Bali Kelangkaan BBM, Warga Mulai Beralih ke Transportasi Umum, Trans Metro Dewata Mulai Dilirik
Kelangkaan BBM di Bali Picu Kenaikan Penumpang Trans Metro Dewata hingga 14 Persen/ balikonten
DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang memicu antrean panjang di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Bali berdampak pada peningkatan penggunaan transportasi publik. Trans Metro Dewata mencatat pertambahan jumlah penumpang seiring dengan meningkatnya kesulitan masyarakat mendapatkan BBM dan kemacetan lalu lintas di sejumlah kawasan.
Manajer Trans Metro Dewata, Ida Bagus Eka Budi, mengatakan jumlah penumpang pada Selasa (13/10) bertambah 791 orang dibandingkan sehari sebelumnya. Kenaikan tersebut mencapai sekitar 14 persen.
“Ada kenaikan jumlah pengguna sebesar 791 orang atau sekitar 14 persen di hari Selasa, 13 Oktober, jika dibandingkan dengan hari Senin, 12 Oktober,” kata Eka Budi saat dikonfirmasi di Denpasar, Rabu.
Data operator memperlihatkan peningkatan penggunaan layanan bus tersebut berlangsung selama tiga hari, yakni pada 11–13 Oktober. Di tengah situasi kelangkaan BBM, masyarakat mulai memanfaatkan Trans Metro Dewata sebagai alternatif perjalanan untuk menunjang aktivitas sehari-hari.
Data Penumpang Trans Metro Dewata Meningkat Selama Kelangkaan BBM
Rekapitulasi operasional menunjukkan jumlah penumpang Trans Metro Dewata pada Minggu (11/10) mencapai 5.865 orang. Pada hari yang sama, bus melayani 255 ritase, sedangkan satu jadwal perjalanan tidak dapat dilaksanakan. Kondisi tersebut terjadi ketika antrean BBM mulai terlihat di kawasan Sarbagita, yang mencakup Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan.
Sehari kemudian, jumlah penumpang tercatat sebanyak 5.710 orang. Meski angka tersebut lebih rendah dibandingkan hari Minggu, operasional bus menghadapi kendala lebih besar. Dari total 239 ritase, terdapat 17 jadwal perjalanan yang tidak terlayani akibat antrean BBM yang semakin padat dan kemacetan lalu lintas.
Situasi berubah pada Selasa (13/10), ketika jumlah pengguna meningkat menjadi 6.501 penumpang. Pada hari tersebut, Trans Metro Dewata mencatat 240 ritase dengan 16 jadwal perjalanan yang tidak terlaksana.
Angka itu menempatkan Selasa sebagai hari dengan jumlah penumpang tertinggi selama periode pengamatan tiga hari tersebut. Dibandingkan Senin, pertambahan penumpang mencapai 791 orang atau sekitar 13,9 persen, sesuai dengan angka kenaikan yang disampaikan manajemen.
Perubahan jumlah pengguna juga terlihat ketika data selama masa kelangkaan BBM dibandingkan dengan kondisi pada awal bulan.
Eka Budi menjelaskan, rata-rata penumpang harian Trans Metro Dewata pada 1–10 Oktober mencapai 5.645 orang. Sementara itu, rata-rata jumlah penumpang selama 11–13 Oktober meningkat menjadi 6.025 orang per hari.
Selisih kedua periode tersebut mencapai 380 penumpang setiap hari, atau sekitar 6,7 persen. Dengan demikian, rata-rata penggunaan layanan bus meningkat hampir 7 persen selama tiga hari ketika gangguan pasokan BBM terjadi.
Data tersebut memperlihatkan perubahan pola penggunaan transportasi masyarakat Bali dalam waktu singkat. Ketika memperoleh BBM semakin sulit dan perjalanan di jalan raya memerlukan waktu lebih lama, layanan bus publik menjadi salah satu pilihan untuk mencapai tempat kerja, pusat kegiatan, dan tujuan lainnya.
