03/11/2026

Dewasa Ayu Menikah Banyak, Februari Penuh Cinta, Ini Hari Baiknya

hari baik melangsungkan pernikahan bulan april 2024

ilustrasi gambar orang menikah/ innokurnia/ Balikonten

DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Penentuan hari baik dalam budaya Bali merupakan bagian penting dari kehidupan religius dan sosial masyarakat. Sistem ini dibangun melalui perpaduan pengetahuan tradisional yang dikenal sebagai Wariga, dilengkapi konsep Ala Ayuning Dewasa, rujukan Wariga Belog, serta siklus Wuku dan Sasih. Seluruh unsur tersebut saling terhubung dan menjadi pedoman utama dalam memilih waktu pelaksanaan upacara sakral, termasuk pernikahan, kelahiran, dan upacara potong gigi atau metatah.

Dalam tradisi Bali, pemilihan waktu tidak dilakukan secara acak. Setiap hari diyakini memiliki karakter dan pengaruh tersendiri terhadap kehidupan manusia. Oleh karena itu, masyarakat Bali memandang kalender tradisional sebagai sarana menjaga keharmonisan antara manusia, alam, dan kekuatan spiritual.

Wariga sebagai Dasar Perhitungan Waktu

Wariga merupakan inti dari sistem kalender tradisional Bali. Ilmu ini mengatur perhitungan hari baik dan hari yang perlu dihindari dalam berbagai aktivitas, baik bersifat sakral maupun keseharian. Wariga tidak sebatas mencatat tanggal dan hari, melainkan mempertimbangkan pergerakan benda langit, siklus bulan, serta pengaruh spiritual yang melekat pada setiap waktu.

Dalam Wariga dikenal konsep Kala-Kala, yaitu pembagian waktu berdasarkan sifat dan energinya. Setiap Kala memiliki karakter tertentu yang diyakini memengaruhi jalannya suatu kegiatan. Oleh sebab itu, masyarakat Bali menempatkan waktu sebagai unsur hidup yang berinteraksi langsung dengan manusia. Ketepatan memilih waktu dipandang sebagai langkah awal menjaga keseimbangan dan kelancaran upacara.

Ala Ayuning Dewasa sebagai Penentu Hari Baik

Konsep Ala Ayuning Dewasa digunakan untuk membedakan hari yang membawa pengaruh baik dan hari yang kurang menguntungkan. Dewasa Ayu merujuk pada hari dengan energi positif yang mendukung keharmonisan dan kelancaran, sehingga sering dipilih untuk pernikahan dan upacara Manusa Yadnya. Sementara itu, Dewasa Ala dipahami sebagai hari dengan pengaruh yang berpotensi menimbulkan hambatan.

Penentuan Dewasa didasarkan pada perhitungan Pancawara, Saptawara, Wuku, posisi bulan, serta pertimbangan kosmis lainnya. Dalam praktiknya, fenomena alam juga diperhatikan sebagai bagian dari pembacaan tanda-tanda waktu yang dianggap memiliki makna spiritual.

Wariga Belog sebagai Kitab Rujukan

Wariga Belog dikenal sebagai kitab rujukan yang menjabarkan perhitungan Wariga secara lebih rinci. Di dalamnya terdapat panduan tentang pengaruh waktu, termasuk klasifikasi Kala-Kala, Galah, dan Bebanten. Kitab ini membantu masyarakat memahami hari yang sesuai untuk berbagai upacara, sekaligus mengenali waktu yang sebaiknya dihindari.

Beberapa pengaruh waktu yang dijelaskan dalam Wariga Belog antara lain Kala Temah, yang dikaitkan dengan ketidakstabilan, Amerta Dewa yang membawa energi kehidupan dan kesucian, serta Carik Walangati yang sering dihubungkan dengan hambatan. Wariga Belog juga menekankan pentingnya membaca tanda-tanda alam sebagai bagian dari penentuan Dewasa.

Peran Wuku dan Sasih dalam Kalender Bali

Kalender Bali mengenal siklus Wuku yang terdiri dari 30 Wuku dalam rentang 210 hari. Setiap Wuku memiliki karakter yang dipercaya memengaruhi keberhasilan suatu upacara. Beberapa Wuku dipilih untuk memulai fase baru kehidupan, sementara Wuku tertentu dihindari karena dianggap membawa pengaruh kurang stabil.

Selain Wuku, terdapat siklus Sasih yang mengikuti peredaran bulan. Setiap Sasih membawa karakter energi yang berbeda. Sasih Kapat sering dipandang mendukung pertumbuhan dan awal kegiatan baru, sedangkan Sasih Kesanga identik dengan masa pembersihan dan perenungan. Pemilihan Sasih yang tepat diyakini berpengaruh langsung terhadap hasil upacara yang dilaksanakan.

Waktu dan Keseimbangan Kosmis dalam Kehidupan Bali

Seluruh konsep penentuan waktu dalam budaya Bali berlandaskan pemahaman bahwa waktu memiliki dimensi spiritual. Pemilihan hari baik bertujuan menjaga keharmonisan sesuai prinsip Tri Hita Karana, yaitu keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, alam, dan sesama manusia.

Dalam upacara pernikahan maupun Manusa Yadnya, waktu dipandang sebagai pemandu spiritual yang membantu manusia melangkah ke fase kehidupan berikutnya dengan selaras. Sistem Wariga dan kalender Bali menjadi warisan kearifan lokal yang terus dijaga karena dianggap mampu menjaga ritme kehidupan agar sejalan dengan alam semesta.

Hari Baik Pernikahan dan Manusa Yadnya di Tahun 2026

Memasuki tahun 2026, masyarakat Bali kembali merujuk pada Wariga Belog dan pedoman Ala Ayuning Dewasa untuk menentukan hari baik pernikahan dan Manusa Yadnya. Beberapa hari pada tahun tersebut dinilai memiliki pengaruh positif yang kuat berdasarkan perhitungan tradisional.

Pada bulan Februari 2026, terdapat hari-hari yang dinilai mendukung pelaksanaan upacara sakral. 18 Februari 2026 berada dalam pengaruh Amerta Dewa, yang dimaknai sebagai energi kehidupan dan kesucian. Hari ini dinilai sesuai untuk upacara potong gigi dan kelahiran karena diyakini membawa perlindungan spiritual.

Sementara itu, 21 Februari 2026 berada dalam pengaruh Ayu Nulus, yang melambangkan kelancaran dan keseimbangan hidup. Hari ini sering dipilih untuk pernikahan karena dipercaya mendukung keharmonisan rumah tangga dan ketenteraman dalam membangun kehidupan baru.

Pemilihan hari baik di Bali hingga kini tetap menjadi bagian penting dalam pelaksanaan upacara adat. Melalui Wariga, Wuku, dan Sasih, masyarakat Bali menjaga hubungan selaras antara tradisi, alam, dan nilai spiritual yang diwariskan secara turun-temurun.

***

Pewarta: Redaksi

Editor: Redaksi

COPYRIGHT © balikonten.com 2026