02/11/2026

Ini Dia 5 Tradisi Unik Hari Raya Kuningan di Bali

lokasi dilaksanakannya tradisi mekotek

Tradisi Mekotek di Munggu, Mengwi/ Badungkab.go.id/ Balikonten

DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Umat Hindu di Bali kembali menyambut Hari Raya Kuningan yang jatuh pada Sabtu Kliwon, Wuku Kuningan. Momen sakral yang datang sepuluh hari setelah Galungan ini selalu dinanti, bukan hanya karena nilai spritualnya yang mendalam, melainkan juga karena kehadiran berbagai tradisi unik yang hidup di tengah masyarakat.

Setiap desa adat di Pulau Dewata memiliki tata cara tersendiri dalam merayakan Kuningan. Perbedaan ini justru memperkaya khazanah budaya Bali. Namun, secara umum, seluruh ritual ini bermuara pada satu tujuan luhur: ungkapan rasa syukur yang mendalam dari umat Hindu ke hadapan Ida Sesuhunan, para Leluhur, dan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Bagi Anda yang ingin menyelami lebih dalam kekayaan budaya Bali, berikut adalah lima tradisi unik Hari Raya Kuningan yang dirayakan dengan penuh sukacita di berbagai daerah.

1. Tradisi Mekotekan di Kabupaten Badung: Simbol Kemenangan dan Penolak Bala

Menuju ke bagian selatan Bali, tepatnya di Desa Adat Munggu, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Anda akan menjumpai riuhnya Tradisi Mekotekan. Berdasarkan catatan Jurnal Pelestarian Tradisi Mekotek Desa Adat Munggu kunyatan Universitas Pendidikan Ganesha tahun 2021, ritual ini bermula sebagai penghormatan untuk menyambut prajurit Kerajaan Mengwi yang pulang membawa kemenangan usai bertempur melawan Kerajaan Blambangan.

Sejarah mencatat tradisi ini sempat dilarang oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1915. Imbas dari penghentian tersebut, desa dilanda wabah penyakit misterius dan serangan hama parah yang menghancurkan hasil panen warga. Belajar dari peristiwa kelam itu, krama Desa Adat Munggu konsisten menggelar Mekotekan setiap 210 hari sekali pada Sabtu Kliwon Wuku Kuningan.

Saat prosesi berlangsung, setiap peserta pria membawa tongkat kayu pulet sepanjang sekitar 2,5 meter. Mereka berarak mengelilingi wilayah desa, lalu pada titik tertentu, tongkat-tongkat kayu tersebut ditabrakkan dan disatukan di udara hingga membentuk formasi menyerupai gunungan. Gesekan antarkayu memicu bunyi “tek, tek, tek” yang nyaring, menjadi asal-usul nama Mekotekan. Secara teologis dan sosial, tradisi ini berfungsi menetralisasi kekuatan negatif serta menjaga warga desa dari ancaman penyakit dan kegagalan panen.

2. Tradisi Mesuryak di Kabupaten Tabanan: Sukacita Mengantar Leluhur Kembali ke Surga

Bergeser ke Kabupaten Tabanan, tepatnya di Desa Bongan Gede, suasana Hari Raya Kuningan terasa begitu semarak dengan adanya Tradisi Mesuryak. Tradisi ini melibatkan aksi warga yang melemparkan uang ke udara, yang langsung disambut riuh oleh warga lain yang berebut sambil bersorak-sorai (mesuryak) penuh kegembiraan.

Merujuk data resmi situs Bongan.desa.id, Mesuryak mengandung makna filosofis yang mendalam, yaitu membekali dan mengantarkan roh para leluhur untuk kembali ke Swarga Loka. Umat Hindu meyakini bahwa para leluhur telah turun ke bumi selama sepuluh hari sejak Galungan, dan kepulangan mereka harus diantarkan dengan rasa bahagia, bukan kesedihan.

Dahulu kala, sarana yang dilemparkan adalah beras dan uang kepeng. Seiring perkembangan zaman, warga kini menggunakan uang kertas dan uang koin dengan nominal yang bervariasi, sesuai dengan kemampuan ekonomi dan ketulusan hati masing-masing keluarga. Ritual dimulai tepat pukul 09.00 WITA, diawali dengan persembahyangan di merajan (pura keluarga) serta Pura Khayangan Tiga desa setempat. Setelah itu, barulah aksi melempar uang dilakukan secara bergiliran dari rumah ke rumah oleh anggota keluarga yang dituakan, dan seluruh prosesi wajib berakhir tepat pada siang hari pukul 12.00 WITA.

3. Perang Jempana atau Dewa Masraman di Kabupaten Klungkung: Ekspresi Kemesraan Spiritual

Di Banjar Panti Timbrah, Desa Paksebali, Kabupaten Klungkung, terdapat tradisi unik bernama Dewa Masraman atau yang sering disebut warga sebagai Perang Jempana. Tradisi ini lahir dari jejak sejarah masa lalu ketika Raja Klungkung menerima migrasi sekitar 18 kepala keluarga dari Desa Adat Timbrah, Kabupaten Karangasem.

