Keunikan Tradisi Galungan di Desa Adat Tenganan Pegringsingan: Tanpa Penjor dan Makna Mendalam Banten Uduan
Barong Bangkung yang menjadi ikon saat tradisi ngelawang digelar/ Balikonten
KARANGASEM, BALIKONTEN.COM – Umat Hindu di berbagai penjuru Bali menyambut Hari Suci Galungan dengan penuh sukacita melalui persembahyangan di berbagai pura desa. Momentum ini menjadi simbol penting atas kemenangan Dharma (kebaikan) melawan Adharma (keburukan) yang dirayakan setiap enam bulan sekali.
Di balik kemeriahan umum tersebut, Kabupaten Karangasem menyimpan ragam tradisi unik yang memikat. Salah satu keunikan yang paling menonjol dapat dijumpai di Desa Adat Tenganan Pegringsingan, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem.
Sebagai salah satu desa Bali Aga atau desa purba di Bali, Tenganan Pegringsingan memiliki cara tersendiri dalam memaknai hari kemenangan ini. Suasana perayaan di desa ini menyajikan pemandangan yang kontras dengan wilayah Bali pada umumnya.
Persembahyangan Khusus Tanpa Berkeliling Pura
Pada perayaan Galungan umumnya, masyarakat Hindu berbondong-bondong melakukan persembahyangan keliling ke sejumlah pura di desa mereka dan melanjutkan ritual di rumah masing-masing. Pemandangan berbeda justru tampak di Tenganan Pegringsingan.
Warga desa tidak melaksanakan ritual keliling tersebut secara massal. Prosesi persembahyangan diwakili oleh perwakilan warga yang ditunjuk secara khusus. Mereka mempersembahkan tiga sesajen utama yang dikenal dengan nama Banten Uduan. Hal lain yang paling mencolok adalah absennya penjor. Jika jalanan Bali biasanya semarak dengan deretan penjor bambu yang menjulang tinggi, warga Tenganan Pegringsingan sama sekali tidak memasang penjor di depan kediaman mereka.
Filosofi Agung di Balik Banten Uduan
Perbedaan mendasar juga terletak pada bentuk dan tata cara pembuatan sarana upakara. Pembuatan Banten Uduan tidak dilakukan oleh setiap keluarga, melainkan oleh perwakilan warga yang telah mendapatkan mandat langsung dari prajuru (pengurus) desa adat. Perwakilan ini bekerja secara bergiliran berdasarkan sistem yang berlaku di desa.
Sarana upakara yang dipersembahkan memiliki struktur yang spesifik dan megah:
- Enam Tumpeng Besar: Memiliki ketinggian mencapai 40 sentimeter.
- Jajanan Tradisional: Dilengkapi dengan berbagai jenis jajan khas Bali.
- Buah Hasil Bumi: Memanfaatkan buah-buahan lokal asli yang segar.
- Tiga Dulang Besar: Seluruh sarana tersebut ditata dengan rapi di atas tiga wadah dulang berukuran besar.
Setelah seluruh sarana siap, prajuru desa adat mengantarkan sesajen tersebut ke tiga tempat suci utama sesuai dengan kedudukan ritualnya, yaitu Pura Puseh, Pura Bale Agung, dan Pura Ulun Swarga.
Detail Prosesi Penyembelihan dan Makna Simbolis
Prajuru Desa Adat Tenganan Pegringsingan menegaskan bahwa desa mereka tetap menaruh rasa hormat yang mendalam terhadap Hari Raya Galungan. Hanya saja, garis pelaksanaannya memang diwariskan secara berbeda. Bentuk sesajen yang khas dan ketiadaan penjor di desa ini merupakan simbol murni atas kebesaran serta keagungan alam semesta.
Perbedaan lini waktu dan proses persiapan juga terlihat sangat kontras. Ketika umat Hindu lain sibuk dengan tahapan seperti hari Penyekeban, Penyajaan, dan Penampahan, masyarakat Tenganan Pegringsingan menerapkan kontrol proses yang sangat ketat dan terjadwal. Mereka memberikan perhatian penuh pada ketepatan waktu kapan tahapan-tahapan tersebut harus dieksekusi.
Persiapan inti upacara Galungan di desa ini berfokus pada hari Kebantenan. Pada hari tersebut, warga melakukan prosesi pemotongan babi dengan ukuran yang lebih kecil. Daging hasil sembelihan itu langsung diolah pada hari Kebantenan itu juga untuk keperluan upakara. Olahan daging inilah yang menjadi bagian utama dari pembentukan Banten Uduan, yang dikerjakan bersama oleh krama desa adat yang mendapat giliran tugas. Selanjutnya, sarana suci ini dihaturkan di Pura Puseh, Pura Bale Agung, dan Pura Ulun Swarga.
Kalender Adat dan Fokus Perayaan Besar Desa
Berdasarkan kalender adat yang berlaku di Desa Adat Tenganan Pegringsingan, Hari Raya Galungan memang tidak diposisikan sebagai hari raya terbesar utama sebagaimana yang diyakini oleh masyarakat Hindu Bali pada umumnya.
Desa Bali Aga yang penuh sejarah ini memiliki tatanan ritual tersendiri. Mereka memegang teguh hari raya besar mereka sendiri yang berskala utama, yaitu Ngusaba Samba. Upacara besar Ngusaba Samba ini diselenggarakan secara berkala setiap satu tahun sekali dan menjadi pusat dari seluruh rangkaian ritual sakral masyarakat Desa Adat Tenganan Pegringsingan.
***
