04/11/2026

Maknai Saraswati di Era AI, Candraswara Tegaskan Kecerdasan Buatan Tak Bisa Gantikan Karakter Guru

Ilmu pengetahuan ini identik dengan Dewi Saraswati yang dilambangkan dengan wanita berparas indah nan menawan. Kecantikannya melambangkan daya tarik ilmu pengetahuan yang memikat.

ilustrasi Dewi Saraswati/ balikonten

DENPASAR, BALIKONTEN.COM — Perayaan Hari Suci Saraswati di era modern tidak sekadar ditandai dengan seremonial dan persembahyangan, melainkan harus diimbangi dengan penerpan etika serta kebijaksanaan dalam memanfaatkan teknologi, termasuk Artificial Intelligence (AI).

Pedharmawacana sekaligus Owner Content Navigator Plataran Literasi, Candra Prawartana yang akrab disapa Candraswara, menegaskan bahwa konsep AI dan Hari Suci Saraswati merupakan dua hal yang secara mendasar berbeda. Menurutnya, AI adalah teknologi buatan yang mempermudah logaritma aktivitas manusia lewat algoritma, sedangkan Saraswati merupakan momentum pemuliaan untuk memahami dan menghayati pengetahuan dengan kebijaksanaan.

“Bila dilihat poin penting kebijaksanaan, maka AI dipergunakan dengan bijak untuk memahami pengetahuan yang originil, bukan hanya pengetahuan buatan. Memahami pengetahuan atau akar pengetahuan diawali dulu dari ontologis, bukan hanya simbolis atau praktis dicari lewat AI. Bahkan sebagai pecandu AI yang bijak, sebelum mencari informasi di AI, Saraswati mengajarkan kita untuk memiliki pengetahuan mendasar tentang ilmu pengetahuan yang kita cari di AI,” ujar Candraswara.

Ia menambahkan bahwa sinergi antara pengetahuan originil dan buatan akan menjadi penguatan pengetahuan yang dinamis karena Saraswati menuntun manusia untuk berpijak secara kukuh. Meski AI mampu mengindeks informasi lewat algoritma dan prompt yang jelas, keberadaannya tidak akan pernah bisa menggantikan peran pendidik.

“Peran guru memupuk hati bijak memberikan nutrisi pengetahuan pada otak. Karakter tidak bisa dipupuk dengan nutrisi algoritma, melainkan karakter pendidik tumbuh lewat kesadaran dan keteladanan seorang guru. Suri tauladan di AI, siswa dengan kecerdasannya tidak memilikinya. Oleh karena itu, AI memiliki pengetahuan, namun pembiasaan praktik pendidikan sebagai guru sejati tidak dimilikinya,” tegasnya.

Lebih lanjut, Candraswara menyoroti pentingnya etika dan aksiologi atau praktik nyata dari ilmu pengetahuan di atas rutinitas seremonial Bhakti Marga Yoga. Etika menegaskan eksistensi ilmu yang beradab dan bernilai, yang harus dimulai dari lingkungan mikro keluarga.

“Etika merupakan pakem Hindu yang terikat dengan Tata Susila dan Tata Kelola Melangkah. Maka ilmu sebagai science tidak cukup hanya dibahas di laboratorium kampus, namun perlu dibahas pada laboratorium sosial yang memasyarakat. Etika diawali dari habitus keluarga yang berperan sebagai lingkungan mikro dunia. Pengetahuan bapak dan ibu perlu di-upgrade agar generasi selalu mendapatkan imbas dalam survive kehidupannya,” pungkasnya.

***

Pewarta: Sukma Wilatri

Editor: Redaksi

COPYRIGHT © balikonten.com 2026