03/11/2026

Komunitas Seni Nyenit Nyenir Petang Pukau Panggung PKB 2026, Tampilkan Epik Mitologi ‘Wong Amuha’

Komunitas Seni Nyenit Nyenir Petang Pukau Panggung PKB 2026, Tampilkan Epik Mitologi 'Wong Amuha'

Komunitas Seni Nyenit Nyenir Petang Pukau Panggung PKB 2026, Tampilkan Epik Mitologi 'Wong Amuha'/ balikonten

MANGUPURA, BALIKONTEN.COM – Duta Kabupaten Badung yang diwakili oleh Komunitas Seni Nyenit Nyenir, Banjar Sulangai, Desa Sulangai, Kecamatan Petang, sukses menyuguhkan Rekasadana (Pagelaran) Semara Pegulingan yang memukau ratusan penonton dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII tahun 2026, di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya (Art Centre) Denpasar, pada Kamis (25/6).

​Penampilan tersebut disaksikan langsung Bupati Badung, I Wayan Adi Arnawa, didampingi Ny. Rasniathi Adi Arnawa. “Secara umum, penampilannya sangat luar biasa. Saya sangat mengapresiasi semangat generasi muda kita yang tampil totalitas dalam ajang Pesta Kesenian Bali ini,” ujar Bupati Adi Arnawa.

​Sebagai bentuk dukungan nyata Pemerintah Kabupaten Badung, Bupati Adi Arnawa menyerahkan langsung uang pembinaan sebesar Rp20 juta kepada komunitas seni tersebut di akhir acara.

​”Karena saat gladi resik saya tidak sempat menyerahkan apresiasi tersebut, jadi hari ini saya serahkan langsung. Seluruh duta Kabupaten Badung yang tampil di PKB dipastikan mendapatkan apresiasi serupa,” tegasnya.

Ketua Komunitas Seni Nyenit Nyenir, I Made Yudiarta, mengungkapkan bahwa pementasan ini merupakan buah dari kerja keras dan latihan intensif selama lima bulan terakhir, termasuk serangkaian uji coba panggung demi performa yang maksimal.

​Dalam pagelaran kali ini, Komunitas Seni Nyenit Nyenir yang melibatkan 50 seniman, mulai dari pembina, penabuh, penari, hingga tim produksi, menyuguhkan empat materi garapan yang sarat estetika.

​Pementasan diawali dengan Tabuh Penegak bertajuk “Sekar Taman”, dilanjutkan dengan Tari Jauk Longor, dan Tabuh Kreasi “Kartika Masa”. Puncak pementasan yang dinantikan penonton adalah Tari Legong Kreasi “Wong Amuha”.

​Yudiarta menjelaskan, Tari Legong Kreasi “Wong Amuha” mengangkat mitologi Bali tentang keberadaan makhluk tak kasat mata atau yang akrab disebut wong samar. Pementasan ini bukan sekadar hiburan visual, melainkan sebuah refleksi teologis yang mendalam.

​”Tari Legong ini merupakan perwujudan pemuliaan terhadap sesama makhluk ciptaan Tuhan. Bagaimanapun, mereka juga memiliki atman yang bersumber dari percikan kecil Sang Hyang Widhi Wasa,” urai Yudiarta.

​Melalui karya pamungkas ini, Komunitas Seni Nyenit Nyenir ingin menyampaikan pesan kemanusiaan dan spiritual yang universal kepada masyarakat modern.
​”Pesan yang ingin kami sampaikan adalah mengajak masyarakat untuk selalu memuliakan apapun ciptaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Kita harus menghormati makhluk ciptaan-Nya, sekalipun itu adalah makhluk yang dianggap menyeramkan oleh manusia,” tambahnya.

​Di akhir wawancara, Yudiarta menaruh harapan besar agar Pesta Kesenian Bali terus konsisten menjadi garda terdepan dalam menjaga peradaban Bali. Ia juga mendorong para seniman di seluruh Bali untuk tidak lelah menggali potensi kearifan lokal.

​”Harapan saya, seluruh duta dari kabupaten/kota di Bali tetap konsisten menggali mitologi dan kearifan lokal untuk menyebarkan nilai-nilai positif kepada masyarakat luas. Semoga PKB selalu menjadi ujung tombak dan wadah utama dalam melestarikan kebudayaan Bali,” pungkasnya.

***

Pewarta: Sukma Wilatri

Editor: Redaksi

COPYRIGHT © balikonten.com 2026