02/11/2026

Meneladani Simbol Angsa dan Merak, Umat Hindu Diimbau Bijak Bermedia Sosial

memaknai Hari Raya Saraswati

Hari Raya Saraswati/ balikonten

DENPASAR, BALIKONTEN.COM — Perkembangan teknologi komunikasi dan media sosial menuntut umat Hindu untuk semakin bijaksana dalam menerapkan filosofi Hari Suci Saraswati pada kehidupan sehari-hari, khususnya dalam berinteraksi di dunia maya.

Pedharmawacana sekaligus Owner Content Navigator Plataran Literasi, Candra Prawartana atau yang akrab disapa Candraswara, menyatakan bahwa penggunaan teknologi, gawai, dan media sosial merupakan bentuk Wina atau seni ilmu pengetahuan. Namun, ia menyayangkan fenomena pengguna media sosial saat ini yang kerap bertindak tanpa didasari analisis yang matang.

“Di era media sosial, kebanyakan jemari lebih dulu melakukan tindakan tanpa analisis pemahaman pikiran. Jadi yang kita komentari dengan pengetahuan kita, apakah sudah memiliki posisi keseimbangan yang mewakili semua unsur pengetahuan atau sepihak saja? Maka Wina dalam bentuk akun sosial media saat ini perlu dipelajari sebagai seni di dunia maya yang didasari oleh akal sehat atau original, sekaligus akal yang memiliki kehati-hatian dalam mengomentari segenap isu,” ujar pria yang juga seorang akademisi ini.

Ia mengajak umat, khususnya generasi milenial, untuk memilih kalimat yang diposting berdasarkan hati nurani dengan meneladani simbolisme ajaran Saraswati.

“Pilihlah berdasarkan hati nurani kalimat yang akan diposting dan dikomentari pada sosial media. Angsa disimbolisasikan sebagai hati nurani yang bijak dalam bermedia sosial, agar sebagai seorang Hindu milenial di dalam kalangan sosial media terlihat memiliki wibawa pengetahuan layaknya ekor merak yang memiliki banyak warna pengetahuan,” terangnya.

Di samping kebijaksanaan bermedia sosial, Candraswara mengingatkan bahwa proses menuntut ilmu harus selalu disertai dengan sikap kerendahan hati. Mengutip ajaran menjadi manusia Manawa Dharma, ilmu pengetahuan sejatinya harus bermuara pada tindakan nyata, pemecahan masalah, dan pengamalan.

“Ketika ruang hati merendah, ada etika yang perlu diserap di ruang hati yang masih kosong. Kerendahan hati dalam belajar ibarat mengosongkan gelas ketika ingin diisi dari warna dan jenis air yang berbeda untuk dipergunakan sesuai tujuannya masing-masing. Jadi rendah hati pada prinsipnya mendengarkan yang memberikan pengetahuan baru pada diri kita,” jelasnya.

Menurutnya, makna Saraswati tidak hanya sebatas persembahyangan semata, melainkan tindakan sederhana seperti mencari solusi atas masalah, berpijak secara bijak menghadapi ujian kehidupan, dan belajar sepanjang hayat untuk menjadi manusia yang yakin pada tugas serta tanggung jawab di jalan dharma.

***

Pewarta: Sukma Wilatri

Editor: Redaksi

COPYRIGHT © balikonten.com 2026