Dari Lumpur Menuju Jurnal Ilmiah: Cara Dr. I Made Sudarsana Selamatkan Tradisi Mebuug-buugan Kedonganan
tradisi Mebuug-buugan di Kedonganan, Badung/ balikonten
MANGUPURA, BALIKONTEN.COM – Ritual mandi lumpur yang sempat mati suri selama enam dekade di Bali kini bertransformasi menjadi sorotan akademis global. Berkat dedikasi budayawan sekaligus akademisi Dr. I Made Sudarsana, S.Sn., M.Sn., tradisi Mebuug-buugan di Desa Adat Kedonganan, Badung, berhasil direkonstruksi secara kultural dan diangkat ke ranah riset ilmiah berstandar tinggi.
Tradisi Mebuug-buugan yang berakar dari kata ‘buug’ atau lumpur, dahulu dilakukan warga setempat sebagai simbol pembersihan diri lahir dan batin sehari setelah Hari Raya Nyepi (Ngembak Geni). Peserta melumuri tubuh dengan lumpur bakau (mangrove) sebelum membersihkan diri di laut. Namun, pergeseran zaman dan pudarnya rasa percaya diri generasi muda membuat ritual sakral ini sempat vakum selama kurang lebih 60 tahun.

Melihat kondisi tersebut, Dr. I Made Sudarsana bersama tokoh adat dan pemuda Kedonganan bergerak cepat melakukan rekonstruksi. Penataan ulang dilakukan tidak hanya pada aspek selebrasi, tetapi juga pada etika, tata cara, dan nilai spiritual agar tetap relevan dengan dinamika masyarakat modern tanpa kehilangan keaslian maknanya.
“Tradisi bukan sekadar nostalgia masa lalu, melainkan pengetahuan hidup yang harus terus direkonstruksi, dipahami rasionalitas ilmiahnya, dan diwariskan dengan kebanggaan oleh generasi penerus,” tegas Dr. I Made Sudarsana.
Tidak berhenti pada aksi lapangan, Dr. Sudarsana membawa fenomena kebudayaan ini ke dalam studi ilmiah yang mendalam. Melalui riset antropologi budaya, salah satunya dituangkan dalam karya bertajuk “Aktualisasi Tradisi Mebuug-buugan sebagai Benteng Budaya di Desa Adat Kedonganan, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung”, tradisi ini dipetakan ke dalam tiga dimensi krusial
Dimensi Ekologis: Mengangkat fungsi ekosistem hutan mangrove pesisir Kedonganan sebagai ruang hidup dan medium penyucian yang merekatkan manusia dengan alam.
Dimensi Psiko-Spiritual: Memaknai lumpur sebagai representasi kotoran atau sifat buruk manusia yang dilebur agar kembali suci.
Resistensi Budaya: Menjaga agar ritual sakral tidak tereduksi sekadar menjadi komoditas pariwisata komersial semata.
Langkah progresif Dr. Sudarsana membuktikan bahwa dunia akademis dan krama adat dapat berjalan beriringan. Publikasi ilmiah dan kerja nyata di tingkat lokal berhasil mengantar Mebuug-buugan meraih pengakuan resmi sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia.
Perjuangan Dr. I Made Sudarsana dalam merekonstruksi tradisi Mebuug-buugan memberi gambaran nyata tentang bagaimana ilmu pengetahuan bekerja dalam kehidupan spiritual dan kebudayaan Bali. Fenomena ini menemukan resonansi mendalam dengan hakikat Hari Raya Saraswati, hari suci turunnya ilmu pengetahuan (Vidya). Saraswati bukan sekadar momen ritual memuja kitab suci secara simbolis, melainkan panggilan untuk mengaktualisasikan akal budi dan rasionalitas demi menjaga keberlangsungan peradaban.
Memaknai Saraswati melalui rekam jejak penyelamatan tradisi Kedonganan memperlihatkan bahwa ilmu pengetahuan sejati adalah pengetahuan yang mengedukasi dan menghidupkan kembali apa yang sempat mati suri. Jika Mebuug-buugan menggunakan lumpur (buug) sebagai simbol peleburan kotoran diri menuju kebersihan lahir dan batin, maka ilmu pengetahuan bertindak sebagai pembersih kegelapan pemikiran (avidya). Dr. Sudarsana membuktikan bahwa bentuk pemuliaan tertinggi terhadap Dewi Saraswati di era modern adalah dengan mengaplikasikan Jnana (pengetahuan) untuk menyelamatkan identitas lokal dari kepunahan.
Melalui riset akademis yang teruji, ilmu pengetahuan berfungsi sebagai benteng yang melindungi nilai sakral tradisi agar tidak tergerus komersialisasi zaman. Inilah perwujudan nyata dari pemaknaan Hari Raya Saraswati: menggunakan kecerdasan intelektual dan ketajaman rasa untuk merawat warisan leluhur, mengubah ingatan masa lalu menjadi pengetahuan hidup, dan membawa kearifan lokal melangkah terhormat di panggung dunia.
Kini, tradisi yang sempat terkubur lumpur waktu tersebut bangkit kembali dan rutin dipadati ratusan warga dari berbagai kalangan usia, menjadikannya bukti nyata bahwa riset ilmiah dapat menjadi perisai ampuh bagi kelestarian budaya bangsa.
***

