Angkat Legong Bidadari ke Panggung PKB, Sanggar Cilinaya Denpasar Pukau Ardha Candra
Angkat Legong Bidadari ke Panggung PKB, Sanggar Cilinaya Denpasar Pukau Ardha Candra/ balikonten
DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Art Center Bali, kembali menjadi saksi bisu kemegahan tradisi dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Pada Senin (15/6) malam, sorot lampu dan gemuruh tepuk tangan penonton menyambut penampilan apik Parade (Utsawa) Gong Kebyar Anak-anak.
Pementasan malam itu mempertemukan Sekaa Gong Sanggar Cilinaya, Desa Adat Peguyangan, Kecamatan Denpasar Utara selaku Duta Kota Denpasar, yang bersanding dengan Sekaa Gong Santika Murti dari Banjar Demulih, Kecamatan Susut, Duta Kabupaten Bangli.
Persiapan matang yang memakan waktu selama lima bulan sejak Januari lalu akhirnya terbayar tuntas. Duta Kota Denpasar sukses menyuguhkan penampilan maksimal demi membawa nama baik daerah di panggung tertinggi seniman Bali tersebut. Dalam penampilannya, Sanggar Cilinaya melibatkan sedikitnya 68 orang anak-anak yang bertindak sebagai penari, penabuh, sekaligus pendukung jalannya pementasan dolanan.
Koordinator sekaligus Ketua Sanggar Cilinaya Denpasar, Ketut Sudiarta, mengungkapkan rasa syukur dan bangganya atas kerja keras seluruh tim, khususnya anak-anak yang telah berlatih tanpa kenal lelah.
”Persiapannya mulai di bulan Januari ini, dan kami sudah berusaha untuk menampilkan yang terbaik untuk mewakili Kota Denpasar. Anak-anak sangat bahagia dan bersyukur sekali bisa tampil. Biasanya bagi para seniman, jika sudah bisa tampil di panggung megah Ardha Candra itu rasanya memang luar biasa,” ujar Ketut Sudiarta dengan nada bangga.
Dalam pementasan kali ini, Sanggar Cilinaya membawakan tiga materi pertunjukan yang diawali dengan Tari Penyambutan, dilanjutkan dengan tabuh kreasi Puja, dan diakhiri dengan penampilan Dolanan sebagai pemungkas.
Garapan dolanan yang dibawakan malam itu tidak hanya sekadar hiburan visual bagi anak-anak, tetapi juga sarat akan pesan moral serta misi pelestarian warisan budaya lokal yang diselipkan oleh tim pembina.
”Di desa kami, Desa Adat Peguyangan, ada Legong Bidadari. Itu merupakan warisan dari dulu yang ingin kami munculkan kembali. Oleh karena itu, tim pembina dan penata memasukkan unsur cerita tersebut ke dalam dolanan anak-anak ini,” jelas Ketut Sudiarta mengenai latar belakang ide pementasan.
Melalui momentum Pesta Kesenian Bali ini, pihak sanggar dan tokoh masyarakat Peguyangan berharap agar pelestarian kebudayaan tidak berhenti sampai di panggung festival saja. Regenerasi seniman sejak usia dini dinilai menjadi kunci utama keberlanjutan adat dan tradisi di masa depan.
”Harapan kami untuk ke depannya, baik di tingkat desa adat maupun wilayah lainnya, seni budaya seperti ini bisa lebih dibangkitkan lagi melalui berbagai kreasi pembangunan dan pembinaan berkelanjutan,” pungkasnya.
***
