Tutik Kusuma Wardhani Dorong Perlindungan Menyeluruh dan Jalur Prosedural Bagi Pekerja Migran Asal Bali

Tutik Kusuma Wardhani Dorong Perlindungan Menyeluruh dan Jalur Prosedural Bagi Pekerja Migran Asal Bali/ balikonten
DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Komisi IX DPR RI menekankan pentingnya skema perlindungan menyeluruh bagi Pekerja Migran Indonesia (PMI), mulai dari pra-pemberangkatan, masa kerja di luar negeri, hingga pendampingan pasca-kepulangan.
Penegasan tersebut disampaikan anggota Komisi IX DPR RI, Tutik Kusuma Wardhani saat mendampingi Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia/Kepala BP2MI, Mukhtarudin, dalam kunjungan kerja di Poltekkes Kemenkes Denpasar, Jumat (2/10/2026).
Tutik menjelaskan bahwa pengawasan langsung DPR berfokus pada kementerian, badan teknis, dan lembaga pengirim guna memastikan seluruh regulasi perlindungan berjalan optimal. Ia mengingatkan masyarakat agar tidak mudah tergiur tawaran bekerja di luar negeri yang menggunakan jalur nonprosedural atau ilegal.
“Pesan saya, keberangkatan ini lebih baik prosedural. Jangan coba-coba tergiur dengan janji-janji manis atau iming-iming prosedur yang sangat mudah. Kita harus melalui proses agar betul-betul diri kita terlindungi,” ujar Tutik.
Terkait Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) di Bali, Anggota DPR RI dapil Bali dari Partai Demokrat ini meyakini mayoritas LPK di Bali beroperasi secara legal demi menjaga reputasi organisasi. Namun, jika ditemukan pelanggaran atau indikasi penyaluran ilegal, masyarakat diimbau untuk segera melapor ke dinas terkait.
“Kalau ada seperti itu, silakan laporkan kepada dinas ketenagakerjaan secepat mungkin. Saya yakin akan bisa diselesaikan dan saya siap untuk mengawalnya,” tegasnya.
Terkait jaminan keberlanjutan ekonomi PMI setelah tidak lagi bekerja di luar negeri, Tutik menyebut pemerintah telah menyiapkan program edukasi dan literasi keuangan. Langkah ini bertujuan agar para pahlawan devisa tidak terjebak pada pola hidup konsumtif saat kembali ke Tanah Air.
“Semua itu dilindungi dari sebelum pemberangkatan, selama ada di sana, hingga pascanya. Begitu pulang, mereka dilatih edukasi dan literasi keuangan agar jangan sampai setelah bekerja di sana menjadi konsumtif. Programnya sudah lengkap,” jelas Tutik.
***