02/11/2026

Pura Dalem Bekak, Saksi Sunyi Lahirnya Kejayaan Kerajaan Mengwi
Jejak Bukit Sakral, Puri Kaleran, hingga Ikatan Spiritual dengan Pura Taman Ayun

Kolase Foto Pura Dalem Bekak. (Kanan) Lokasi Pura yang Sekarang. (Kiri) Lokasi Pura yang di Taman Ayun. (Gung Kris)

Kolase Foto Pura Dalem Bekak. (Kanan) Lokasi Pura yang Sekarang. (Kiri) Lokasi Pura yang di Taman Ayun. (Gung Kris/ blikonten)

Jejak Bukit Sakral, Puri Kaleran, hingga Ikatan Spiritual dengan Pura Taman Ayun

MANGUPURA, BALIKONTEN.COM – Di balik kemegahan Pura Taman Ayun yang dikenal sebagai salah satu warisan sejarah dan budaya Bali, tersimpan kisah tentang sebuah tempat suci yang tak banyak mendapat sorotan. Namanya Pura Dalem Bekak, parahyangan yang menyimpan jejak perjalanan awal Kerajaan Mengwi.

Bukan sekadar tempat persembahyangan, Pura Dalem Bekak diyakini memiliki keterkaitan erat dengan Bukit Bekak, Puri Kaleran Bekak, serta perjalanan I Gusti Agung Putu dalam membangun fondasi kekuasaan di kawasan Natar Gunung Mangu.

Catatan tertulis mengenai keberadaan Bekak memang terbilang terbatas. Namun, kisahnya tetap hidup melalui tutur turun-temurun dan sejumlah kronik Bali, termasuk Dharmayatra Sugra Pakulun Ida Bhetara Sakti Wawu Rawuh, Ida Dang Hyang Nirartha serta Dwijendra Tattwa.

Dalam penuturan sejarah tersebut, Bukit Bekak digambarkan sebagai kawasan yang teduh, dihiasi bunga-bunga, serta memiliki sungai dan taman yang memikat. Keindahan alamnya dikaitkan dengan keberadaan parahyangan suci yang kemudian dikenal sebagai Dang Kahyangan Taman Sari, di sisi selatan bukit tersebut.

Dari lanskap yang tampak sederhana inilah, rangkaian sejarah besar Mengwi dipercaya mulai bertaut.

Agung Krisna Teja, selaku pihak yang mengetahui perjalanan sejarah Pura Dalem Bekak, menilai keberadaan pura tersebut perlu dipahami dalam konteks yang lebih luas, yakni sebagai bagian dari perjalanan spiritual, politik, dan sosial Kerajaan Mengwi.

“Pura Dalem Bekak tidak bisa dilihat hanya sebagai tempat suci yang berdiri sendiri. Ada rangkaian sejarah panjang di belakangnya, mulai dari keberadaan Bukit Bekak, pendirian Puri Kaleran Bekak, hingga penataan kawasan yang kemudian berkembang menjadi Pura Taman Ayun. Semua itu memiliki keterkaitan dalam perjalanan sejarah Mengwi,” ujar Agung Krisna Teja.

Dari Puri Kaleran Bekak Menuju Pura Taman Ayun

Kisah Bekak semakin penting ketika I Gusti Agung Putu, setelah bersemadi di puncak Gunung Mangu, dipercaya memperoleh panugrahan Ida Bhatara Gunung Mangu. Dalam kisah tersebut, wilayah yang terbentang sejauh pandangannya menjadi simbol anugerah kekuasaan yang kelak mengantarkannya membangun pemerintahan di kawasan Mengwi.

Pura Dalem Bekak, Saksi Sunyi Lahirnya Kejayaan Kerajaan Mengwi
Pura Dalem Bekak, Saksi Sunyi Lahirnya Kejayaan Kerajaan Mengwi/ balikonten

Setelah mendirikan Puri Balahayu, kekuasaannya semakin berkembang. Ia kemudian membangun istana baru di Bekak, sebelah utara Bale Agung, yang dikenal sebagai Puri Kaleran Bekak. Di kawasan itu pula didirikan parahyangan bernama Dewa Graha, yang disebut Taman Ganter.

Namun, perjalanan kekuasaan tersebut tidak sepenuhnya berlangsung tanpa pertentangan. Kisah perlawanan Ki Pasek Badak menjadi salah satu episode penting dalam kronik yang mengisahkan konsolidasi kekuasaan I Gusti Agung Putu.

Setelah pertarungan yang berakhir tanpa kemenangan mutlak melalui senjata, Ki Pasek Badak akhirnya mengakui kedudukan I Gusti Agung Putu. Peristiwa tersebut kemudian dikaitkan dengan rangkaian upacara dan laku keagamaan untuk meneguhkan kedudukan sang penguasa sekaligus menjaga keseimbangan spiritual wilayahnya.

Menurut penuturan sejarah, darah yang tertumpah dalam pertarungan itu juga memunculkan kekhawatiran mengenai kondisi kesucian kawasan puri. Melalui petunjuk para pendeta, I Gusti Agung Putu kemudian mempertimbangkan penataan ulang pusat kekuasaannya ke wilayah yang lebih selatan.

Kawasan yang lebih luas itu selanjutnya berkembang menjadi Taman Ayun, sementara keberadaan parahyangan di Bekak tetap dipertahankan. Di bekas kawasan Puri Kaleran Bekak kemudian berdiri Pura Dalem Bekak.

