03/11/2026

Rupiah Melemah, Pariwisata Bali Bagaimana, Potensi Krisis?

bandara

DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat hingga menyentuh level Rp17.600 per dolar AS dinilai menjadi momentum yang membawa dua konsekuensi sekaligus bagi Bali: peluang besar bagi sektor pariwisata internasional, namun juga ancaman tekanan inflasi terhadap masyarakat lokal.

Pengamat ekonomi senior, Viraguna Bagoes Oka, menilai depresiasi rupiah membuat Bali semakin kompetitif di mata wisatawan mancanegara karena biaya hidup dan pengeluaran wisata menjadi relatif lebih murah dibanding destinasi lain di kawasan Asia Tenggara.

“Ketika dolar menguat dan rupiah melemah, daya beli wisatawan asing otomatis meningkat. Ini membuat Bali menjadi destinasi yang jauh lebih menarik bagi wisatawan internasional,” ujarnya di Denpasar, Selasa (19/5/2026).

Menurut dia, kondisi tersebut berpotensi meningkatkan kunjungan wisatawan asing sekaligus memperpanjang lama tinggal mereka di Bali. Pengeluaran wisatawan untuk akomodasi, kuliner, hingga aktivitas rekreasi dinilai akan meningkat karena nilai tukar mata uang mereka menjadi lebih kuat.

Viraguna menyebut situasi ini juga memberi keuntungan bagi pelaku usaha berbasis ekspor dan penerima pendapatan dalam valuta asing. Pendapatan dolar yang dikonversi ke rupiah menghasilkan nilai lebih tinggi sehingga meningkatkan margin keuntungan usaha.

Fenomena serupa turut memperkuat tren Work From Bali (WFB), terutama di kalangan pekerja asing jarak jauh dan ekspatriat yang memperoleh penghasilan dalam dolar AS maupun mata uang asing lainnya.

“Tanpa pelemahan kurs pun Bali sudah menjadi tujuan favorit pekerja asing digital. Dengan rupiah yang semakin murah, tentu Bali akan makin menarik untuk tempat tinggal sekaligus bekerja,” katanya.

Namun di balik peluang tersebut, ia mengingatkan adanya risiko inflasi yang dapat menekan daya beli masyarakat lokal, khususnya kelompok berpenghasilan tetap dan pelaku usaha kecil.
Viraguna memperkirakan pelemahan rupiah dapat memicu kenaikan harga barang dan jasa hingga 10–20 persen, terutama pada sektor yang bergantung pada bahan baku impor.

Kelompok masyarakat kelas menengah ke bawah serta pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) disebut menjadi pihak paling rentan menghadapi tekanan ekonomi akibat kenaikan biaya hidup dan menurunnya omzet usaha.

Tekanan serupa juga dirasakan industri perhotelan dan pariwisata. Meski Bali menjadi lebih murah bagi wisatawan asing, biaya operasional hotel justru meningkat akibat kenaikan harga barang penunjang seperti perlengkapan mandi, logistik, hingga kebutuhan impor lainnya.

Bayang-Bayang Krisis 1998

Viraguna mengingatkan, apabila pelemahan rupiah terus berlanjut hingga menembus Rp20.000–Rp25.000 per dolar AS tanpa intervensi kebijakan yang memadai, situasi ekonomi dapat menyerupai Krisis Moneter 1998.

Saat itu, Bali memang tetap menikmati arus wisatawan asing dan devisa pariwisata. Namun manfaat ekonomi disebut hanya dirasakan kelompok tertentu yang memiliki aset dolar atau bergerak di sektor ekspor.

Sebaliknya, sebagian besar masyarakat harus menghadapi lonjakan harga kebutuhan pokok akibat tingginya ketergantungan terhadap barang impor.

Ia mencontohkan sektor pertanian yang masih bergantung pada pupuk berbahan baku impor. Kenaikan nilai tukar dolar akan mendorong harga pupuk naik dan pada akhirnya berdampak pada harga pangan.

Sektor transportasi juga dinilai rentan terdampak akibat potensi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang dipengaruhi kondisi geopolitik global dan fluktuasi harga energi internasional.

Usulan Otoritas Khusus Pariwisata Bali

Di tengah dinamika ekonomi global dan meningkatnya arus warga negara asing ke Bali, Viraguna menilai pemerintah daerah perlu memperkuat tata kelola sektor pariwisata.

Ia mendorong pembentukan otoritas khusus pariwisata atau kawasan pariwisata khusus yang memiliki kewenangan lebih kuat dalam pengawasan investasi dan arus wisatawan asing.

Menurut dia, langkah tersebut penting untuk memastikan pariwisata Bali tetap memberikan manfaat ekonomi yang sehat bagi masyarakat lokal sekaligus menjaga nilai budaya dan kearifan lokal Bali.

“Yang perlu dijaga bukan hanya jumlah wisatawan, tetapi kualitas wisatawan dan kualitas investasi yang masuk ke Bali,” ujarnya.

***

Pewarta: Redaksi

Editor: Redaksi

COPYRIGHT © balikonten.com 2026