03/11/2026

Saka Bhoga Sevanam, Nyepi dan Ramadan dalam Satu Bingkai Kepedulian

Saka Bhoga Sevanam, Nyepi dan Ramadan dalam Satu Bingkai Kepedulian

Saka Bhoga Sevanam, Nyepi dan Ramadan dalam Satu Bingkai Kepedulian/balikonten

DNEPASAR, BALIKONTEN.COM – Senja di Denpasar, Minggu (1/3/2026), terasa berbeda. Di tengah rangkaian peringatan Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1948 dan Dharma Santi Nasional 2026, Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) serentak menggelar aksi sosial bertajuk Saka Bhoga Sevanam.

Selama satu jam, pukul 17.00–18.00 Wita, para pengurus dan relawan turun langsung ke jalan. Mereka menyapa, menyerahkan nasi kotak dan takjil kepada masyarakat, khususnya umat Muslim yang tengah menjalankan ibadah puasa Ramadan. Di Bali, sebanyak 2.600 paket makanan dibagikan, terdiri atas 1.300 nasi kotak dan 1.300 paket takjil.

Ketua PHDI Provinsi Bali, I Nyoman Kenak, menegaskan kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Nyepi dan Dharma Santi Nasional 2026 yang digelar serentak di seluruh Indonesia, dipusatkan di Bali.

“Kegiatan ini merupakan rangkaian Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1948 dan Dharma Santi Nasional sebagai bentuk kepedulian kepada sesama tanpa memandang ras, suku, maupun agama. Ini juga selaras dengan tema besar Dharma Santi Nasional, Vasudhaiva Kutumbakam, bahwa sesungguhnya kita bersaudara,” ujarnya.

Di Kota Denpasar, pembagian dipusatkan di empat titik: Taman Kota Lumintang, Pura Dalem Bungkeneng Tonja, kawasan Bundaran Renon, serta Pura Taman Sari di Simpang Enam Jalan Teuku Umar. Titik-titik ini dipilih sebagai ruang publik yang mempertemukan beragam latar belakang masyarakat.

Tema Vasudhaiva Kutumbakam bukan sekadar slogan. Frasa Sanskerta ini bermakna “dunia adalah satu keluarga,” nilai yang berakar dalam ajaran Hindu klasik. Sejumlah literatur keagamaan dan kajian filsafat Hindu, termasuk yang dipublikasikan lembaga-lembaga pendidikan keagamaan Hindu di Indonesia, menempatkan konsep ini sebagai fondasi etika sosial: bahwa relasi antarmanusia dibangun atas dasar persaudaraan universal.

Dalam konteks Indonesia yang majemuk, nilai ini sejalan dengan semangat konstitusi dan kebangsaan. Data Kementerian Agama RI menunjukkan Indonesia memiliki enam agama resmi dengan ribuan ragam budaya lokal—realitas sosial yang menuntut praktik toleransi tidak hanya dalam wacana, tetapi juga tindakan konkret.

Kenak menegaskan, Saka Bhoga Sevanam bertujuan memperkuat nilai kemanusiaan dan harmoni antarumat beragama. Semangat Nyepi yang identik dengan Catur Brata Penyepian—amati karya, amati lelungan, amati geni, dan amati lelanguan—tidak berhenti pada laku spiritual personal, tetapi meluas menjadi kesadaran sosial.

Momentum berbagi di bulan Ramadan, yang dalam ajaran Islam juga menekankan kepedulian sosial melalui zakat dan sedekah, menjadi titik temu nilai. Dua tradisi bertemu dalam satu praktik: berbagi makanan untuk mereka yang berpuasa.

Bali selama ini dikenal sebagai laboratorium toleransi. Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Bali dalam berbagai kesempatan mencatat indeks kerukunan umat beragama di Bali berada dalam kategori baik. Praktik kolaborasi lintas iman, terutama pada momentum hari besar keagamaan, menjadi bagian dari budaya sosial yang terus dirawat.

Melalui Saka Bhoga Sevanam, PHDI ingin memastikan nilai tersebut tetap hidup. Bukan hanya sebagai seremoni tahunan, tetapi sebagai komitmen berkelanjutan umat Hindu dalam menjaga keseimbangan sosial.

Di tengah dunia yang kerap terbelah oleh perbedaan, senja di Denpasar itu menghadirkan pesan sederhana: toleransi bukan sekadar wacana, melainkan tindakan. Dan dari sepiring nasi kotak serta segelas takjil, persaudaraan menemukan bentuknya yang paling nyata.

***

Pewarta: Redaksi

Editor: Redaksi

COPYRIGHT © balikonten.com 2026