03/11/2026

Krisis BBM di Bali Picu Lonjakan Penumpang Trans Metro Dewata, Pakar Transportasi Ingatkan Fenomena Captive Rider

Krisis BBM di Bali Picu Lonjakan Penumpang Trans Metro Dewata, Pakar Transportasi Ingatkan Fenomena Captive Rider

Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Wilayah Bali, Dr. Ir. I Made Rai Ridartha, ATD., M.Eng.Sc.,/ balikonten

DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang memicu antrean panjang di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Bali kini berdampak nyata pada peningkatan penggunaan transportasi umum. Masyarakat yang kesulitan mendapatkan BBM mulai beralih menggunakan armada bus perkotaan.

Manajer Trans Metro Dewata, Ida Bagus Eka Budi, mencatat adanya lonjakan signifikan pada jumlah penumpang harian. Pada Selasa (13/10/2026), jumlah penumpang bertambah sebanyak 791 orang atau melonjak sekitar 14 persen dibandingkan hari sebelumnya.

Menanggapi lonjakan tersebut, Akademisi, Pakar Transportasi, sekaligus Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Wilayah Bali, Dr. Ir. I Made Rai Ridartha, ATD., M.Eng.Sc., menilai bahwa krisis BBM telah memaksa sebagian masyarakat beralih ke angkutan publik akibat tidak memiliki pilihan lain.

“Orang-orang yang tadinya tidak naik, namun karena berbagai alasan atau terpaksa mereka naik angkutan umum. Itulah yang dikatakan namanya captive rider. Jadi adalah orang-orang yang terpaksa naik angkutan umum karena tidak punya pilihan,” kata Rai Ridartha saat diwawancarai via telepon pada Kamis (15/10/2026).

Namun, menurut Rai Ridartha, penumpang Trans Metro Dewata saat ini tidak hanya diisi oleh captive rider, melainkan juga kelompok pengguna cerdas yang mampu memperhitungkan efisiensi dan kenyamanan moda transportasi umum.

“Dia bukan tidak punya kendaraan, tetapi ngapain saya bawa kendaraan sendiri, sementara ada dengan murah, bisa tiduran, ada AC,” jelasnya.

Kelangkaan BBM di Bali Picu Kenaikan Penumpang Trans Metro Dewata hingga 14 Persen
Kelangkaan BBM di Bali Picu Kenaikan Penumpang Trans Metro Dewata hingga 14 Persen/ balikonten

Mengenai keberlanjutan lonjakan 14 persen tersebut, Rai Ridartha memprediksi tidak semua penumpang baru akan bertahan jika ketersediaan BBM kembali normal. Keterbatasan akses lintasan dan jarak tempuh ke halte menjadi tantangan utama yang membuat warga enggan bertahan.

“Harapan kita, 14 persen ini setengahnyalah bertahan. Setengahnya bertahan di Trans Metro karena dia merasakan kenyamanan, sementara setengah lagi mungkin kembali memilih kendaraan pribadi karena harus berjalan jauh untuk mencapai koridor,” ungkapnya.

Selain mendorong keterpakaian bus perkotaan, kelangkaan BBM ini juga memberikan dampak positif bagi penyedia jasa transportasi berbasis listrik, seperti ojek dan taksi online dengan kendaraan listrik yang dapat terus beroperasi tanpa kendala bahan bakar. Kendati memicu daya tarik masyarakat terhadap kendaraan listrik, Rai Ridartha menilai proporsi peningkatannya masih perlu kajian lebih lanjut.

***

Pewarta: Sukma Wilatri

Editor: Redaksi

COPYRIGHT © balikonten.com 2026