05/11/2026

Tekan Stunting dan Jaga Daya Beli, Disel Astawa Dorong Kenaikan UMP Bali Seimbang dengan Pertumbuhan Ekonomi

Tekan Stunting dan Jaga Daya Beli, Disel Astawa Dorong Kenaikan UMP Bali Seimbang dengan Pertumbuhan Ekonomi

Tekan Stunting dan Jaga Daya Beli, Disel Astawa Dorong Kenaikan UMP Bali Seimbang dengan Pertumbuhan Ekonomi/ balikonten/ gung kris

DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Di tengah tren positif indikator ekonomi Bali dengan tingkat pengangguran terbuka yang berada di angka 1,45 persen dan kemiskinan 3,42 persen, Wakil Ketua DPRD Bali I Wayan Disel Astawa menegaskan bahwa kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) Bali harus beriringan dengan peningkatan daya beli pekerja dan kemampuan dunia usaha.

Kebijakan pengupahan yang proporsional dinilai menjadi kunci utama dalam memperkuat ekonomi keluarga sekaligus menekan angka stunting melalui pemenuhan gizi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Pandangan strategis tersebut disampaikan Disel Astawa di Denpasar, Sabtu (24/10/2026). Ia menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi dan angka Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Bali tidak boleh sekadar menjadi statistik di atas kertas, melainkan harus berdampak langsung pada kesejahteraan dapur masyarakat.

“Pertumbuhan ekonomi harus bisa dirasakan langsung oleh masyarakat. Kesejahteraan pekerja perlu diperhatikan melalui peningkatan pendapatan dan daya beli, tetapi kemampuan pengusaha juga harus menjadi pertimbangan agar dunia usaha tetap berjalan berkelanjutan,” tegas Disel Astawa.

Hubungkan Kesejahteraan Pekerja dengan Penanganan Stunting

Disel Astawa menjelaskan bahwa ketahanan ekonomi keluarga memiliki kaitan erat dengan kesehatan dan kualitas sumber daya manusia Bali. Pendapatan pekerja yang memadai akan mempermudah keluarga dalam mengakses pangan bergizi, layanan kesehatan, dan pengasuhan anak secara optimal.

“Kalau ekonomi keluarga kuat, kebutuhan gizi dan kesehatan anak lebih mudah dipenuhi. Karena itu, pertumbuhan ekonomi harus berdampak nyata pada kualitas hidup masyarakat,” ujarnya.

Meski demikian, ia menambahkan bahwa upaya penanganan stunting tetap membutuhkan pendampingan komprehensif lewat sinergi program kesehatan, edukasi gizi bagi ibu hamil, dan keterlibatan aktif lintas sektor.

Tradisi Empat Anak Harus Diimbangi Kesiapan Ekonomi

Dalam kesempatan tersebut, Disel Astawa juga menanggapi imbauan pelestarian tradisi penamaan empat anak dalam budaya Bali (Wayan/Putu, Made/Kadek, Nyoman/Komang, dan Ketut). Ia menilai penjagaan identitas budaya Bali sangat penting, namun harus diimbangi dengan kesiapan finansial keluarga agar hak gizi dan pendidikan anak tetap terjamin.

“Tradisi Bali harus tetap dijaga, tetapi kesejahteraan keluarga juga penting. Jangan sampai keinginan melestarikan tradisi tidak diimbangi kemampuan memenuhi kebutuhan anak, terutama gizi dan pendidikan,” tandasnya.

Ia berharap jika gagasan pelestarian tradisi empat anak terus didorong, pemerintah daerah dan pelaku usaha dapat hadir memberikan dukungan nyata melalui perluasan jaminan sosial, akses kesehatan murah, serta kebijakan pengupahan yang memadai bagi krama Bali.

***

Pewarta: Agung Rai Tri Krisna Putra

Editor: Redaksi

COPYRIGHT © balikonten.com 2026