03/11/2026

Sering Salah Kaprah, Melaksanakan Sugihan Jawa dan Bali Bukan Soal Garis Keturunan

Perbedaan Mendasar Sugihan Jawa dan Sugihan Bali, Rangkaian Galungan - Kuningan

ilustrasi gambar canang oleh Sue/ flickr/ Balikonten

DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Menjelang Hari Suci Galungan, umat Hindu di Bali mulai melaksanakan berbagai rangkaian upacara keagamaan. Salah satu yang paling krusial adalah Rahinan Sugihan Jawa dan Sugihan Bali yang jatuh pada Wraspati Wage dan Sukra Kliwon wuku Sungsang. Namun, hingga kini masih banyak masyarakat yang salah menafsirkan makna kedua rahinan ini, bahkan mengaitkannya dengan silsilah atau asal-usul garis keturunan (soroh) keluarga.

Di tengah masyarakat, kerap beredar anggapan atau “kone” (katanya) bahwa mereka yang merayakan Sugihan Jawa adalah warga yang leluhurnya dulu berasal dari Pulau Jawa atau era Majapahit. Sebaliknya, masyarakat yang hanya merayakan Sugihan Bali dianggap memiliki leluhur yang merupakan warga “Asli Bali”, “Bali Mula”, atau “Bali Aga”.

Miskonsepsi kultural ini mengaburkan esensi filosofis yang tertuang dalam susastra suci Hindu. Jika ditinjau dari aspek bahasa dan teologi, pembagian kedua hari suci ini sama sekali tidak berkaitan dengan asal-usul geografis leluhur, melainkan pembagian wilayah penyucian alam.

Sulinggih Ida Rsi Agung Bhagawan Dharma Putra Adnyana menegaskan bahwa kata “Jawa” dalam Sugihan Jawa sebenarnya berasal dari urat kata Sugi yang berarti membersihkan, dan Jaba (Jawa) yang berarti luar.
“Sugihan Jawa dimaknai sebagai hari penyucian secara sekala maupun niskala terhadap alam makro atau Bhuwana Agung,” ungkapnya.

Hal ini diperkuat oleh konsep dalam Lontar Sundarigama. Sugihan Jawa diartikan sebagai Pasucian Dewa Kalinggania pamrastista Bhatara Kabeh, yang berarti hari penyucian bagi semua Bhatara. Pada hari Wraspati Wage Sungsang yang juga disebut hari Parerebon, umat Hindu melakukan upacara rerebu atau marerebon yang bertujuan menetralisir kekuatan negatif pada alam semesta. Secara sekala, implementasinya dilakukan dengan membersihkan pelinggih dan tempat-tempat suci tempat pemujaan.

Sementara itu, sehari setelahnya adalah Sugihan Bali. Kata “Bali” di sini merujuk pada bahasa Sanskerta yang berarti kekuatan di dalam diri. Berdasarkan Lontar Sundarigama, Sugihan Bali bermakna Kalinggania amrestista raga tawulan, yang artinya menyucikan badan jasmani dan rohani masing-masing (mikrokosmos/Bhuwana Alit). Umat Hindu melaksanakan pembersihan lahir batin ini dengan memohon tirta pembersihan atau melakukan penglukatan, salah satunya menggunakan sarana bungkak nyuh gading.

Ida Rsi Agung Bhagawan Dharma Putra Adnyana menambahkan, umat dapat melaksanakan kedua rangkaian Sugihan ini, tanpa memandang sekat asal-usul. Berdasarkan susastra kuno, menjelang Galungan, Dewa Siwa dikisahkan menugaskan para Bhuta untuk turun ke bumi dan menggoda iman manusia.

“Oleh karena itu, kombinasi pembersihan Bhuwana Agung pada Sugihan Jawa dan penyucian Bhuwana Alit pada Sugihan Bali menjadi benteng spiritual agar manusia terhindar dari godaan Sang Bhuta Tiga yang dapat merugikan diri,” ujar Ida Rsi Agung.

Kendati idealnya dilaksanakan keduanya, perbedaan praktis di lapangan dinilai tidak menjadi persoalan besar. Fleksibilitas dalam Hindu tetap diakomodasi melalui konsep Desa Kala Patra (menyesuaikan tempat, waktu, dan keadaan) serta dresta atau keyakinan masing-masing keluarga. Intinya, kedua rahinan ini adalah momentum emas untuk kembali suci dan harmoni menyambut kemenangan Dharma atas Adharma.

***

Pewarta: Sukma Wilatri

Editor: Redaksi

COPYRIGHT © balikonten.com 2026