Menundukkan Sang Kala Tiga dengan Jnana: Hakikat Kemenangan Dharma dalam Diri
Ilustrasi Penjor Galungan/ Philippe HELLOIN / Flicker/ Balikonten
DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Hari Suci Galungan tidak hanya dimaknai sebagai momentum kebersamaan atau perayaan kemenangan dharma (kebaikan) melawan adharma (keburukan). Lebih dari itu, rerahinan suci ini menjadi ajang penting untuk mulat sarira (introspeksi diri) agar umat mampu menetralisir sifat-sifat negatif yang disimbolkan sebagai Sang Kala Tiga. Sifat-sifat buruk inilah yang sejatinya harus diperangi agar memunculkan benih-benih kebaikan dalam kehidupan.
Sang Kala Tiga yang dimaksud dalam tradisi ini meliputi Sang Bhuta Galungan, Sang Bhuta Dungulan, dan Sang Bhuta Amangkurat. Ketiganya merupakan simbolisasi dari godaan dan sifat negatif yang memuncak menjelang Galungan. Untuk menghadapi dan menetralisir energi negatif tersebut, umat sedharma diharapkan mampu membentengi diri dengan jnana atau ilmu pengetahuan suci.
Sulinggih Ida Rsi Agung Bhagawan Dharmaputra Adnyana menegaskan bahwa dalam perayaan Galungan, musuh terbesar yang harus dilawan sebenarnya berada di dalam diri sendiri.
Oleh karena itu, untuk memperoleh kemenangan dharma yang sejati—yang berwujud ketenangan dan kebahagiaan lahir batin—umat harus menjadikan jnana sebagai landasan dasar.
”Umat harus membentengi diri dengan jnana atau ilmu pengetahuan. Jnana dapat dijadikan sebagai landasan dasar dalam setiap permasalahan yang dihadapi, sehingga kita mampu memenangkan dharma dari adharma yang ada dalam diri,” ujar Ida Rsi Agung Bhagawan Dharmaputra Adnyana.
Beliau menambahkan, sebelum merayakan kemenangan dharma, umat sejatinya harus terlebih dahulu menundukkan sifat-sifat adharma yang melekat pada diri manusia. Sifat-sifat tersebut di antaranya adalah angkara murka, momo (keegoisan), loba (keserakahan), tamak, iri hati, dendam, serta nafsu duniawi yang berlebihan.
Dengan keberhasilan mengendalikan diri dan menetralisir sifat-sifat negatif Sang Kala Tiga, kebahagiaan, kedamaian, dan kesucian yang menjadi esensi dari Hari Suci Galungan dapat dirasakan secara utuh oleh setiap umat.
***
