah satu tenaga ahli yang mendampingi para peneliti dari Australia, sekaligus membentuk tim peneliti Bali agar setiap kajian memiliki perspektif dan pemahaman lokal.

“Semua akan kita approach untuk kesuksesannya. Nah, tentu dalam hal ini expert kita adalah Pak Prof. Sunarta yang akan mendampingi researcher luar ini. Beliau akan membentuk tim researcher dari Bali yang akan mendampingi jembatan ini sehingga bisa menjadi satu wacana hasil yang bagus,” jelasnya.


Agus menegaskan, ada satu hal yang tidak boleh hilang dari kolaborasi tersebut, yakni spirit Bali itu sendiri. Penelitian harus berangkat dari realitas kehidupan masyarakat, termasuk hubungan antara pariwisata, adat, desa, dan komunitas lokal.

Menurutnya, ukuran keberhasilan pariwisata bukan semata-mata jumlah wisatawan atau besarnya perputaran ekonomi, melainkan sejauh mana sektor tersebut mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Nah, itu yang kita coba arah. Dan bagaimana generasi muda ke depan itu bisa sustainable, bisa bersaing dengan global system yang ada,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa generasi muda Bali harus mampu bersaing di tingkat global. Namun, persaingan tersebut harus disertai perlindungan, regulasi, dan kesempatan yang setara agar masyarakat lokal tidak hanya menjadi penonton dalam perkembangan industri global.

Sementara itu, Rektor Universitas Udayana, Prof. Ir. I Ketut Sudarsana, S.T., Ph.D., memandang BASA sebagai kesempatan mempertemukan kekuatan akademik internasional dengan kebutuhan riil masyarakat Bali.

Ia menegaskan, universitas tidak boleh hanya menghasilkan penelitian yang berhenti di ruang akademik. Ilmu pengetahuan harus mampu menjawab persoalan sosial, memperkuat masyarakat, serta menjaga nilai-nilai budaya.

“Visi kami untuk menjadi universitas yang unggul, mandiri, dan berakar pada budaya menjadi panduan dalam membangun kemitraan yang bermakna, baik di tingkat nasional maupun internasional,” ujarnya.

Salah satu program yang menjadi perhatian adalah Baliology for Social Impact atau Baliologi untuk Dampak Sosial. Program ini diarahkan pada pemberdayaan perempuan, generasi muda, dan komunitas desa adat Bali.

Selain penelitian bersama, kemitraan juga mencakup pengembangan program gelar, pertukaran staf dan tenaga pengajar, serta peningkatan kapasitas akademik.

Prof. Ketut Sudarsana menilai, kekayaan budaya dan kearifan lokal Bali memiliki nilai penting untuk dikaji secara akademis. Dengan demikian, pembangunan tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan sosial dan lingkungan.

Dalam pembagian peran, Western Sydney University membawa pengalaman di bidang penelitian dan manajemen proyek. Universitas Udayana menghadirkan kekuatan akademik serta pemahaman mendalam tentang Bali dan Indonesia.

Sedangkan NCPI Bali menjadi jembatan yang menghubungkan dunia akademik dengan masyarakat dan pemangku kepentingan.

“Kontribusi akademik yang bermakna memerlukan keterlibatan yang luas, merangkul masyarakat, serta para pemangku kepentingan yang berhubungan langsung dengan isu-isu yang sedang diselesaikan,” paparnya.

Dari perspektif Australia, Head of HADRI Western Sydney University, Prof. Nichole Georgeou, justru melihat Bali sebagai sumber pembelajaran penting mengenai bagaimana masyarakat menjaga harmoni di tengah dinamika sosial.

Selain persoalan keharmonisan, pihaknya juga tertarik mempelajari keberlanjutan dan ekologi di Bali.

Menurutnya, kolaborasi ini menjadi kesempatan untuk saling melengkapi pengetahuan. Sebab, masing-masing pihak memiliki pengalaman dan keunggulan yang belum tentu dimiliki mitranya.

“Kita benar-benar tidak tahu, karena kalian tidak tahu apa yang kita ketahui, dan kita pun tidak tahu apa yang kalian ketahui, serta bagaimana hal-hal tersebut berpadu untuk menciptakan sesuatu yang benar-benar istimewa dan unik di kawasan ini,” ungkapnya.

Hal senada disampaikan Guest Speaker, Dr. Rob Goodfellow. Ia mengaku memiliki kedekatan emosional dengan Bali dan telah mengunjungi Pulau Dewata lebih dari 100 kali.

Baginya, salah satu kekuatan Bali yang patut dipelajari adalah filosofi Tri Hita Karana, yang menyatukan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan.

Ia melihat nilai tersebut sebagai sesuatu yang justru semakin dicari masyarakat Barat.

Menurutnya, masyarakat Australia memiliki banyak hal untuk dipelajari dari cara masyarakat Bali menjaga hubungan spiritual, sosial, dan ekologis.

“Ini real, ini bukan filosofi saja. Yang real itu saya berteman dan pertemanan itu akan tahan untuk selama-lamanya,” tuturnya. (bk/gk)