Tak Seperti Desa Lain di Bali, di Sini Justru Tidak Ada Penjor Galungan
Ilustrasi Penjor Galungan/ Philippe HELLOIN / Flicker/ Balikonten
DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Perayaan Galungan di Bali identik dengan deretan penjor yang melungker anggun di pinggir jalan. Namun, atmosfer berbeda justru terasa di kantong-kantong pemukiman masyarakat Bali Aga. Penduduk asli Pulau Dewata yang mendiami desa-desa kuno seperti Tenganan, Trunyan, dan Sembiran ini merawat tradisi leluhur dengan cara yang sangat kontras dari umat Hindu Bali pada umumnya.
Bagi sebagian besar masyarakat adat Bali Aga, Galungan dan Kuningan yang jatuh setiap 210 hari sekali ini bukan merupakan hari raya utama. Mereka memiliki poros spiritual sendiri yang berpusat pada ritual tahunan warisan nenek moyang. Di Desa Tenganan Pegringsingan, Karangasem, misalnya, kedudukan upacara Ngusaba Sambah atau Saba jauh lebih sakral dan menjadi puncak ritual terbesar warga setempat.
Keteguhan menjaga pakem asli ini melahirkan keunikan ritual yang memikat. Saat seluruh Bali merias wajah desa dengan bambu hias, Desa Tenganan Pegringsingan justru sunyi dari penjor. Warga desa sengaja tidak memasang penjor karena bagi mereka, kebesaran dan keagungan alam semesta tidak perlu disimbolkan dengan sebatang bambu, melainkan diresapi dalam kesederhanaan yang mendalam.
Perbedaan mencolok juga terlihat jelas pada sarana upacara. Masyarakat Tenganan tidak membuat sesajen Galungan seperti yang biasa dijumpai di daerah lain. Sebagai gantinya, mereka membuat persembahan khusus bernama Banten Uduan. Sesajen khas ini berupa tumpeng besar berketinggian mencapai 40 sentimeter, yang disusun rapi bersama jajanan tradisional dan buah-buahan asli hasil bumi setempat.
Prosesi penghantaran sesajen ini pun diatur secara ketat lewat sistem adat. Warga tidak berbondong-bondong pergi ke pura, melainkan menitipkan Banten Uduan tersebut kepada perwakilan prajuru desa adat. Para pengurus adat inilah yang kemudian mengantarkan dan menghaturkan persembahan ke beberapa tempat suci utama, yaitu Pura Puseh, Pura Balagung, dan Pura Ulunarga.
Keberagaman ritual ini menegaskan betapa kayanya variasi tradisi di dalam tubuh Bali Aga sendiri. Tiap desa memegang teguh hukum adat yang diwariskan secara turun-temurun. Ada desa yang mengakhiri seluruh rangkaian upacara mereka secara tertib melalui tradisi Penyuudan Kuningan, tetapi ada pula desa Bali Aga lain yang memang sama sekali tidak menyelenggarakan ritual Galungan dalam kehidupan sosial mereka. Semua perbedaan ini berjalan harmonis, menjaga denyut nadi spiritualitas asli Bali tetap hidup hingga hari ini.
***
