09/09/2026

Akulturasi dan Persaudaraan: Tiga Tradisi Unik Muslim Bali Menyambut Ramadhan 1447 H

Culinary Journey di Bali Tampilkan Budaya Megibung

Tradisi Magibung dalam program Culinary Journey di Bali.

DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Menjelang jatuhnya 1 Ramadan 1447 Hijriah pada Kamis (19/2/2026), geliat persiapan spiritual masyarakat Muslim di Pulau Dewata mulai terasa.

Di tengah mayoritas masyarakat Hindu, umat Islam di Bali merawat harmoni melalui berbagai tradisi lokal yang memadukan nilai religius dengan kearifan budaya setempat.

Tradisi ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan fondasi sosial yang mempererat silaturahmi antarwarga. Berikut adalah tiga tradisi utama yang menjadi identitas Muslim Bali dalam menyambut bulan suci:

3 Tradisi Unik yang Hanya Ada Saat Sambut Ramadhan di Bali

1. Megengan: Wujud Syukur dan Penghormatan Leluhur

Meskipun berakar dari tradisi Jawa Timur, Megengan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari komunitas Muslim di berbagai wilayah Bali. Secara etimologi, Megengan berarti menahan diri, yang merefleksikan kesiapan batin umat untuk menahan hawa nafsu selama sebulan penuh.

Pelaksanaan Megengan biasanya berpusat di masjid atau musala setelah salat Magrib. Warga membawa sedekah berupa nasi kotak atau panganan ringan yang dikumpulkan sejak sore hari.

Ritual ini menitikberatkan pada pembacaan doa tahlil untuk para leluhur yang namanya dicatatkan pada secarik kertas. Acara kemudian ditutup dengan kenduri atau makan bersama, menciptakan suasana hangat di antara jamaah.

2. Megibung: Simbol Kebersamaan dari Karangasem

Kabupaten Karangasem memiliki tradisi makan bersama yang sangat ikonik bernama Megibung. Berasal dari kata gibung yang berarti kegiatan bersama banyak orang, tradisi ini memanifestasikan kesetaraan tanpa memandang status sosial.

Prosesi dimulai dengan gotong royong para ibu yang memasak hidangan tradisional berbahan dasar daging ayam atau sapi. Keunikan Megibung terletak pada cara makannya: jamaah duduk melingkar dalam kelompok-kelompok kecil (disebut satu sela) dan menyantap makanan dari satu wadah besar yang sama. Tradisi ini intens dilakukan baik sebelum memasuki bulan puasa maupun saat momen berbuka puasa bersama.

3. Ngaminang: Kekhasan Kampung Islam Gelgel

Bergerak ke Kabupaten Klungkung, tepatnya di Desa Gelgel, terdapat tradisi Ngaminang. Secara harfiah, Ngaminang berarti mengamini, yang merujuk pada respons jamaah terhadap doa-doa keberkahan yang dipanjatkan oleh tokoh agama.

Sama seperti Megibung, Ngaminang melibatkan penyajian makanan hasil sedekah warga desa ke masjid. Namun, aspek sentralnya adalah ritual permohonan ampunan dan keberkahan kolektif kepada Allah SWT. Setelah rangkaian doa selesai dengan seruan “Aamiin” yang serempak, jamaah menikmati hidangan dalam kelompok-kelompok untuk memperkuat tali persaudaraan atau ukhuwah Islamiyah.

Ketiga tradisi ini membuktikan bahwa identitas Muslim di Bali tumbuh subur melalui adaptasi budaya yang positif. Praktik Megengan, Megibung, dan Ngaminang menjaga api toleransi tetap menyala, sekaligus memastikan nilai-nilai luhur tersampaikan kepada generasi berikutnya.

***

Pewarta: Redaksi

Editor: Redaksi

COPYRIGHT © balikonten.com 2026

 

IKUTI KAMI DI GOOGLE NEWS UNTUK INFORMASI LEBIH UPDATE