Tumpek Kandang, Kenapa Indentik dengan Hewan?
Ilustrasi sapi /TheDigitalArtist/ balikonten
DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Masyarakat Hindu di Bali memiliki cara luar biasa dalam menjaga keharmonisan alam semesta. Salah satu wujud nyatanya terlihat dalam perayaan Tumpek Kandang. Tradisi ini juga sering disebut Tumpek Wewalungan atau Tumpek Uye. Hari suci ini menjadi momen khusus untuk melaksanakan ritual selamatan bagi satwa peliharaan maupun hewan ternak.
Akar Tradisi dalam Lontar Kuno
Peringatan ini berakar kuat pada literatur suci warisan leluhur. Lontar Sunarigama mencatat secara jelas pedoman pelaksanaannya. Teks kuno tersebut menyatakan, “Saniscara Kliwon Uye pinaka prakertining sarwa sato”.
Kutipan suci tersebut mengarahkan umat untuk menjadikan hari Sabtu Kliwon wuku Uye sebagai tonggak utama pelestarian seluruh jenis satwa. Ajaran ini menjadi landasan filosofis yang dipraktikkan turun-temurun di Pulau Dewata.
Esensi Pemujaan: Siapa yang Sebenarnya Dipuja?
Banyak orang luar sering salah paham saat melihat ritual ini. Upacara selamatan untuk binatang disembelih dan satwa piaraan ini memiliki esensi spiritual yang sangat tinggi. Pada perayaan ini, umat Hindu memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang bermanifestasi sebagai Sang Hyang Siwa Pasupati atau Rare Angon, sang penggembala makhluk.
Fakta ini menegaskan satu hal mutlak: umat memuja Sang Pencipta, sama sekali tidak memuja binatang. Prinsip pemujaan kepada Tuhan ini berlaku seragam dan konsisten saat umat mengupacarai tumbuh-tumbuhan, senjata, maupun perangkat gamelan.
Ajaran Cinta Kasih kepada Sesama Makhluk Hidup
Ajaran Hindu memuat cinta kasih tanpa batas kepada seluruh ciptaan Tuhan. Sifat menghargai sesama manusia wajib diperluas penerapannya kepada satwa, tumbuhan, dan seluruh unsur alam. Agama Hindu memberikan amanat tegas untuk merawat keharmonisan hidup dengan semua makhluk. Keyakinan Hindu menyatakan setiap entitas bernyawa memiliki jiwa yang bersumber langsung dari Ida Sang Hyang Widhi.
Lontar Sarasamuscaya memberikan peringatan keras mengenai kewajiban berkasih sayang ini. Teks tersebut berbunyi, “Ayuwa tan masih ring sarwa prani, apan prani ngaran prana”. Pesannya sangat jelas: manusia dilarang mengabaikan kasih sayang kepada satwa, sebab makhluk hidup adalah representasi kekuatan alam itu sendiri.
Melalui pedoman lontar tersebut, umat Hindu secara aktif mempraktikkan kasih sayang universal. Perayaan ini menjadi medium pemujaan kepada Dewa Siwa Pasupati agar hewan peliharaan mendapat berkat kerahayuan. Secara realitas, hewan memberikan kontribusi masif bagi kelangsungan hidup manusia. Sapi atau kerbau menjadi tenaga penggerak utama bagi petani dalam menjalankan aktivitas agraris sehari-hari.
Hewan dengan status ubuan tunu seperti ayam, itik, dan babi berfungsi sebagai sumber protein penopang ketahanan pangan. Peternak terus mengembangbiakkan jenis-jenis satwa tersebut untuk memenuhi kebutuhan konsumsi. Di sisi lain, satwa langka seperti penyu hijau, burung jalak Bali, menjangan, dan kera membutuhkan tingkat perlindungan yang jauh lebih tinggi. Manusia memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga hewan-hewan eksotis tersebut dari ancaman kepunahan.