Kenaikan Penumpang Diikuti Kendala Operasional Bus
Peningkatan jumlah penumpang membawa tantangan bagi pengelola Trans Metro Dewata. Bertambahnya pengguna layanan menuntut perjalanan yang konsisten, sementara kondisi lalu lintas dan ketersediaan BBM justru menghambat pelaksanaan jadwal.
Eka Budi mengungkapkan, puluhan jadwal perjalanan tidak dapat dijalankan selama periode tersebut. Gangguan operasional juga berdampak pada jam kerja personel yang bertugas melayani penumpang.
“Sisi negatifnya layanan ke masyarakat berkurang, 34 jadwal tidak terlayani, dan personil kami pulang menjelang subuh,” ujar Eka Budi.
Pihak pengelola berharap gangguan akibat kelangkaan BBM segera berakhir agar pelayanan kepada masyarakat kembali berjalan sesuai jadwal. Manajemen juga menilai penambahan armada maupun personel secara mendadak sulit diterapkan ketika hambatan utama masih terjadi di lapangan.
Menurut Eka Budi, terdapat dua persoalan yang paling memengaruhi operasional Trans Metro Dewata. Pertama, kemacetan parah akibat kepadatan lalu lintas yang memperlambat pergerakan bus. Kedua, kendaraan operasional turut mengalami kesulitan memperoleh BBM di SPBU.
Kedua kendala tersebut membuat bus tidak selalu dapat menyelesaikan perjalanan sesuai waktu yang direncanakan. Antrean kendaraan di jalan raya memperpanjang waktu tempuh, sedangkan kesulitan pengisian BBM membatasi kelancaran operasional armada.
Jumlah bus yang beroperasi tetap mengikuti ketentuan dalam mekanisme layanan Buy The Service (BTS). Namun, jumlah perjalanan yang berhasil dilaksanakan belum dapat memenuhi seluruh jadwal harian akibat hambatan di lapangan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa peningkatan permintaan terhadap transportasi publik perlu diimbangi dengan kelancaran operasional. Ketika gangguan energi terjadi secara bersamaan dengan kemacetan, kemampuan pengelola mempertahankan ketepatan jadwal menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kualitas pelayanan.
Koridor 2 Trans Metro Dewata Menjadi Jalur dengan Kepadatan Tinggi
Di antara sejumlah rute yang dilayani Trans Metro Dewata, lonjakan kepadatan penumpang paling tinggi dilaporkan terjadi pada koridor utama yang menghubungkan Terminal Ubung dengan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai.
Koridor 2 tersebut menghubungkan salah satu terminal penting di Denpasar dengan bandara yang menjadi pintu masuk utama wisatawan ke Bali. Rute ini melayani kebutuhan perjalanan masyarakat sekaligus penumpang yang hendak menuju atau meninggalkan kawasan bandara.
Tingginya penggunaan koridor tersebut memperlihatkan peran transportasi publik dalam menghubungkan simpul-simpul mobilitas utama di wilayah Bali selatan. Dalam situasi pasokan BBM terganggu, layanan yang menjangkau terminal dan bandara memiliki nilai strategis bagi masyarakat yang membutuhkan moda perjalanan alternatif.
Kepadatan penumpang juga berkaitan dengan kondisi lalu lintas di kawasan perkotaan dan jalur penghubung antarkawasan. Ketika volume kendaraan meningkat dan waktu tempuh bertambah, masyarakat perlu mempertimbangkan pilihan perjalanan yang dapat mendukung aktivitas mereka dengan lebih efisien.
Meski demikian, peningkatan jumlah pengguna harus disertai ketersediaan layanan yang memadai. Jadwal yang tidak terlaksana berpotensi mengurangi kemudahan perjalanan, terutama bagi penumpang yang mengandalkan bus untuk mengejar waktu keberangkatan atau menjalankan kegiatan dengan jadwal tetap.
Dishub Bali Dorong Pemanfaatan Transportasi Publik
Dinas Perhubungan (Dishub) Bali sebelumnya telah menempatkan Trans Metro Dewata dan Trans Sarbagita sebagai pilihan transportasi publik di tengah kendala pasokan energi. Kedua layanan tersebut melayani pergerakan masyarakat di wilayah aglomerasi dan menjadi alternatif bagi pengguna kendaraan pribadi.
