03/11/2026

Profil Bank Mandiri dari Awal hingga Update Terkini

Jumat, 22 Agustus 2026 Bank Mandiri tiba-tiba viral, bukan karena ada giveaway melainkan adanya dugaan pemblokiran akun nasabah secara sepihak

ilusterasi bank Mandiri/ balikonten

DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Jumat, 22 Agustus 2026 Bank Mandiri tiba-tiba viral, bukan karena ada giveaway melainkan adanya dugaan pemblokiran akun nasabah secara sepihak.

Hal ini pun memicu beragam aksi masyarakat khususnya mereka yang menggunakan bank plat merah itu dalam beragam transaksi.

Namun saat ini kita tidak sedang membahas hal tersebut secara mendalam, kita fokus pada perjalanan dan profil Bank Mandiri sejak awal berdiri hingga terkini.

Bank Mandiri berdiri pada 2 Oktober 1998 sebagai langkah nyata pemerintah menyelesaikan krisis keuangan Asia 1997. Langkah besar ini ditandai dengan penggabungan empat bank milik negara pada Juli 1999, yaitu Bank Bumi Daya (BBD), Bank Dagang Negara (BDN), Bank Ekspor Impor Indonesia (Bank Exim), dan Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo).

Operasional dengan nama baru dimulai pada 1 Agustus 1999. Meski nama Mandiri tergolong muda, entitas di dalamnya membawa rekam jejak panjang di dunia keuangan yang membentang lebih dari 140 tahun. Banyak di antara lembaga pendahulu tersebut bermula dari era kolonial Belanda sebelum diambil alih oleh negara.

Pendirian PT Bank Mandiri (Persero) Tbk dikukuhkan lewat Akta Notaris No. 10 tanggal 2 Oktober 1998 dan Peraturan Pemerintah No. 75 Tahun 1998. Menteri Kehakiman Republik Indonesia memberikan pengesahan melalui Surat Keputusan No. C2-16561.HT.01.01.Th.98, lalu mengumumkannya dalam Berita Negara Republik Indonesia No. 97 tanggal 4 Desember 1998. Penggabungan usaha ini berlaku efektif sejak 31 Juli 1999 melalui persetujuan berbagai lembaga berwenang, termasuk Bank Indonesia.

Sesuai mandat Undang-Undang Perbankan, lembaga ini menghimpun dana masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kembali lewat fasilitas kredit demi menopang perekonomian nasional. Perseroan memegang modal dasar sebesar Rp16 triliun, dengan modal disetor penuh senilai Rp11,66 triliun.

Perjalanan Transformasi Tiga Tahap

1999: Penggabungan 4 Bank State-Owned
  │
  ├── Tahap I (2005–2009)  : Penataan Budaya & Penanganan NPL
  ├── Tahap II (2010–2014) : Penguatan Segmen Ritel & Wholesale
  └── Tahap III (2015–2020): Inovasi Layanan & Ekspansi Digital

1. Pembenahan Fondasi Internal (2005–2009)

Tahun 2005 menandai pembenahan besar-besaran untuk mengejar posisi pemain utama di tingkat regional. Langkah ini bertumpu pada perbaikan budaya kerja, penanganan kredit bermasalah (NPL) secara ketat, penetrasi pasar yang spesifik, serta penguatan aliansi bisnis internal.

Pembenahan tersebut membuahkan hasil nyata pada rentang 2005 hingga 2010:

  • Rasio NPL net konsolidasi menekan turun dari 15,34% menjadi 0,62%.
  • Laba bersih melompat dari Rp0,6 triliun menjadi Rp9,2 triliun.
  • Nilai budaya perusahaan “TIPCE” (Trust, Integrity, Professionalism, Customer Focus, Excellence) ditanamkan sebagai pijakan kerja harian seluruh karyawan.

2. Ekspansi dan Penguatan Pasar (2010–2014)

Pada periode ini, fokus bergerak ke pemantapan daya saing di tingkat ASEAN. Perusahaan mempertajam tiga lini utama: transaksi korporasi (wholesale), penyerapan dana ritel, serta pembiayaan segmen konsumen dan mikro.

Hasilnya, kapitalisasi pasar menembus Rp254 triliun pada 2014, dengan Return on Asset (ROA) mencapai 3,39% dan NPL terjaga di angka 2,17%. Lembaga ini juga meraih penghargaan Best Bank in Service Excellence dari Marketing Research Indonesia selama tujuh tahun berturut-turut.

3. Pemantapan Posisi Regional (2015–2020)

Tahap ketiga memfokuskan perhatian pada pemanfaatan teknologi, penyediaan solusi keuangan terpadu, dan kolaborasi erat bersama anak perusahaan. Saat dinamika ekonomi menekan kualitas kredit pada 2016, manajemen segera menyelaraskan ulang fokus bisnis (Corporate Plan Restart) dengan kembali memperkuat keahlian utamanya di segmen korporasi.

Pijakan Strategis 2020–2024 dan Hasil Kinerja

Melalui rencana bisnis 2020–2024, strategi difokuskan pada tiga sasaran:

  • Memperkuat posisi wholesale banking lewat ekosistem digital KOPRA by Mandiri.
  • Mendorong pertumbuhan segmen UMKM yang sehat menggunakan analisis data kilat.
  • Memperluas layanan digital ritel melalui aplikasi Livin’ by Mandiri.
Indikator FinansialPencapaian Tahun 2023
Aset KonsolidasiRp2.174 Triliun (Tumbuh 9,12% YoY)
Kredit KonsolidasiRp1.398 Triliun (Tumbuh 16,29% YoY)
Dana Pihak Ketiga (DPK)Rp1.577 Triliun (Tumbuh 5,78% YoY)
Laba Bersih KonsolidasiRp55,1 Triliun (Tumbuh 33,7% YoY)
NPL Konsolidasi1,19% (Turun 73 bps YoY)
Rasio CAR (Bank Only)21,99%

Inovasi digital menunjukkan hasil tajam. Hingga akhir 2023, aplikasi Livin’ telah diunduh 34 juta kali dengan nilai transaksi menembus Rp2.600 triliun. Platform Kopra juga mencatat lonjakan pengguna sebesar 133% secara tahunan (year-on-year). Pada segmen berkelanjutan, penyaluran pembiayaan hijau tercatat mencapai Rp115 triliun.

Arah Langkah Strategis 2024

Memasuki tahun 2024, fokus operasional diarahkan pada penajaman empat pilar utama:

  1. Akselerasi pembiayaan pada nasabah inti di segmen wholesale beserta ekosistem turunannya.
  2. Penetrasi segmen ritel berbasis wilayah dan ekosistem bisnis unggulan.
  3. Optimalisasi saluran digital untuk menekan biaya dana (cost of fund).
  4. Penguatan sinergi layanan bersama anak perusahaan dalam Mandiri Group dengan prinsip manajemen risiko yang disiplin.

melalui integrasi teknologi dan manajemen risiko yang terukur, langkah ini menjaga pertumbuhan bisnis tetap stabil dan berkelanjutan dalam jangka panjang.

***

Pewarta: Redaksi

Editor: Redaksi

COPYRIGHT © balikonten.com 2026