03/11/2026

Memaknai Rahinan Saraswati Menurut Lontar Sundarigama

memaknai Hari Raya Saraswati

Hari Raya Saraswati/ balikonten

DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Umat Hindu merayakan Saniscara Umanis Watugunung sebagai Hari Raya Saraswati. Momen sakral ini menandai turunnya ilmu pengetahuan suci Weda ke dunia.

Kehadiran ilmu tersebut menjadi kompas bagi manusia untuk mengasah pikiran, perkataan, dan perbuatan agar selaras dengan kebijaksanaan.

Sebagai wujud syukur dan penghormatan atas karunia Ida Sang Hyang Widhi Wasa, umat Hindu menghaturkan berbagai jenis upakara atau bebantenan. Persembahan ini adalah simbol sujud bakti atas cahaya pengetahuan yang telah menuntun kehidupan.

Komposisi Banten Saraswati Berdasarkan Sastra Sundarigama

Merujuk pada naskah Sundarigama, penyusunan banten untuk memuja Dewi Saraswati memiliki tingkatan dan jenis tertentu. Untuk tingkatan yang paling sederhana, umat dapat menyiapkan komponen berikut:

  • Suci, peras, dan daksina sebagai alas dasar upakara.
  • Penek, ajuman, dan sesayut saraswati.
  • Sagara gunung dan parangkatan putih kuning.
  • Canang wangi-wangi serta persembahan berupa daging itik.

Selain itu, perlengkapan lain yang perlu dipersiapkan meliputi daksina palinggihan, kembang pahes, sekar cane, serta canang yasa. Seluruh pustaka atau buku yang berisi aksara dianggap sebagai stana atau tempat bersemayam Dewi Saraswati. Pustaka-pustaka tersebut ditata rapi, diberikan sesajen, dan dipuja dengan bunga-bunga harum sembari memohon air suci kepada Dewa Matahari.

Meluruskan Mitos Larangan Membaca dan Menulis

Terdapat pemahaman di masyarakat yang menyebutkan bahwa saat Saraswati, umat dilarang total untuk membaca, menulis, atau melantunkan nyanyian suci. Namun, Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti memberikan penjelasan yang lebih proporsional.

Beliau menegaskan bahwa inti dari tradisi tersebut adalah prioritas. Umat diminta untuk mendahulukan pelaksanaan yadnya kepada Dewi Saraswati. Fokus utama pada hari tersebut adalah memuliakan ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan guna menghapus kebodohan serta kesombongan dalam diri.

Setelah seluruh rangkaian upacara dan persembahan selesai, umat tetap diperbolehkan kembali berinteraksi dengan buku dan literatur lainnya. Jadi, penekanannya adalah menempatkan pemujaan sebagai hal yang paling utama sebelum melakukan aktivitas literasi lainnya.

Ritual Yoga bagi Para Pendeta

Naskah Sundarigama juga menggarisbawahi peran penting seorang pendeta. Sebagai sosok yang dipandang mampu menyatukan diri dengan kekuatan dewa, para pendeta memiliki kewajiban khusus untuk melaksanakan yoga pada hari suci ini. Praktik spiritual ini bertujuan untuk memperkuat vibrasi kesucian dan koneksi batin dengan sumber ilmu pengetahuan.

Tradisi Banyupinaruh: Penyucian Diri Lahir dan Batin

Satu hari setelah Saraswati, umat Hindu merayakan Banyupinaruh. Ini adalah waktu yang tepat untuk melakukan pembersihan diri secara menyeluruh. Umat biasanya mendatangi sumber-sumber air atau tempat pemandian suci tepat saat matahari terbit. Ritual keramas dengan air suci menjadi simbol pembersihan sisa-sisa kekotoran batin.

Untuk melengkapi ritual Banyupinaruh, terdapat sesajen khusus yang dipersembahkan kepada Dewi Saraswati, yaitu:

  1. Nasi pradnyan berwarna kuning.
  2. Lauk dari daging yang masih suci.
  3. Jamu harum (loloh) yang menyegarkan.

Setelah prosesi persembahan selesai, sesajen ini dapat diambil dan dinikmati oleh umat sebagai bentuk penerimaan berkah atau lungsuran yang diyakini memberikan kesehatan dan kecerdasan.

***

Pewarta: Redaksi

Editor: Redaksi

COPYRIGHT © balikonten.com 2026