03/11/2026

Desa Gulingan Tekan Sampah 90 Persen, Kades Akui Perubahan Perilaku Tak Bisa Instan

Desa Gulingan Tekan Sampah 90 Persen, Kades Akui Perubahan Perilaku Tak Bisa Instan

Desa Gulingan Tekan Sampah 90 Persen, Kades Akui Perubahan Perilaku Tak Bisa Instan/ balikonten

MANGUPURA, BALIKONTEN.COM – Konsistensi pengelolaan sampah dari sumber membuahkan hasil nyata di Desa Gulingan, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung.

Sampah berserakan di wilayah desa itu berhasil ditekan hingga sekitar 90 persen. Lingkungan pun kini nyaris bebas dari timbunan sampah liar.

Perbekel Desa Gulingan, I Ketut Winarya menyebut, perubahan signifikan ini tidak terjadi secara instan.

Fondasinya adalah penerapan pengelolaan sampah berbasis sumber yang dimulai dari rumah tangga. Warga didorong memilah sampah sejak awal—organik, anorganik, dan residu—sehingga memudahkan proses pengolahan lanjutan di tingkat desa.

“ini berkat dukungan penuh dari masyarakat, Tim TPS3R Desa Gulingan, hingga tim kebersihan desa yang terus bekerja menjaga lingkungan agar tetap bersih,” ujar Winarya saat aksi bersih sampah plastik dalam rangka peringatan Hari Peduli Sampah Nasional di Banjar Angkeb Canging dan sekitarnya, Minggu (22/2/2026).

Model pengelolaan ini sejalan dengan kebijakan nasional melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang mendorong pengurangan sampah dari sumbernya, serta penguatan Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R).

Dalam berbagai publikasi KLHK, pengelolaan berbasis sumber dinilai efektif menekan timbulan sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA), sekaligus meningkatkan nilai ekonomi dari material daur ulang.

Di Desa Gulingan, Tim TPS3R bergerak setiap hari menelusuri sampah yang telah dipilah warga.

Sampah organik diolah lebih lanjut, sementara sampah anorganik yang masih bernilai ekonomi dipisahkan untuk didaur ulang.

Pada saat yang sama, tim kebersihan desa melakukan pemantauan rutin guna mencegah penumpukan di titik-titik rawan.

Ia menjelaskan, setiap hari Tim TPS3R Desa Gulingan secara aktif menelusuri sumber-sumber sampah yang telah dipilah oleh warga untuk kemudian dikelola sesuai jenisnya.

Di saat yang sama, tim kebersihan desa rutin melakukan pemantauan dan pembersihan lingkungan guna mencegah penumpukan sampah.

Tak hanya itu, masing-masing banjar menjalankan kegiatan kebersihan lingkungan (kesling) sebagai aktivitas harian. Pola gotong royong ini memperkuat sistem yang telah dibangun pemerintah desa.

“Seluruh elemen bergerak setiap hari. Inilah yang menjaga kebersihan lingkungan kami tetap terpelihara secara konsisten,” tegasnya.

Pendekatan kolaboratif antara warga, banjar, dan pemerintah desa menjadi kunci keberlanjutan program. Pengelolaan sampah tidak lagi bersifat seremonial, melainkan menjadi budaya yang dijalankan rutin.

Ke depan, Pemerintah Desa Gulingan berkomitmen memperkuat kesadaran masyarakat sekaligus membangun kerja sama antardesa. Langkah ini dinilai penting agar pengelolaan sampah tidak berhenti di batas administratif.

“Kami ingin menjaga agar Desa Gulingan tidak mengotori desa lain, begitu pula sebaliknya. Komitmen ini akan terus kami jalankan dengan dukungan pemerintah melalui penganggaran rutin setiap tahunnya,” pungkasnya.

Dengan capaian penurunan sampah berserakan hingga 90 persen, Desa Gulingan menjadi contoh bahwa perubahan perilaku di tingkat rumah tangga—jika dijalankan konsisten—mampu menghadirkan dampak nyata bagi kualitas lingkungan.

Bagi Bali yang tengah berjuang mengatasi persoalan sampah, praktik baik ini menjadi pengingat: solusi besar selalu dimulai dari rumah.

***

Pewarta: Redaksi

Editor: Redaksi

COPYRIGHT © balikonten.com 2026