Kepala Dishub Bali, I Kadek Mudarta, menyampaikan bahwa jumlah penumpang harian Trans Metro Dewata dan Trans Sarbagita cenderung konsisten berada pada angka 5.000 orang dalam beberapa bulan terakhir.
Dishub Bali juga mencatat sejumlah rute dengan tingkat kepadatan tinggi. Pada Trans Metro Dewata, rute tersebut mencakup Koridor 1 yang melayani perjalanan dari Terminal Persiapan menuju Sentral Parkir Kuta, Koridor 2 dari Terminal Ubung menuju Bandara I Gusti Ngurah Rai, serta Koridor 5 dengan rute Titi Banda.
Rute-rute tersebut menghubungkan kawasan permukiman, pusat aktivitas masyarakat, dan lokasi yang menjadi tujuan perjalanan harian. Tingginya penggunaan layanan di sejumlah koridor memperlihatkan kebutuhan masyarakat terhadap angkutan umum yang dapat menjangkau berbagai titik penting di Bali.
Dari sisi armada, operasional transportasi publik tersebut mengandalkan 69 unit bus Trans Metro Dewata dan 10 unit bus Trans Sarbagita. Armada itu digunakan untuk melayani mobilitas masyarakat di wilayah aglomerasi Bali.
Tarif perjalanan yang berlaku sebesar Rp4.400. Sistem pembayaran juga menyediakan mekanisme transfer dengan batas waktu 90 menit, sehingga penumpang dapat melanjutkan perjalanan menggunakan layanan yang memenuhi ketentuan tersebut dalam rentang waktu yang ditetapkan.
Ketersediaan armada, cakupan rute, dan tarif menjadi bagian penting dalam menentukan kemudahan masyarakat mengakses transportasi publik. Dalam situasi kelangkaan BBM, faktor-faktor tersebut semakin relevan bagi warga yang ingin mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi.
Transportasi Publik Menjadi Alternatif Mobilitas Masyarakat Bali
Kenaikan jumlah penumpang Trans Metro Dewata selama kelangkaan BBM memberikan gambaran mengenai perubahan kebutuhan transportasi di Bali. Jumlah pengguna yang mencapai 6.501 orang pada Selasa (13/10) menunjukkan tingginya permintaan terhadap layanan bus ketika masyarakat menghadapi hambatan untuk memperoleh bahan bakar dan terjebak dalam kepadatan lalu lintas.
Rata-rata penumpang harian yang naik hampir 7 persen dibandingkan periode 1–10 Oktober juga menunjukkan peningkatan penggunaan layanan selama masa gangguan tersebut. Data ini dapat menjadi bahan evaluasi bagi pengelola transportasi dan pemerintah daerah dalam memahami kebutuhan perjalanan masyarakat.
Di sisi lain, terdapat 34 jadwal perjalanan yang tidak terlayani selama periode tiga hari tersebut. Kendala pasokan BBM, kemacetan, dan keterbatasan waktu operasional menjadi persoalan yang perlu diperhatikan agar kenaikan permintaan tidak diikuti penurunan aksesibilitas layanan.
Trans Metro Dewata dan Trans Sarbagita memiliki peran dalam mendukung mobilitas masyarakat di wilayah aglomerasi Bali. Keberlanjutan layanan keduanya bergantung pada kesiapan armada, ketersediaan energi, kelancaran lalu lintas, dan kemampuan pengelola mempertahankan jadwal perjalanan.
Ketika kelangkaan BBM masih mengganggu aktivitas masyarakat, transportasi publik dapat membantu menyediakan pilihan perjalanan bagi warga. Namun, manfaat tersebut akan lebih terasa apabila bus dapat beroperasi secara konsisten dan menjangkau tujuan yang dibutuhkan penumpang.
Pemulihan pasokan BBM dan perbaikan kondisi lalu lintas diharapkan dapat mengurangi gangguan operasional Trans Metro Dewata. Dengan pelayanan yang kembali berjalan sesuai jadwal, masyarakat Bali dapat memanfaatkan transportasi publik secara lebih optimal untuk menunjang kegiatan sehari-hari.
***
