Menyelami Filosofi Penampahan dan Hari Raya Kuningan 2026: Dari Pemotongan Sifat Buruk hingga Turunnya Para Dewa
Ilustrasi Penjor Galungan/ Philippe HELLOIN / Flicker/ Balikonten
DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Aroma wangi dupa dan kesibukan menata banten bakal kembali menghiasi setiap sudut rumah umat Hindu di Bali. Pada Sabtu, 27 Juni 2026, mereka menyambut perayaan Hari Raya Kuningan. Tepat satu hari sebelumnya, yakni pada Jumat Wage Wuku Kuningan atau 26 Juni 2026, seluruh umat lebih dulu menjalani fase krusial bertajuk Penampahan Kuningan.
Aktivitas Penampahan Kuningan menyimpan dimensi spiritual yang sangat sarat makna. Hari tersebut merupakan momentum pembersihan diri, baik secara lahir maupun batin. Lewat ritual ini, umat menata kesiapan hati demi menyambut turunnya anugerah Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta seluruh manifestasi-Nya.
Makna Hari Penampahan
Landasan filosofis Penampahan tertuang jelas dalam Lontar Sundarigama lewat kalimat “Sapuhakna malaning jnyana” yang berarti seruan untuk menghilangkan kekotoran pikiran.
Jero Mangku Ketut Maliarsa menjelaskan bahwa pesan lontar tersebut sejalan dengan akar kata Penampahan itu sendiri. Secara linguistik, kata ini terbentuk dari kata dasar ‘tampah’ yang berarti menyembelih atau memotong, lalu mendapat imbuhan pe-an yang bermakna menjadikan sesuatu.
Secara harfiah, ada objek yang dipotong. Namun dalam kacamata filsafat Hindu, objek pemotongan tersebut bersifat metafisik. Umat diminta memangkas habis sifat-sifat negatif di dalam diri, seperti ahamkara (ego atau keakuan), momo angkara (keserakahan), serta berbagai kegelapan batin yang menjauhkan manusia dari nilai-nilai dharma.
“Semua sifat itu harus dipotong atau dipangkas dengan jalan upacara mabyakala secara nyata, tetapi secara tidak nyata kita harus mulat sarira atau koreksi diri agar tidak memunculkan sifat-sifat keraksasaan dan diubah dijadikan sifat-sifat kemanusiaan sehingga mempunyai hati nurani,” jelas Jero Mangku Ketut Maliarsa.
Konsep pemangkasan karakter buruk ini dipertegas kembali dalam Lontar Sundarigama melalui istilah “pamyakala kala malaradan”, yakni proses memusnahkan sifat kebinatangan dalam diri manusia. Penampahan Kuningan lantas menjadi puncak persiapan batin seorang praktisi Hindu guna memenangkan dharma melawan adharma di medan perang sesungguhnya: pikiran sendiri.
Prosesi tersebut berkaitan erat dengan ajaran nyomya bhuta kala atau penetralan energi negatif tubuh, yang kerap disebut nyupat angga sarira.
“Pesan utama arti Hari Suci Penampahan Kuningan adalah menciptakan situasi dan kondisi agar para umat Hindu mampu mulat sarira atau mawas diri,” ujar pemangku asal Desa Bondalem tersebut.
Penyucian angga sarira lewat upacara mabyakala memang penting, namun menjaga kejernihan pikiran agar hidup bermahkotakan kemuliaan adalah tujuan akhirnya. Bekal kesucian inilah yang dibawa umat saat melangkah ke keesokan harinya.
Makna Hari Raya Kuningan
Sepuluh hari setelah Galungan berlalu, tepatnya pada Saniscara Kliwon Wuku Kuningan (Tumpek Kuningan), puncak perayaan tiba. Kepercayaan Hindu meyakini Hari Raya Kuningan sebagai momentum payogan Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta manifestasi-Nya. Para dewa-dewi, bhatara-bhatari, hingga Dewa Hyang Pitara turun ke bumi membawa limpahan berkah bagi manusia.
Sebagai bentuk pemujaan, umat menghaturkan nasi kuning. Hidangan sarat simbol ini mewakili kebijaksanaan sekaligus kemakmuran, selaras dengan doa umat agar dianugerahi kesejahteraan, kesuburan, dan kelancaran rezeki.
“Upacara-upakara ini sebagai wujud ucapan syukur para umat Hindu dan disertai rasa terima kasih kepada semua yang turun dan juga sebagai wujud rasa hormat kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta manifestasinya karena telah melimpahkan rahmatnya,” kata Jero Mangku Ketut Maliarsa.
Tradisi masyarakat Bali membahasakan rasa terima kasih yang tulus ini dengan sebutan “ngaturang suksemaning idep”.
Ada satu aturan waktu yang dijaga ketat dalam perayaan ini: seluruh rangkaian persembahyangan dan penghaturan bebantenan wajib rampung pada pagi hari hingga sebelum tenggat waktu tengah hari. Durasi pagi tersebut diyakini sebagai momen mengalirnya vibrasi keheningan serta pancaran kesucian tertinggi.
Setiap palinggih dihiasi berbagai simbol estetis yang kaya pesan moral. Ada tamiang yang melambangkan ketajaman sekaligus kesucian akal budi, lalu endongan sebagai representasi bekal spiritual dalam melawan adharma. Tidak ketinggalan kolem atau pidpid, penanda stana atau tempat bersemayamnya Ida Sang Hyang Widhi Wasa, para dewa, serta leluhur.
“Pelaksanaan upacara dan upakara pada hari suci Kuningan pada pagi hari sampai tengah hari juga bermakna bahwa lewat tengah hari para dewa, bhatara, dewa hyang pitara dan leluhur sudah kembali ke swarga loka,” pungkasnya.
***
