Darurat 300 Kg Sampah Makanan dan Ancaman Konsumsi Mikroplastik Setara 1 Kartu ATM per Tahun
Darurat 300 Kg Sampah Makanan dan Ancaman Konsumsi Mikroplastik Setara 1 Kartu ATM per Tahun/ balikonten
DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Persoalan sampah di Indonesia, khususnya di Bali, telah memasuki taraf yang sangat memprihatinkan. Berdasarkan data penelitian, masyarakat Indonesia rata-rata menghasilkan sampah sisa makanan mencapai 300 kg per orang setiap tahunnya.
Angka ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu penghasil sampah sisa makanan terbesar di dunia, berada tepat di bawah Arab Saudi.
Hal tersebut diungkapkan oleh RWM Bali Site Manager (Waste4Change/ecoBali), Arbi Fuadi Mauldina, saat menjadi narasumber dalam forum Dialog Kenegaraan DPD RI bertajuk “Tata Kelola Sampah Terpadu Berbasis Ekosistem Masyarakat Daerah” yang diselenggarakan di Denpasar, Bali, pada Jumat, 25 September 2026.
Dalam pemaparannya, Arbi menjelaskan bahwa sistem pengelolaan sampah nasional masih terjebak pada paradigma lama “kumpul-angkut-buang”. Secara nasional, sekitar 69% sampah berakhir di TPA, 5% dibakar, dan 8,5% tidak terkelola, sedangkan yang berhasil didaur ulang hanya 7,5%.
Khusus di Provinsi Bali, riset mencatat timbulan sampah mencapai 4.281 ton per hari. Sebanyak 52% (2.220 ton) di antaranya tidak terkelola dengan baik—termasuk 824 ton dibakar, 944 ton terbuang ke lingkungan, dan 452 ton mencemari saluran air. Hanya 48% (2.061 ton) yang tertangani, di mana 1.897 ton diangkut ke TPA dan 164 ton didaur ulang.
“Dampak dari sampah yang tidak terkelola dan terbuang ke alam sangat mengerikan. Sampah plastik terurai menjadi mikroplastik, masuk ke aliran sungai, laut, dan dikonsumsi oleh ikan. Riset menunjukkan, tanpa disadari manusia mengonsumsi mikroplastik melalui makanan yang jumlahnya setara dengan satu kartu ATM per tahun,” tegas Arbi Fuadi Mauldina di hadapan peserta dialog.
Melihat timbulan sampah harian di Bali yang kini terus melonjak hingga 3.800 ton per hari, ia mendesak agar sinergi pemilahan di tingkat hulu segera diterapkan secara masif.
***