“Hal yang menarik adalah adanya kesinambungan antara perubahan pusat kekuasaan dan keberlangsungan tempat suci. Ketika pusat kerajaan bergeser, keberadaan parahyangan di Bekak tidak serta-merta dihilangkan. Ini menunjukkan bahwa kawasan tersebut tetap memiliki arti penting dalam tatanan spiritual Mengwi,” ungkap Agung Krisna Teja.

Ikatan Spiritual yang Tetap Hidup

Hubungan Pura Dalem Bekak dengan Pura Taman Ayun hingga kini tercermin melalui tradisi keagamaan yang masih dijalankan.

Piodalan Pura Dalem Bekak jatuh pada Saniscara Kliwon Kuningan, bertepatan dengan piodalan Pura Purusadha. Pada hari tersebut, prosesi mendak Ida Bhatara ring Bekak dilaksanakan di Pura Taman Ayun. Setelah melalui rangkaian upacara, iring-iringan menuju Pura Dalem Bekak untuk menghaturkan bhakti dalam rangka piodalan.

Tradisi ini menjadi penanda bahwa hubungan antara pura, warisan kerajaan, dan masyarakat penyungsungnya bukan sekadar cerita masa lampau. Ikatan tersebut terus dirawat melalui praktik keagamaan lintas generasi.

Bagi Agung Krisna Teja, kesinambungan tradisi menjadi salah satu pintu penting untuk memahami sejarah Pura Dalem Bekak. Sejarah tidak selalu tersimpan dalam prasasti atau dokumen tertulis, tetapi juga hidup dalam ritual, tata upacara, dan ingatan kolektif masyarakat.

“Ketika sebuah tradisi masih dijalankan, di sana ada ingatan yang terus diwariskan. Karena itu, Pura Dalem Bekak penting dipahami bukan hanya dari bangunan fisiknya, tetapi juga dari hubungan spiritual dan tradisi yang mengikatnya dengan Pura Taman Ayun serta masyarakat Mengwi,” tuturnya.

Teka-Teki Lokasi Puri Kaleran Bekak

Meski memiliki keterkaitan sejarah yang kuat, lokasi pasti Puri Kaleran Bekak hingga kini masih menjadi teka-teki.

Belum adanya ekskavasi arkeologis serta keterbatasan bukti tertulis membuat letak persis istana tersebut belum dapat dipastikan. Sejumlah tutur masyarakat menunjuk kawasan sekitar Jeroan Serangan, sementara pendapat lain memperkirakan lokasinya berada di sebelah barat atau barat daya Pura Dalem Bekak saat ini.

Keberadaan pancuran di sekitar aliran sungai dan sejumlah petunjuk toponimi wilayah, termasuk nama Banjar Pregae yang dahulu disebut Para-Gae, menjadi bagian dari bahan penelusuran untuk memperkirakan lanskap permukiman masa lampau.

Namun, seluruh dugaan tersebut masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Kajian sejarah, penelusuran sumber tradisional, serta penelitian arkeologis diperlukan agar rekonstruksi lokasi dan fungsi kawasan Bekak dapat dilakukan secara lebih terukur.

“Masih ada bagian sejarah yang belum terjawab, terutama mengenai lokasi pasti Puri Kaleran Bekak. Karena itu, penelusuran tidak boleh berhenti pada cerita yang berkembang. Perlu ada upaya dokumentasi dan penelitian yang serius agar jejak sejarah ini bisa dipahami dengan lebih baik serta diwariskan kepada generasi berikutnya,” kata Agung Krisna Teja.

Bukan Sekadar Pura, tetapi Ingatan Peradaban

Pura Dalem Bekak pada akhirnya menyimpan kisah yang jauh melampaui batas sebuah tempat persembahyangan. Di dalamnya bertaut jejak lanskap suci, perubahan pusat kerajaan, konsolidasi kekuasaan, hingga tradisi keagamaan yang terus berlangsung.

Penataan Bukit Bekak, pergeseran pusat kerajaan, dan pembangunan Pura Taman Ayun dalam sejumlah tutur sejarah memperlihatkan bagaimana kekuasaan dan kehidupan spiritual saling berkelindan dalam perjalanan Mengwi. Meski detail kronologis dan sejumlah lokasi masih memerlukan pembuktian, keberadaan tradisi yang bertahan menjadi bagian penting dari warisan sejarah tersebut.

Bagi Mengwi, Pura Dalem Bekak bukan sekadar peninggalan masa lalu yang sunyi. Ia adalah pengingat bahwa kejayaan sebuah kerajaan tidak hanya dibangun melalui istana dan wilayah kekuasaan, tetapi juga melalui keyakinan, penghormatan terhadap tempat suci, serta ikatan masyarakat yang terus dijaga.

Di tengah kemegahan Pura Taman Ayun yang dikenal luas, Pura Dalem Bekak tetap berdiri dengan kesederhanaannya. Menyimpan jejak yang belum seluruhnya terungkap, sekaligus mengingatkan bahwa sejarah besar terkadang bersembunyi di tempat yang paling jarang disorot.

***

Pewarta: Agung Rai Tri Krisna Putra

Editor: Redaksi

COPYRIGHT © balikonten.com 2026