Harmoni Imlek di Puri Agung Jro Kuta: Perjamuan Kasih dan Simbol Toleransi Budaya Bali-Tionghoa
Harmoni Imlek di Puri Agung Jro Kuta Perjamuan Kasih dan Simbol Toleransi Budaya Bali-Tionghoa/ balikonten
DENPASAR, BALIKONETN.COM – Suasana penuh kekeluargaan menyelimuti Puri Agung Jro Kuta, Denpasar, saat digelarnya perjamuan khusus dalam rangka perayaan Imlek. Acara ini menjadi istimewa dengan kehadiran empat Bhante terkemuka, yakni Bhante Pannavaro, Bhante Subbhapanno, Bhante Jayamedho, dan Bhante Ratanadhiro.
Tak hanya para pemuka agama, acara ini juga dihadiri oleh tokoh-tokoh penting seperti Dirjen Bimas Buddha, Chairman World Buddhist Association dari Malaysia yang mewakili tamu mancanegara, serta Ketua Umum beserta jajaran Pemuda Theravada Nasional dan Bali.
Perwakilan Puri Agung Jro Kuta, I Gusti Ngurah Bagus Manu Raditya, menjelaskan bahwa pertemuan ini bukan sekadar seremonial, melainkan memiliki makna spiritual dan sosial yang mendalam.
“Pertemuan ini merupakan kesempatan bagi masyarakat untuk bersama-sama memohon keberkahan dan kemakmuran kepada Tuhan,” ujar Manu Raditya.
Ia juga menekankan bahwa acara ini adalah bentuk penghormatan terhadap tradisi yang telah lama ada. “Ini menunjukkan rasa hormat terhadap tradisi dan budaya yang ada, serta memperkuat hubungan antara masyarakat dan para Bhiksu atau Bhante,” tambahnya.
Manu menyebut, pemilihan Puri Agung Jro Kuta sebagai lokasi perjamuan bukanlah tanpa alasan. Selain karena nilai sejarah dan arsitekturnya yang khas, Puri ini memiliki ikatan historis yang kuat dengan komunitas Tionghoa.
“Puri Agung Jro Kuta memiliki hubungan baik dengan komunitas Tionghoa di Denpasar, sehingga menjadi lokasi yang tepat untuk perayaan Imlek,” jelas Manu Raditya.
Lebih lanjut, ia memaparkan beberapa alasan teknis dan filosofis lainnya Situs Bersejarah: Puri ini memiliki keunikan arsitektur dan tradisi yang masih terjaga kelestariannya. Lokasi Strategis: Berada di pusat kota Denpasar, memudahkan akses bagi para Bhante dan tamu undangan. Fasilitas Memadai: Kapasitas Puri dinilai sangat mumpuni untuk menyelenggarakan acara skala besar seperti perjamuan para Bhante ini.
Melalui momentum Imlek ini, Manu Raditya berharap pesan perdamaian dapat terpancar dari Bali ke seluruh penjuru. Pertemuan ini dianggap sebagai langkah nyata dalam menggalang toleransi antarumat beragama.
***
