03/11/2026

Menelusuri Sisi Lain Galungan: Tradisi Unik di Berbagai Pelosok Bali yang Jarang Tersorot

doa dan rangkaian galungan

Ilustrasi Penjor Galungan/ Philippe HELLOIN / Flicker/ Balikonten

DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Hari Raya Galungan selalu identik dengan semarak penjor yang menjulang tinggi di sepanjang jalanan Pulau Dewata. Perayaan ini menjadi simbol kemenangan dharma (kebaikan) melawan adharma (kejahatan).

Namun, jika kita masuk lebih dalam ke desa-desa adat, Galungan ternyata memiliki wajah yang sangat beragam. Beberapa wilayah di Bali merayakan hari suci ini dengan tradisi unik yang diwariskan secara turun-temurun, jauh dari ingar-bingar pariwisata masal.

Bali Aga dan Desa Adat Tanpa Penjor Fisik

Ketentuan memasang penjor bambu yang dihias janur melengkung ternyata tidak berlaku di seluruh wilayah Bali. Kelompok masyarakat Bali Aga, seperti di Desa Tenganan Pegeringsingan, Kabupaten Karangasem, memiliki aturan adat atau awig-awig yang melarang pemasangan penjor fisik saat Galungan.

Masyarakat Desa Tenganan Pegeringsingan merayakan kemenangan dharma melalui kesederhanaan yang mendalam. Mereka sama sekali tidak menggunakan penjor, janur, maupun bantenan (sesajen) khusus Galungan seperti masyarakat Bali pada umumnya. Nilai spiritual mereka berfokus pada kemurnian ritual kuno yang sudah terjaga sejak berabad-abad lalu.

Kondisi serupa juga terjadi di Desa Busungbiu, Kabupaten Buleleng. Warga di desa ini sengaja tidak mendirikan penjor di depan rumah mereka karena meyakini keberadaan penjor niskala (secara spiritual). Leluhur mereka mewariskan keyakinan bahwa desa tersebut sudah dilindungi oleh penjor mesampian emas yang kasatmata namun bernilai sakral tinggi.

Tradisi Ngelinting di Tabanan: Menyalakan Cahaya bagi Semesta

Bergeser ke Kabupaten Tabanan, tepatnya di Desa Adat Samsam, Kecamatan Kerambitan, warga setempat memiliki ritual khusus bernama tradisi ngelinting. Prosesi ini berlangsung pada hari Penampahan Galungan, yaitu sehari sebelum puncak hari raya.

Warga Desa Adat Samsam menyalakan linting sebagai lambang pembersihan spiritual. Secara filosofis, membakar linting menjadi media untuk memohon penerangan, baik untuk bhuana agung (alam semesta) maupun bhuana alit (diri manusia sendiri) menjelang datangnya Hari Raya Galungan dan Kuningan. Tujuan utamanya adalah agar seluruh umat mendapatkan galang apadang atau pancaran sinar terang dalam kehidupan.

Pembuatan linting ini tergolong sangat sederhana namun sarat makna. Warga hanya membutuhkan ancang atau lidi yang kemudian dibalut dengan kapas murni. Gulungan kapas tersebut dibaluri minyak kelapa atau minyak goreng, lalu dinyalakan bersama-sama pada malam hari menjelang Galungan.

Tradisi Ngejot Tumpeng di Gianyar: Sukacita Menyambut Pengantin Baru

Kemeriahan Hari Raya Galungan di Desa Medahan, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, ditandai dengan aksi sosial yang hangat bernama tradisi ngejot tumpeng. Tradisi ini menjadi sarana bagi warga untuk saling berbagi dan mempererat tali silaturahmi.

Aktivitas ini menyasar pasangan pengantin baru yang menikah dalam kurun waktu enam bulan sebelum Galungan. Warga desa akan berkeliling mengunjungi rumah-rumah pengantin baru tersebut untuk menyerahkan jotan atau hantaran berupa tumpeng. Melalui tradisi ngejot tumpeng ini, masyarakat memberikan ucapan selamat sekaligus menyambut kehadiran warga baru di lingkungan adat mereka.

Warga datang membawa berbagai wadah, mulai dari piring, besek, hingga bokor. Wadah tersebut berisi banten soda lengkap dengan sampian, tumpeng nasi, buah-buahan segar, jajanan pasar, dan beras. Sebagai bentuk rasa terima kasih dan penghormatan kembali, pasangan pengantin baru biasanya menyajikan tape dan jaja uli (jajanan khas Bali) kepada setiap warga yang datang membawa hantaran.

Mekotek di Badung: Formasi Kayu yang Menguji Kebersamaan

Tradisi unik lainnya yang tidak kalah memikat adalah Mekotek, sebuah warisan budaya yang terus dilestarikan oleh umat Hindu di Desa Munggu, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung. Tradisi ini melibatkan partisipasi aktif dari ratusan warga, khususnya kaum pria di desa setempat.

Dalam pelaksanaannya, berbagai kelompok warga berkumpul di jalanan desa dengan membawa sebatang kayu sepanjang beberapa meter. Mereka kemudian menyatukan ujung-ujung kayu tersebut ke udara hingga membentuk sebuah formasi kerucut yang kokoh. Suara benturan kayu yang khas dan sorak-sorai peserta menciptakan atmosfer penuh semangat, melambangkan persatuan, keberanian, dan penolakan terhadap segala bentuk bala atau energi negatif di wilayah desa mereka.

***

Pewarta: Redaksi

Editor: Redaksi

COPYRIGHT © balikonten.com 2026