09/09/2026

Penjor: Simbol Gunung Agung dan Kemakmuran Lengkap dengan Jenisnya

doa dan rangkaian galungan

Ilustrasi Penjor Galungan/ Philippe HELLOIN / Flicker/ Balikonten

DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Penjor adalah salah satu hal yang paling identik dengan Galungan dan Kuningan. Namun dibeberapa hal Penjor juga digunakan sebagai hiasan. Hari Raya Galungan, perayaan kemenangan dharma atas adharma dalam kepercayaan Hindu Bali, menjadi momen suci yang dirayakan setiap 210 hari sekali. Perayaan ini diisi dengan berbagai rangkaian upacara yang sarat makna, mulai dari Sugihan Jawa, Sugihan Bali, Penyekeban, Penyajahan, hingga Penampahan, yang mencapai puncaknya pada Hari Galungan.

Salah satu elemen paling ikonik dalam perayaan ini adalah penjor, sebuah tiang bambu yang dihias dengan indah, yang tidak hanya menjadi dekorasi, tetapi juga simbol spiritual yang mendalam. Penjor bukan sekadar hiasan, melainkan sarana ritual yang mencerminkan rasa syukur umat Hindu Bali kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas kemakmuran dan keberkahan hidup.

Makna Penjor dalam Hari Raya Galungan

Penjor adalah tiang bambu melengkung yang dipasang di depan rumah, pekarangan, atau tempat suci pada Hari Penampahan Galungan, tepatnya setelah pukul 12 siang pada Selasa Wage Wuku Dungulan. Penjor ini biasanya berdiri selama 42 hari hingga sehari setelah Hari Raya Kuningan. Dalam konteks Galungan, penjor menjadi bagian dari Piodalan Jagat, yaitu pemujaan besar kepada alam semesta, yang menegaskan keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan.

Secara umum, penjor melambangkan Gunung Agung, gunung suci yang dianggap sebagai pusat spiritual dan sumber kemakmuran di Bali, karena menyediakan air dan kesuburan tanah. Penjor juga mencerminkan rasa syukur umat Hindu atas kelimpahan hasil bumi dan keberkahan dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Elemen penjor seperti pala bungkah (umbi-umbian), pala gantung (buah-buahan seperti kelapa dan pisang), serta sajen pada sanggah penjor, merupakan persembahan yang menunjukkan hubungan harmonis antara manusia dan alam.

Filosofi Naga Basuki: Simbol Kemakmuran

Penjor juga diibaratkan sebagai Naga Basuki, makhluk mitologi Hindu yang melambangkan kesejahteraan dan kemakmuran. Bentuk penjor dirancang menyerupai tubuh naga, dengan setiap bagiannya memiliki makna filosofis yang terkait dengan dewa-dewa Hindu:

  • Bambu: Melambangkan badan naga dan Dewa Brahma, sebagai simbol kekuatan dasar penciptaan.
  • Janur muda: Menggambarkan kulit naga, menambah estetika alami penjor.
  • Dedaunan: Mewakili rambut naga dan Dewa Sangkara, simbol kehidupan dan alam.
  • Hasil bumi: Ditempatkan dalam wadah menyerupai endongan (tas anyaman dari janur), melambangkan perut naga dan Dewa Wisnu, dewa pemelihara yang membawa kelimpahan.
  • Sampian penjor: Ekor naga, simbol Parama Siwa, dewa pelebur dan transformasi.
  • Sanggah ardha candra: Kepala dan mulut naga, terbuat dari anyaman bambu berbentuk setengah lingkaran.
  • Kain putih kuning: Wastra yang melambangkan Dewa Mahadewa dan Dewa Iswara, menambah nilai sakral.

Filosofi Naga Basuki ini menggambarkan bahwa kemakmuran sejati berasal dari hasil bumi yang dipersembahkan dengan penuh syukur, mencerminkan harmoni antara manusia dan alam. Penjor juga menjadi pengingat akan keseimbangan kosmik yang diatur oleh kekuatan ilahi, menegaskan kemenangan dharma atas adharma.

Jenis-Jenis Penjor dalam Tradisi Bali

Dalam tradisi Hindu Bali, penjor dibagi menjadi dua jenis, masing-masing dengan fungsi dan karakteristik yang berbeda:

  1. Penjor Upakara

Penjor ini digunakan untuk keperluan ritual, seperti pada upacara Ngusaba di desa adat atau selama Hari Galungan. Penjor upakara dihias dengan bahan-bahan alami seperti pala bungkah (umbi-umbian), palawija (tebu, jagung, padi), pala gantung (kelapa, pisang), dan berbagai tumbuhan lainnya. Bahan-bahan ini mencerminkan hasil bumi setempat, menegaskan kemakmuran yang berasal dari alam. Misalnya, di daerah penghasil padi, penjor akan dihias dengan padi, sementara di daerah penghasil jagung, jagung menjadi elemen utama.

  1. Penjor Dekorasi

Berbeda dengan penjor upakara, penjor dekorasi dibuat untuk keindahan visual, bukan keperluan ritual utama. Penjor ini sering menggunakan bahan seperti styrofoam atau plastik untuk menambah estetika. Namun, seiring dengan Peraturan Daerah Provinsi Bali tentang pengurangan sampah plastik, penggunaan bahan-bahan non-alami disarankan untuk dikurangi, agar penjor tetap ramah lingkungan.

Untuk Hari Galungan, penjor upakara lebih dianjurkan karena sesuai dengan makna spiritual dan tradisi, dengan menggunakan bahan alami yang mencerminkan hasil bumi lokal.

Relevansi Penjor di Era Modern

Di tengah perkembangan zaman, penjor tetap menjadi simbol kemenangan spiritual dan kemakmuran dalam budaya Bali. Dengan menggunakan bahan alami, penjor mengajak umat untuk menjaga harmoni dengan alam, menghargai hasil bumi, dan bersyukur atas keberkahan Tuhan. Penggunaan bahan alami juga sejalan dengan upaya pelestarian lingkungan, terutama dalam mengurangi sampah plastik sesuai regulasi lokal.

Penjor yang sederhana namun penuh makna menjadi cerminan nilai-nilai luhur Hari Galungan. Yang di mana mengingatkan kita untuk tetap rendah hati, bersyukur, dan menjaga keseimbangan antara kebutuhan spiritual dan material.

***

Pewarta: Redaksi

Editor: Redaksi

COPYRIGHT © balikonten.com 2026

 

 

IKUTI KAMI DI GOOGLE NEWS UNTUK INFORMASI LEBIH UPDATE