Refleksi Pengendalian Tri Guna
Ritual selamatan satwa ini menyadarkan manusia tentang keberadaan Tri Guna. Ketiga unsur dasar sifat manusia ini meliputi Satwam (sifat damai), Rajas (sifat ambisi), dan Tamas (sifat malas). Binatang secara alami didominasi oleh sifat Rajas dan Tamas.
Momen sakral ini menjadi waktu yang sangat tepat bagi umat untuk memohon penjagaan dari Tuhan. Manusia berdoa agar sifat hewani berupa ambisi berlebih dan kemalasan dijauhkan dari dalam diri. Harapannya, sifat Satwam atau kedamaian dapat tumbuh mendominasi karakter manusia seutuhnya.
Kitab Wrhaspati Tattwa ayat 24 telah menggarisbawahi bahaya sifat buruk ini: “Yapwan tamah magong ring citta, ya hetuning Atma matemahan triak, ya ta dadi ikang dharmasadhana denya, an pangdadi ta ya janggama”.
Kutipan ini menjabarkan sebuah konsekuensi spiritual. Apabila sifat tamah (malas) menguasai pikiran, Atma akan jatuh menjadi binatang. Kondisi tersebut menghalangi jiwa melaksanakan dharma, dan pada akhirnya bisa menyebabkan kelahiran kembali sebagai tumbuh-tumbuhan.
Pandangan Tokoh Agama: Kriteria Satwa dan Sarana Upakara
Perayaan Tumpek Kandang, seperti yang jatuh pada Sabtu 27 Agustus 2022 silam, selalu diisi dengan prosesi mengupacarai satwa peliharaan secara serentak di Bali. Ida Pedanda Bajing, tokoh agama Hindu dari Griya Gunung, Karangasem, membedah secara mendalam praktik upacara ini. Beliau menegaskan esensi ritual ini sebagai wujud nyata penghormatan manusia terhadap sesama ciptaan Sang Pencipta.
“Tumpek Kandang merupakan bentuk penghormatan yang dilakukan oleh manusia kepada binatang peliharaannya, sehingga wajib untuk diupacarai. Memohon kepada Tuhan supaya binatang yang dipelihara tersebut tetap sehat, cepat besar dan tidak terkena penyakit,” ungkap Ida Pedanda saat dijumpai di Griya Gunung, Jalan Raya Pesagi, Kabupaten Karangasem.
Manusia menerima berbagai manfaat ekonomi dan spiritual dari satwa peliharaannya. Sapi dan babi bernilai tinggi sebagai kelengkapan sarana upacara agama. Hewan ternak memberikan keuntungan finansial yang sangat membantu saat dijual oleh pemiliknya. Rasa syukur atas manfaat inilah yang diwujudkan dalam bentuk upacara. Manusia mendoakan kesehatan satwa peliharaan dan memohon perlindungan dari berbagai ancaman penyakit.
Ida Pedanda memaparkan kriteria spesifik satwa yang menjadi sasaran utama ritual. Prioritas upacara ini adalah binatang yang dipelihara manusia secara khusus di dalam kandang, seperti sapi, babi, hingga kambing. Kucing, anjing, dan ayam masuk dalam kategori binatang liar, terlepas dari kebiasaan segelintir orang yang mengandangkannya. Satwa berkarakter liar ini tidak termasuk dalam prioritas utama pelaksanaan upacara.
“Manusia terbantu oleh binatang saat bekerja. Manusia juga mendapat penghasilan dari menjual binatang peliharaannya. Binatang peliharaan tersebut wajib untuk diupacarai saat Tumpek Kandang sebagai wujud syukur manusia atas ciptaan Tuhan,” tambah Ida Pedanda memberikan penegasan.
Mengenai sarana upakara, aturannya sangat fleksibel dan menyesuaikan kemampuan ekonomi pemilik ternak. Penggunaan banten pejati sudah sangat memadai sebagai sarana upacara dasar. Bagi umat yang memiliki kelebihan rezeki, mereka dipersilakan menyusun banten yang lebih besar dengan tambahan ayam panggang atau kelengkapan pelengkap lainnya. Mempersembahkan banten pejati dinilai sudah memenuhi seluruh syarat spiritual dan makna filosofis dari upacara tersebut.
***