Rombongan tersebut diizinkan menetap di Desa Paksebali dan membentuk banjar baru. Di tempat tinggal yang baru ini, mereka tetap melestarikan tradisi Dewa Masraman yang biasa mereka gelar di desa asal, sehingga ritual ini tetap terjaga kelestariannya hingga detik ini.

Kata masraman berakar dari kata mesra, yang berarti bersenang-senang atau menjalin keakraban. Dalam pelaksanaannya, warga mengusung jempana atau joli yang menjadi tempat berstananya (linggih) Ida Sesuhunan. Setiap jempana digotong oleh dua orang pemuda. Sebanyak tujuh jempana diarak menuju sungai terdekat untuk menjalani prosesi penyucian diri bagi warga sekaligus lingkungan sekitar.

Puncak ketegangan terjadi saat rombongan kembali ke area jaba tengah Pura Panti Timbrah. Jempana-jempana tersebut disambut oleh penari Baris yang menghunus keris, lalu diarak dengan gerakan agresif seolah-olah sedang terjadi peperangan sengit. Aksi heroik ini menjadi simbol ungkapan kebahagiaan dan rasa terima kasih yang mendalam atas segala berkah kehidupan yang dianugerahkan oleh Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta para Dewata.

4. Tradisi Ngerebeg di Kabupaten Bangli: Ritual Catus Pata untuk Kesejahteraan Jagat

Kabupaten Bangli juga memiliki magnet budaya tersendiri saat Kuningan melalui Tradisi Ngerebeg. Ritual ini dijaga secara turun-temurun oleh masyarakat di Desa Adat Kawan dan Desa Adat Cempaga. Upacara biasanya dimulai saat matahari mulai condong ke barat, sekitar pukul 17.00 WITA, dan dipusatkan di Catus Pata (perempatan agung) Patung Tri Murti, sebelah utara Pasar Kidul, Bangli.

Melansir informasi dari situs Disparbud.banglikab.go.id, Ngerebeg melibatkan Ida Sesuhunan dari empat banjar adat yang berbeda. Keempatnya meliputi Ida Sesuhunan Pura Dalem Purwa (Banjar Adat Kawan), Ida Sesuhunan Pura Dalem Penunggekan (Banjar Adat Blungbang), Ida Sesuhunan Pura Dalem Pengringsingan (Banjar Adat Geria), dan Ida Sesuhunan Pura Dalem Gede Selaungan (Banjar Adat Pande).

Saat tiba di perempatan agung, keempat Sesuhunan menempati empat penjuru mata angin: Banjar Adat Kawan di barat, Banjar Adat Geria di timur, Banjar Adat Blungbang di selatan, dan Banjar Adat Pande di utara. Di titik pertemuan inilah berbagai sarana upakara dipersembahkan, dilanjutkan dengan persembahyangan bersama seluruh warga. Setelah ritual selesai, masing-masing iringan Sesuhunan kembali ke pura asal dengan mengitari wilayah banjar mereka. Tradisi Ngerebeg memuat permohonan spiritual agar Sang Hyang Catus Pata melimpahkan kesejahteraan bagi umat manusia serta menjauhkan wilayah hunian dari petaka tak kasat mata.

5. Tradisi Ngelawang: Seni Pertunjukan Keliling yang Menghidupkan Suasana Desa

Jika keempat tradisi sebelumnya terikat pada wilayah tertentu, Tradisi Ngelawang dapat Anda temukan di hampir seluruh kabupaten dan kota di Bali sepanjang perayaan Kuningan. Secara garis besar, Ngelawang terbagi menjadi dua sifat, yakni ritual yang sakral dan pementasan yang bersifat hiburan.

Pada Ngelawang sakral, sosok yang diarak keliling desa adalah Ida Sesuhunan yang berwujud Barong atau Rangda asli milik pura. Prosesi ini diiringi tabuhan gamelan Baleganjur dan diikuti oleh krama desa dengan khidmat. Tujuannya murni untuk memohon keselamatan semesta serta membersihkan desa dari vibrasi negatif.

Sebaliknya, Ngelawang hiburan tampil lebih santai dan jenaka. Biasanya diinisiasi oleh kelompok anak-anak atau remaja desa yang mengusung Barong atau Rangda tiruan yang tidak disakralkan. Mereka berjalan kaki mendatangi banjar-banjar dan mengetuk pintu rumah warga untuk menari. Sebagai bentuk apresiasi atas hiburan tersebut, pemilik rumah akan memberikan sejumlah uang atau upah. Suasana riang kerap pecah saat sosok Barong tiruan ini dengan sengaja mengejar anak-anak kecil yang menonton, menjadi hiburan segar yang selalu dirindukan setiap Hari Raya Kuningan tiba.

Bagi Anda yang tertarik menyaksikan langsung deretan tradisi unik Hari Raya Kuningan ini, pastikan Anda mengenakan pakaian adat ringan khas Bali sebagai bentuk penghormatan. Jangan ragu pula untuk berkomunikasi dengan pecalang atau warga lokal setempat guna mengetahui hal-hal apa saja yang menjadi pantangan selama prosesi adat berlangsung.

***

Pewarta: Redaksi

Editor: Redaksi

COPYRIGHT © balikonten.com 2026